1.

Pagi kali ini terasa sejuk, kabut tampaknya enggan untuk pergi jauh-jauh dari tanah walau matahari mulai bersinar untuk menghangatkan bumi, menghangatkan tubuh yang diterpa dingin yang menusuk hingga ke tulang dan menentramkan hati yang berdetak kencang. Suasana begitu ramai berbeda dengan minggu-minggu sebelumnya. Para pengendara mobil berusaha sabar agar kendaraan kesayangannya itu tak di serempet motor yang adu kecekatan dalam sesaknya ruang gerak disetiap jalur kendaraan.

Sebuah papan nama yang baru saja di cat ulang terlihat berdiri gagah didepan sebuah gank. Yah itulah yang menjadi petunjuk nama sekolah yang akan merubah banyak kehidupan remaja, yang baik jadi pintar, yang pintar jadi berprestasi sedangkan yang kurang pintar jadi mengerti.

Beberapa anak sekolah berpakaian putih biru datang sendiri atau diantar orang tuanya baik itu yang berjalan kaki, naik becak, naik motor bahkan ada yang diantar naik mobil. Beberpa orang berpendapat, pastilah anak-anak yang datang diantar sebuah mobil orang tuanya seorang pejabat atau paling gak seorang pengusaha.

Seorang siswa berpakaian rapih dengan tanda pengenal khusus menghentikan motor yang membonceng seorang perempuan berseragam putih biru, ”Maaf pak, khusus untuk siswa baru hanya sampai disini saja diantarnya.” Ucap siswa itu dengan sopan.

Bapak itu mengangguk dan memberikan senyumannya, ”Ayo turun, nanti diantar kakak-kakaknya ke dalam.”Ucap bapak itu kepada anaknya sambil mematikan mesin motornya.

Tak jauh dari gerbang sekolah itu seorang anak perempuan memasuki gerbang bersama seorang yang lainnya, ia mengangkat hp-nya tinggi-tinggi, ”Hai… nama gw Icalia Putri Madewa.”

“Nama gw Andina Malaya.”

Keduanya, ”Ini hari pertama kita di SMA 87.” Lalu mereka tertawa, mentertawakan diri mereka sendiri.

Dibelakang mereka, 2 orang yang menggunakan seragam yang sama dengan Ical dan Andin.

“Ngapain tuh cewe?? Ada-ada aja.” Komentar cowo yang tergolong kurus.

“Biarlah, mereka jangan dicibir nanti malah jadi temen kita loh.” Komentar yang satunya yang dibajunya bertuliskan nama Bayu Agni. Lalu mereka berdua turut masuk ke dalam halam sekolah  setelah kedua gadis didepan mereka masuk.

Seorang laki-laki duduk dibangku dekat lapangan menyulut rokoknya dan menghisapnya dalam-dalam lalu menghembuskan asapnya dengan perlahan. Ia tampak menikmati setiap hisapan dari rokok itu walaupun ia sadar betul akan resiko dari merokok.

Ia terus memandang lapangan yang dipenuhi anak-anak yang berbaris sambil sesekali ia tersenyum pada dirinya sendiri.

Seorang siswa mendekatinya, “ A’ dicari sama pak Idris.”

Laki-laki itu mematikan rokoknya dan langsung bangkit dan menjauhi siswa itu tanpa mengucapkan kata-kata.

* * *

Pintu diketuk tiga kali.

“Hahaha…gw baru sadar kalo dulu kita suka bikin hal-hal konyol yah.” Tawa Andin membahana dikamar Ical.

“Waduh ada keributan apa ini?” Tanya kekek yang tiba-tiba nongol dipintu kamar Ical.

“Gak ribut kok kek, kita cuma inget waktu pertama kali masuk sekolah kek. Pokoknya lucu banget deh, Kek.” Andin melanjutkan tawanya.

Kakek tersenyum melihat 2 orang cucunya terlihat bahagia, “Gimana kabar eks…apa namanya cah ayu?” Kakek memandang Ical, menunggu jawaban.

“Ekskul maksudnya?”

“Ya betul, gimana kabarnya, kalian sudah jarang cerita ke kakek.”

“Lumayan asik  kek, walau kadang ngebosenin, yah tapi itukan dah biasa asal kitanya bisa nyari suasana enak pasti asik.” Andin tampak bersemangat.

“Syukurlah kalian merasa senang ngejalaninnya, guru kalian sudah tau?” kakek duduk diantara Ical dan Andin.

Andin cengengesan sambil garuk-garuk kepala, “Udah, gara-gara kita kemarin disuruh fight tapi karena seri jadi gak ada yang berhasil dapet point malah dipanggil n ditanyai sama kak Maha” Andin cengengesan, ”Yah udah karena terpojok kita ngaku kalo belajar silat dari kakek.” Andin mengambil cemilan dan memasukkannya ke mulut.

“Guru kalian menanggapi apa?” Kakek memandang keduanya bergantian.

Ical melirik ke arah Andin, mereka berdua saling menatap. Akhirnya Ical angkat bicara, ”Kata kak Maha kita gak boleh bilang siapa-siapa dulu, belum waktunya. Andin gak tau maksud dari omongannya. Seharusnya dia seneng dong punya anak murid yang punya kemampuan lebih.” Ical menatap kakek serius.

Kakek tersenyum, “Artinya guru kalian itu ndak ingin menganak tirikan yang lain, dia ndak ingin ada kecemburuan  diantara kalian, tapi kakek yakin nanti dia sendiri yang akan mengenalkan siapa diri kalian.”

“Kalo kaya gitu Andin jadi tenang deh kek, jadi gak akan malu kalo latihan sama kak Maha, iyakan Cal?” Andin menatap Ical sambil tersenyum.

“Yes you right.” Kakek celingukan karena gak ngerti bahasanya Ical.

“Bagaimana dengan temen-teman kalian, kalian sudah dapat teman yang baik?” Kakek mengambil biscuit di toples, kakek Ical memang senang sekali dengan biskuit dari pertama kali ia mencobanya

“Baru kenal, belom akrab banget sih.” Andin melirik Ical sambil tersenyum tapi tampaknya Ical tak melihat hal itu karena Ical sedang membals sms temannya, “Kek, Ical kan deket sama cowo loh, namanya Han. Padahal kalo Andin liat dan terawang, Han itu orangnya nyebelin sekaligus jailnya minta ditabok.” Andin melirik kepada Ical yang masih tampak tenang.

“Huh…bisanya ngejelekin aja, jangan-jangan lo lagi yang suka, iyakan Kek? Kalo gak suka yah apa namanya? Pake nerawang dia segala lagi.” Ical terkekeh melihat Andin yang manyun.

“Sudah-sudah kalian jangan berantem, kakek berdoa semoga siapapun yang menjadi teman kalian adalah orang-orang yang bisa mengerti dan menyayangi kalian.” Kakek mengangkat tangannya dan mengusap wajahnya.

“Amin…” Andin dan Ical turut mengusap muka mereka.             “Semoga doa kakek manjur.”

* * *

Keesokannya di sekolah.

“Ih nyebelin banget tuh anak, maunya apa sih?” Andin menjatuhkan dirinya di kursi taman.

“Lo kenapa Din?” Tanya Fika teman sebangku Andin yang terheran-heran karena ia belum pernah sama sekali melihat Andin bertampang Bt padahal udah lewat 1 semester ia jadi teman sebangkunya Andin.

Andin hanya diam dan melipat mukanya. Ia memejamkan mata lalu bayangan seseorang datang didalam kegelapan. Andin membuka matanya dengan wajah kaget. Seorang cowo melintas didepannya ikut kaget.

Andin bangkit dan langsung berlari ke arah lapangan. Laki-laki itu mengejar Andin.

“Eh kenapa lo lari pas ngeliat gw?” Cowo itu menarik bahu Andin, Andin langsung memutar tubuhnya dan mencengkram tangan laki-laki yang bernama Bayu itu. “Hebat juga.” Tak ada ekspresi kaget pada wajah Bayu.

“Apa peduli lo? Sana lo pergi jangan deket-deket gw, ngeliat lo bikin gw pengen muntah tau!” Ucap Andin setengah berteriak lalu kembali meneruskan jalannya yang terhenti tadi.

Bayu gak mengejarnya lagi dan hanya menatap punggung Andin. Ia tersenyum.

Berbeda dengan Andin yang masih suka judes dengan laki-laki, Ical justru sudah mendapat temen cowok salah satunya Berry, cowo yang sebenernya pinter tapi kalo grogi suka gak bisa mikir n jadi telmi alias telat mikir.

“Cal, hp yu ada sms nih?” Teriak Gema teman sebangku Ical dari dalam kelas.

“Tunggu yah Ber.” Ical masuk dan mengambil Hp-nya yang ada di Gema. Ical membuka Hpnya dan tertawa.

Berry menghampiri Ical, “Lucu banget ketawanya, sms dari siapa sih?” Berry mencoba curi baca sms di Hp ical.

“Ups…gak boleh liat, ini pribadi tau.” Ical pergi keluar kelas dan membiarkan Berry yang masih berdiri ditempatnya tadi memandang Ical pergi lalu ia menuju tempat duduknya yang berada dibarisan 3 dari belakang..

Di mushola yang masih tampak ramai oleh anak-anak yang sholat ashar. Ical duduk disamping Andin dan membuka sepatunya. ”Ada apa sih mbak Andin?”

“Tar aja gw ceritanya, lo solat dulu.” Andin mencoba menenangkan diri.

“Ya udah, tungguin gw sholat yah.” Ical mengacak-acak rambut Andin. Andin tak memperdulikannya rambutnya yang kini agak berantakan.

Ical solat ashar sedangkan Andin dengan santai mencoba melupakan masalahnya dengan Bayu sang singa. Yah begitulah Andin menjulukinya, menggemaskan tapi juga buas luar biasa.

Dalam keheningan suara Andin, Ical telah duduk disamping Andin kembali, ”Woi siang-siang gini bengong, lo mau cerita apa?”

“Gw sebel banget sama tuh cowo!” Andin memanyunkan bibirnya.

“Bayu?”Ical memandang Andin serius.

“Ih…jangan sebut namanya, lo tau sendiri kalo dia itu famous banget disini.” Andin menengok ke kanan kiri mungkin aja ada yang curi dengar omongan mereka.

“Iya deh, tapi ada apa? Biasanya lo gak ambil pusing tentang dia.”

“Dia itu ngeselin banget, gw kalah suara sama dia.” Andin merengek mau nangis.

“Cup…cup…cup…gitu aja pake mau nangis segala, biarin aja lah. Tadinya sangka gw, lo mau cerita kalo lo itu ditembak sama dia.” Ical terkekeh sendiri.

“Ih jahat, gw juga ogah pacaran sama cowok super sombong kaya dia.” Andin tampak merasa jijik sambil membayangkan dirinya diminta oleh Bayu untuk jadi pacarnya.

“Nanti lo beneran jadian sama dia loh!” Ical melirik Andin lalu tertawa, ”Becanda kali…Udah ambil positifnya aja, lo kan gak jadi sibuk banget kalo jabatan itu di ambil sama dia.” Ical mulai memakai sepatunya.

Andin gak ngasih komentar dan turut memakai sepatunya.

“Tar malam lo datengkan?” Ical berdiri dan melihat keadaan sekeliling musholah kali aja nemu cowo ganteng maklum kan anak baru, hehehe…

“Gw langsung ke rumah lo aja, biar baju latihannya minta dianterin sama pak Suman.” Jawab Andin sambil terus memakai sepatunya.

Andin dan Ical berjalan menuju kelas, melewati lapangan yang dipenuhi anak-anak yang bermain basket atau sekedar nonton doang. “Din, gw jadi penasaran, Bayu tuh yang mana sih?”

“Ah tar juga lo tau, jangan ngomongin dia lagi ah, males tau.” Andin merangkul Ical.

“Awas kalo lo yang mulai duluan ngebahas dia, tapi lo belum cerita yang detail soal kekalahan di pemilu kemaren. Satu lagi, jangan keseringan ngerangkul gw kaya gini, disangka gw lesbi lagi.”

“Sial lo…emangnya gw ada tampang lesbi apa!” Andin belok ke kelasnya sedangkan Ical masih harus melewati 3 kelas lagi. Sebelum Ical sampai dikelasnya Berry sudah mencegatnya.

“Ikut gw ke kantin yuk!” Ucap Berry seraya menarik tangan Ical.

“Udah mau masuk tau!” Ical melepaskan tarikan tangan Berry.

“Gurunya gak ada jadi istirahatnya diperpanjang, lagian cuma sebentar kok.” Ical pasrah ditarik Berry kekantin.

“Lo mau ngapain sih?” Ical segera melepaskan genggaman tangan Berry ketika ia sadar hampir semua penghuni kantin memandang mereka.

“Kita ngobrol bentar aja.” Berry melipat tangannya dan memohon kepada Ical.

“Kenapa gak dikelas aja?”

Berry tak menjawab malah mencari tempat duduk yang cukup sepi dan mengajak Ical untuk duduk.

Berry mulai bicara, “Cal lo ikut ekskul silat kan?”

“Iya.”

“Apa namanya?”

“Selat Bintang, emangnya kenapa? Lo mau gabung? Masih buka kok pendaftarannya.”

“Em…gimana yah, eh cerita dong pengalaman lo selama ini latihan silat?”

“Em…cerita apa yah?” Ical tampak berfikir soalnya tangannya mengusap-usap keningnya. “Susah ceritanya!”

“Gw aja yang nanya, lo udah ngapain aja di Selat Bintang itu?” Berry menatap Ical dalam, entah menunggu jawaban Ical atau ingin memikat hatinya Ical.

“Banyak sih…gw diajarin tehnik tarung khas silat yah pokoknya gitu deh.” Ical jadi bingung mau ngomong apa, soalnya Berry terus menatapnya.

“Ada tenaga dalamnya juga kan?” Mata Berry tampak berbinar-binar. Yah memang matanya Berry selalu seperti itu kalo lagi berduaan sama Ical.

“Yah baru diajarin tehnik dasarnya doang sih? Emangnya kenapa, lo tertarik sama tenaga dalam?” Ical berusaha mengalihkan pandangannya dari Berry.

“Em…ya ampun sampe lupa nawarin lo minum, lo mau minum apa? Gw yang traktir kok?”

“Air mineral aja deh, eh lo belom jawab pertanyaan gw?” Ical menarik Berry yang hendak bangkit untuk memesan minuman.

Akhirnya Berry memilih untuk duduk dan meneriaki pesananya dari tempat duduknya.”Gw cuman pengen tau aja.” Jawab Berry pelan.

“Lo pasti bohong? Sebenarnya apa sih yang lo sembunyiin? Tadi lo datang dengan baju gak rapih, tumben banget. Lo pasti lagi ada masalah kan?”

“Gak ada apa-apa kok.” Berry garu-garuk kepala mencoba menghilangkan rasa kagetnya dengan pertanyaan Ical.

“Lo pasti bohong, kebaca tau.” Kini giliran Ical yang memandangnya dengan lembut, tambah membuat Berry salah tingkah.

“Kebaca? Kebaca darimana?”

“Dari mata lo, yah mungkin lo gak percaya kalo gw ngerasa beda aja tadi pas lo baru datang apalagi pas gw sapa eh lo malah ngeloyor pergi, lagi juga lo tumben banget gak nanya ada PR, biasanya lo rutin nanyain PR.” Ical menengok kebelakang karena ia merasa ada yang memperhatikannya.

“Gak ada apa-apa kok… ya udahlah lain kali aja ceritanya. Eh terusin dong tentang tenaga dalam.”

Ical melihat-lihat keadaan sekitar sebelum menjawab pertanyaan Berry.  “Banyak pertentangan tentang tenaga dalam, arti tenaga dalam itu sendiri, tekniknya, penalarannya. Ya pokoknya tenaga dalam ntu sesuatu yang abstrak deh.”

“Cuman segitu doang yang lo tau?”

“Yah enggaklah, tenaga dalam itu tenaga tersembunyi biasanya keluar sewaktu-waktu apalagi kalo kita lagi terdesak contohnya waktu lo sama Obby yang dikejar anjing, kenceng banget tuh larinya padahal kalo disuruh lari sama pak Hendra lo larinya pelan banget.”

“Maksud lo? Itu namanya menghina gw.”

“Bercanda kali, fungsi tenaga dalam itu banyak loh, selain bisa buat pelindung diri sendiri tenaga dalam juga bisa buat pengobatan. Tapi tetep aja badannya juga harus sehat.” Ical mengangguk-angguk mencoba meyakinkan Berry tentang penjelasannya. “Ah percuma cerita banyak sama lo…”

Seseorang datang membawakan pesanan Berry.

“Percuma kenapa Cal?”

“Lo aja gak cerita ada apa, kenapa ngajak gw kesini, buat apa gw cerita panjang lebar sama lo.” Ical menegak air mineralnya.

“Maksud lo?”

“Lo nyembunyiin sesuatu kan? Gak usah bohong deh.” Ical melihat jarum jam di jan tangannya, “Udah yuk ngobrolnya dikelas aja.”

“Cal tunggu,” Berry menatap Ical sekali lagi, “Gw mau nanya sama lo. Kalo kita digosipin pacaran, lo marah gak?”

“Gosip apaan tuh, gak mutu banget.” Ical tertawa pelan.

“Gw serius emangnya lo gak sadar kalo temen-temen suka ngomongin kita?”

Ical mencoba mengigat gelagat aneh dari teman-teman sekelasnya, “Mereka cemburu aja kali, udah ah jangan dibahas lagi, makasih yah minumannya.” Ical meninggalkan Berry sendiri.

Anjrit…gw digosipin pacaran sama Berry? Apa gak salah tuh? Udah kehabisan ide kali para pembuat gossip. Tapi kok bisa ada gossip kaya gitu yah? Apa  gw terlalu deket sama Berry? Batin Ical bertanya-tanya sendiri.

* * *

Setelah sholat Isya dengan kakek sebagai imamnya, Ical dan Andin segera mengganti pakaian dengan baju latihan yang baru saja diantar pak Suman, supir Andin. Baju latihan yang dibuat sendiri oleh kakek beberpa tahun lalu, baju latihan mereka yang sepasang ukurannya selalu pas buat mereka padahal udah lebih dari 5 tahun. Tapi belakangan ini mereka dengar dari Paun bahwa ada baju ketiga yang sama persis dengan kedua baju itu.

Buk…punggung Ical terkena hantaman target yang berada ditangan kakek, “Mikirin apa toh? Mau diterusin latihannya apa mau berhenti saja.” Omel kakek kepada Ical yang dari tadi bengong.

“Maaf kek.”

“Ayo kamu push up karena tidak serius latihannya, ndak usah banyak-banyak 50 aja.” Ucap kakek dengan nada datar tapi perkataan kakek itu membuat Ical tertegun dan Andin terkekeh.

“Kamu juga Andin, ndak menghargai teman, teman kamu sedang dihukum kamu malah mentertawakannya, kamu juga harus dihukum.” Kini kakek melotot pada Andin.

“Ical lakukan setengahnya dan sisanya bagian Andin.” Perintah kakek tegas lalu kakek membiarkan mereka berdua melakukan hukumannya, kakek masuk ke dalam.

“Wah besok gak bisa nulis kita kalo dapat hukuman push up terus.” Keluh Andin.

“Udah ah jangan ngeluh terus, yuk mulai 1…2…” Ical mulai menghitung sampai hitungan ke-25. Setelah mereka selesai melaksanakan hukuman yang gak seberapa itu kakek kembali membawa 3 buah gelas dan sebuah teko.

“Ayo kita istirahat saja dulu, kita minum wedang jahe.” Kakek duduk ditengah lapangan yang dikelilingi tanaman aneka jenis.

Andin dan Ical duduk disamping Kakek, Kakek menuangkan wedang jahe ke gelas dan membagikannya kepada mereka. “Dimanapun dan dari manapun silat itu tetaplah sama, bukan untuk menyombongkan diri tapi sebagai alat untuk menyadarkan kita.”

Andin dan Ical mendengarkan dengan serius.

“Menyadarkan kita bahwa alam ini bukan milik kita, menyadarkan kita bahwa kita ini bukanlah milik kita juga. Hanya Allah sang penguasa jagat raya yang berhak atas diri kita ini.” Kakek menegak minuman favoritnya. “Di perguruan manapun pasti diajarkan untuk saling melindungi, mengingatkan dan berbagi rasa antar anggota perguruan, benar Andin?”

Andin menganguk, “Andin tau tapi sering melanggarnya, Andin sering menertawakan Ical atau siapapun yang terkena hukuman, “maaf kek.” Andin memandang wajah kakek yang sebenarnya bukanlah kakeknya.

“Kek maafin Ical juga yah, hari ini latihannya gak serius.” Ical menundukkan kepalanya karena merasa bersalah.

“Sebenarnya ada apa toh Cal?” Kakek mulai meminum wedang jahenya.

“Tadi…tadi temenku tanya kalo aku sama dia digosipin pacaran, aku marah apa enggak?” Ucap Ical hati-hati.

Brur…Andin menyemburkan wedang jahe dari mulutnya kearah samping kanan, untung bukan kerah depan atau ke arah kiri yang ada Ical dan Kakek kalau hal itu terjadi siap-siap saja Andin kena balasnya, “Gw gak salah dengar Cal? Siapa yang gosipin lo kaya gitu? Sumpah kreatif banget tuh orang.”

Ical memukul paha Andin sambil melototkan matanya tapi Andin malah ketawa ngakak.

“Sudah…sudah…jangan bercanda, Trus kamu jawab apa?” Tanya kakek serius.

“Ical gak jawab, Ical pikir itu cuma pertanyaan iseng aja dari dia. Eh pas Ical tanya sama Gema teman sebangku Ical, gak taunya gosip itu emang udah tersebar.” Ical garuk-garuk kepala karena malu.

“Aku tau kek nama cowonya siapa, pasti Berry kan? Hayo ngaku aja deh, gimana gak diterpa gosip kau, tiap hari selalu berduaan sama dia.” Komentar Andin sambil meminum wedang jahenya yang masih cukup panas.

“Wah ternyata cucu kakek yang satu ini sudah remaja yah, kakek jadi terharu.” Kakek mengelus-elus kepala Ical.

“Kok kakek malah terharu sih bukannya kasih Ical saran bagaimana Ical harus bersikap.” Ical memanyunkan bibirnya.

“Kamu suka sama dia?” Tanya kekek sambil memandang mata Ical.

Ical menggeleng, “Maksudnya, Ical gak tau suka apa enggak, Ical cuman selalu merasa aneh aja kalo deket dia. Nyaman, akrab tapi kadang grogi juga dan satu hal yang Ical suka dari dia, tatapannya yang penuh misteri beda aja sama tatapan cowo lain.” Ical menunggu tanggapan dari kakeknya.

“Kakek ndak tau itu perasaan apa, mungkin hanya rasa nyaman atau kamu benar-benar …” Kakek menahan kata-katanya.

“Suka sama dia!” Cetus Andin semangat lalu tertawa.

“Mungkin saja, tapi rasa suka tak selalu seperti itu, kadang kita selalu ingin bersaing dengannya atau bahkan bertengkar dengannya.” Ucap Kakek serius sambil melirik Andin dan Andin menghentikan tawanya bukan karena lirikan Kakek tapi ia sadar dengan yang kata-kata kakek baru saja ia dengar .

“Masa ada rasa suka yang seperti itu sih?” Tanya Andin serius.

“Mungkin saja.” Kakek bangkit, “Kita lanjutkan latihannya, ayo nanti kita kemalaman.” Kakek melemaskan badannya.

Karena penjelasan Kakek tadi sekarang bukan hanya Ical saja yang merasa bingung dengan perasaanya Andin pun sebenarnya merasakan hal itu kalo deket sama Bayu, nyaman, grogi, seneng, kesel yah pokoknya campur aduklah.

Walau hati mereka sedang tak nyaman mereka tetap melaksanakan latihan malam itu dengan semangat. Mereka trus mengulang-ulang gerakan silat yang pernah diajari kakeknya, sedangkan kakeknya hanya memperhatikan gerakan mereka dan mengkoreksi kesalahan mereka. Setidaknya dengan berlatih silat mereka membuang sedikit rasa cemas itu dari dalam hati.

* * *

Minggu pagi Ical yang masih merasa mengantuk terpaksa bangun karena kakek membangunkan mereka untuk sholat subuh. Andin lebih sulit lagi dibangunkan, semakin kakek bersikeras membangunkannya ia semakin rapat menutup tubuhnya dengan selimut.

“Andin ayo kita sholat shubuh dulu baru nanti kita jalan-jalan pagi.” Ucap Kakek sambil mengguncang tubuh Andin.

Ical yang sudah mengambil air wudlu menarik selimut Andin dan menyipratkan air ke muka Andin. “Ayo bangun pemalas.”

Andin memonyongkan bibirnya, ia menatap tak senang ke arah Ical tapi begitu melihat Kakek tersenyum padanya ia segera bangun dan berjalan ke kamar mandi.

“Kakek tunggu diruang sholat yah.” Kakek keluar kamar yang disusul oleh Ical.

Pagi itu kakek, Ical, Andin dan Paun berjaln-jalan disekitar komplek rumah Ical.

“Kakek, Paun mau juga diajar silat oleh kakek.” Ucap Paun polos yang baru berumur 5 tahun itu.

“Kamu tuh masih kecil, gak usah sok mau dijarin silat, yang ada kamu kalo disuruh push up malah nangis lagi.” Ucap Andin ketus.

“Ih kak Andin kok ngomong kaya gitu sih?” Paun melipat mukanya, “Paun gak akan nangis kok kek kalo nanti di suruh push up, Paun janji.” Paun menatap kakeknya serius.

Ical geleng-geleng kepala saja mendengar ocehan adik satu-satunya itu.

“Baik kalau Paun janji gak nangis nanti kakek ajarin silat juga.” Kekek membuasai kepala Paun.

“Asik, tapi nanti seragam yang ada dilemari kakek, buat Paun yah?”

“Dari mana kamu tau kalo kakek punya 1 seragam lagi?” Tanya kakek sambil menghentikan langkahnya.

Andin dan Ical turut berhenti berjalan dan mendengarkan seksama pengakuan Paun.

“Aku pernah lihat kakek menangis sambil meluk seragam latihan itu.” Ucap Paun pelan, “Paun minta maaf kakek kalo Paun mengintip.”

Kakek tersenyum pada Paun, “Kakek maafkan perbuatanmu tapi jangan diulangi yah.”

Paun mengangguk dengan semangat.

“Tapi maaf Paun, seragam itu bukan untuk Paun, nanti kakek akan membuatkan yang baru untuk Paun.”

“Iya.” Paun tersenyum puas. Begitu juga dengan Andin, Ical dan kakek.

Jauh didalam hati Ical muncul sebuah pertanyaan, punya siapa atau untuk siapa baju latihan itu, kenapa selama ini kakek tak pernah memberi tahukan perihal baju latihan itu. Ical menyimpan pertanyaan itu untuk dirinya sendiri.

Pak Hasan, supir yang umurnya tak jauh dari umur kakeknya ternyata sudah menunggu mereka di depan gerbang komplek rumah Ical bersama seseorang.

“Oh ini anakmu yang baru datang dari sumatra itu?” Tanya Kakek sambil mengulurkan tangan kepada anak muda dihadapannya.

Pak Hasan mengangguk dan tersenyum, “Kenalkan ini Kakek Halim tapi panggil saja kakek, ini cucunya Ical, Andin dan Paun. Mereka adalah anak-anak keluarga Madewa.” Pak Hasan memperkenalkan mereka kepada anak laki-lakinya.

“Nama saya Wintara, panggil saja Winta.” Ucap Winta sambil memamerkan lesung pipinya.

“Ayo kita segera saja kesana.” Ucap Kakek sambil membuka pintu tengah mobil lalu menaikkan Paun. “Kau dan anakmu duduk lah didepan biar kami dibelakang.”

“Baik,” Ucap Pak Hasan.

Kali ini bukan Pak Hasan yang mengendarai mobil itu tapi Winta anaknya. Ical belum tahu kalau mulai besok Winta yang menggantikan tugas ayahnya sedangkan ayahnya hanya bantu-bantu saja dirumah Ical.

“Kita mau kemana?” Tanya Andin penasaran.

“Kita jalan-jalan yang agak jauh yah, kakek ingin mengunjungi seorang teman yang sedang sakit.” Kakek memberi senyum pada Andin.

“Tapi aku belum mandi kek.”Ucap Andin dan Ical berbisik.

“Siapa yang tahu kalo parfum kalian menyengat seperti ini.” Kakek terkekeh.

Andin dan Ical menghela napas saja.

“Pantas dari tadi ada bau-bau tak sedap.” Goda Paun kepada Andin dan Ical.

“Eh biar pun pagi ini belum mandi tapi semalam sebelum tidur kita udah mandi tau.” Ucap Ical agak kesal.

“Iya mandi keringat.” Paun semakin menggoda mereka.

“Hei kalian jangan berantem.” Ucapan kakek membungkam mulut-mulut jail mereka. “Winta kau sudah tau jalannya ke arah mana?”

“Sudah kek, tadi ayah sudah memberi tahu.” Ucap Winta sopan.

Ditengah perjalanan kakek memberi usul untuk berhenti disebuah pasar tradisional untuk membeli kue-kue tradisional sebagi sarapan mereka pagi itu. Ical dan Andin yang sebenarnya dari tadi sudah merasa lapar segera melahap kue-kue itu dengan nikmatnya, Paun juga turut menghabiskan kue-kue itu, mereka menikmati sarapan kali itu dengan tertawa dan bercanda.

Winta menghentikan mobilnya disebuah gank sempit. Mereka semua turun dan langsung melihat keadaan sekitar, keadaan tempat itu sungguh mengenaskan, tak ada tanda kelayakan untuk ditempati manusia yang tak waras sekalipun.

Kakek menggandeng Paun yang berjalan sambil menutup hidungnya karena tak tahan dengan bau sampah, Paun tak mengeluh karena ia selalu diingatkan oleh kakeknya untuk tidak mengeluhkan sesuatu bila tak bisa memperbaiki keadaan tersebut. Ical dan Andin berjalan dibelakang kakek.

“Pak Hasan mana?” Tanya Andin sambil menengok ke arah belakang.

Ical menghentikan langkahnya dan mengangkat bahunya, “Mungkin masih di mobil.”

Ketika Ical hendak berjalan menyusul kakeknya, Andin menarik tangannya.

“Kita bantuin pak Hasan.” Andin segera berlari menyongsong pak Hasan yang membawa sebuah kotak.

“Biar Andin yang bawa.” Andin mengulurkan kedua tangannya.

“Kalian jalan saja duluan atau bantu Winta membawa beberapa barang lagi.” Ucap pak Hasan sambil tersenyum lalu berjalan menyusul kakek.

Andin dan Ical akhirnya membantu Winta mkembawa beberapa bungkusan plastik.

“Kami harus panggil apa?” Tanya Ical kepada Winta.

“Aku baru selesai SMA, jadi panggil aku kakak atau mas aja.”

“Mas Winta? Seperti itu?” Andin memastikan Winta mengangguk.

“Iya.”

Pak Hasan menengok kebelakang dan memanggil Winta untuk berjalan lebih cepat.

Kakek dan Paun telah sampai disebuah rumah yang disebelahnya ada sebuah lapangan yang tidak terlalu besar.

“Kenalkan ini kedua cucuku yang lainnya, ini  Ical dan yang ini Andin.” Kakek memperkenalkan mereka berdua kepada seorang laki-laki sebaya kakek yang menggunakan pakaian yang cukup tebal.

“Sedang yang ini anakku Wintara.” Pak Hasan memperkenalkan Winta dengan bangga.

“Anakmu segagah kau waktu muda dulu.” Puji laki-laki teman kakek. “Mari masuk, maaf bila keadaan rumahku tak berkenan di hati kalian.”

Kakek bersama Paun mengikuti tuan rumah.

“Pak…itu temannya kakek? Namanya siapa?” Tanya Ical pada pak Hasan.

“Namanya Wardi. Ia dulu teman seperguruan kakekmu.” Jelas pak Hasan. Ical dan Andin menganggukan kepalanya tanda mengerti lalu mereka semua masuk menyusul kakek dan Paun.

Didalam ruang tamu yang hanya tersedia sebuah tikar anyaman kakek dan Paun duduk. Ical dan Andin duduk disebelah kakek. Ical tak melihat temannya kakek dan Ical hanya berfikir mungkin hanya mengambilkan minum dan tepat pikirannya, laki-laki yang juga telah pantas dipanggil kakek keluar membawa beberapa gelas serta sebuah teko. Winta yang berada paling dekat denga temannya kakek segera membantu membawa nampan itu.

“Maaf dirumahku tak tersedia hidangan yang layak.” Ucap kakek Wardi yang terus merendah diri.

Kakek tersenyum pada temannya, “Kami kemari bukan untuk merepotkanmu. Bagaimana dengan kesehatanmu?”

“Yah beginilah keadaanku, mungkin tak lama lagi aku menyusul mendiang istriku.” Kakek Wardi mengucapkan kalimat itu sambil tersenyum sepertinya ia tak takut akan kematian saja.

“Kita memang sudah tua tapi tak pantas juga kita berbicara seperti itu karena hanya tuhanlah yang pantas berbicara tentang kematian.” Ucap kakek sambil menuangkan air dari teko ke gelas dan memberikannya kepada Paun. “Sudah kau periksakan penyakitmu itu?”

Kakek Wardi menggelengkan kepalanya, “Tak sanggup aku membayar biaya berobat dan aku tak ingin menyusahkan anak dan menantuku.”

Kakek tersenyum padanya, “Kau tak berubah sama sekali, jangan kau sepelekan penyakitmu nanti kau sendiri yang merasakan penderitaannya. Ini aku bawakan beberapa kebutuhan sembako dan beberapa pakaian untukmu dan keluargamu. Semoga kau berkenan menerimanya, terimalah ini sebagai tanda kau masih mengakuiku sebagai sahabat.”

“Sampai kapan pun kau tetaplah sahabatpun, tanpa kau membawa semua ini kau tetap sahabatku.” Kakek Wardi tersnyum lagi lalu kemudian terbatuk.

“Jangan kau tolak, terimalah bagaimanapun juga ini untuk kebaikan kau dan keluargamu, berobatlah kedokter nanti biar aku yang membiayainya.” Kakek terus memaksa kakek Wardi untuk menerima barang-barang yang telah dibawa dan memaksa kakek Wardi untuk memeriksakan penyakitnya ke dokter.

“Tak usah repot kau membiayai aku untuk ke dokter sebaiknya simpan saja uangmu untuk cucu-cucumu ini.” Kakek Wardi tersenyum pada Paun.

“Kakek gak boleh gak mau ke dokter, pak dokternya baik kok, waktu Paun diperiksa Paun dikasih susu. Kakek gak usah takut disuntik sama dokter, Paun aja berani masak kakek gak berani.” Celoteh Paun dengan polosnya, semua tertawa mendengar celotehan Paun.

“Kau mau mengecewakan cucuku yang sudah memanggilmu kakek?” Tanya Kakek serius.

“Baik nanti aku akan ke dokter.” Ucap kakek Wardi yang kemudian memindahkan Paun kepangkuannya.

“Jangan nanti kek, sekarang saja, naik mobil.” Celotehan paun membuat kakek Wardi mengangguk dan tersenyum bahagia.

“Jangan ditunda lagi, sekarang saja, biar kita tak pulang siang-siang. Nanti kedua cucuku ini harus latihan silat.” Ucap Kakek.

“Wah cucu-cucumu ini ternyata mewarisi kegemaranmu juga yah.” Kakek Wardi memandang Ical dan Andin yang tersipu malu-malu, “Baik aku berganti pakaian dahulu.”

Berkat omongan Paun yang lugu, kakek Wardi bersedia ke dokter untuk memeriksakan dirinya. Bersyukur juga mereka karena kakek Wardi segera memeriksakan kesehatannya karena tampaknya penyakitnya sudah parah hanya saja kakek Wardi tak merasakan dan tak memperlihatkan sakitnya.

* * *

“Tumben lo telat?” Tanya Han yang sudah mengenakan seragam latihan.

“Tadi ke dokter dulu nganter temannya kakek berobat.” Ucap Ical sambil mengeluarkan seragam latihannya dari dalam tas, “Titip tas yah.” berlari ke kamar ganti untuk mengganti baju yang kini ia kenakan dangen seragam latihan.

Andin dan Ical keluar dari kamar ganti.

“Untung kita gak telat-telat banget yah.” Ucap Andin semberi berjalan.

“Sepi yah hari ini.” Ical menghela napas panjang.

“Kira-kira siapa yah yang nantinya masih nerusin latihan?” Andin bertanya pada Ical.

Ical tak bisa menjawab hal itu, “Entahlah.”

Jam 3 sore tepat, semua sudah berbaris walau tak ada yang memberi komando pada mereka.

“Ayo siapa yang mau pimpin pemanasan?” Teriak Ical sambil memperhatikan semua yang datang untuk latihan hari itu.

Semua saling melihat satu sama lain.

“Ayo jangan cuma liat kanan kiri dong, cowok kan seharusnya yang mimpin.” Ucap Andin setengah berteriak.

“Ya udah biar gw aja yang mimpin pemanasan, gak ada yang keberatan kan?” Tanya Jihad sambil maju ke dapan barisan.

“Ya udah gak apa-apa Had lo yang pimpin pemanasan yang penting kita latihan.” Ucap Han lantang.

“Baik sebelum kita memulai latihan mari kita berdoa, berdoa mulai.” Semua menundukkan kepala dan berdoa. Tak lama ”Berdoa selesai.” Semua mengangkat kepalanya lagi dan bersiap untuk pemanasan. “Ayo kita gerakkan kepala ke kanan dan kekiri, mulai berhitung.” Pemanasan dimulai dengan melenturkan semua anggota tubuh baru kemudian mereka berlari sebanyak sepuluh putaran lapangan, setelah mengatur napas dan menunggu sejenak kedatangan senior mereka memutuskan untuk melatih beberapa gerakan silat dahulu.

Sudah hampir jam 4 sore tapi semua senior belum juga menampakkan wajahnya, jangankan semua satu saja senior belum ada yang datang.

Mereka semua duduk ditengah lapangan dan membuat lingkaran, “Bagaimana ini tak ada seorang senior pun datang? Bagaimana kita mau latihan kalo gak ada yang ngajarin.” Keluh Han.

Semua terdiam dan mencoba berfikir.

Tiba-tiba Suhai angkat bicara, “Mau ada senior atau gak ada senior kita harus tetep latihan, kita bisa latihan apa yang udah dikasih ke kita selama ini dan mumpung gak ada senior kita juga lebih bisa santai latihannya sambil ngebenerin gerakan-garakan kita selama ini. Gimana?”

Semua mengangguk.

“Oke siapa takut.” Ucap Jihad semangat.

Karena tadi yang memimpin pemanasan itu Jihad maka kini ia juga yang megang aba-aba untuk melakukan gerakan silat. Mereka dengan bebas mengumbar senyum dan tawa diantara keseriusan mereka melakukan gerakan silat, bahkan kadang mereka tertawa terbahak-bahak karena ada beberapa teman mereka yang melucu didepan barisan.

“Eh kita adain tarung kecil-kecilan yuk?” Usul Edy salah seorang teman mereka yang bertubuh besar.

“Tarung kecil-kecilan? Badan lo aja gede gitu maunya tarung kecil-kecil.” Celetuk Han yang kemudian membuat mereka semua tertawa termasuk Edy.

“Bukan gitu maksud gw, kita latihan tarung berpasangan kaya yang pernah diajarin kak Maha dulu.” Edy menjelaskan maksudnya.

“Oh gitu toh maksudnya, ngomong dong dari tadi.” Ucap yang lainnya sambil segera mencari pasangan.

“Oke semua udah dapet pasangankan? Sekarang kita mau latihan apa dulu?” Tanya Jihad.

“Tendangan dan tangkisan.” Usul Andin.

“Oke boleh tuh, kita mulai yah tendangan dan tangkisan 1.” Teriak Jihad memberitahukan gerakan yang harus mereka lakukan. Tendangan dan tangkisan 1 ini terdiri dari beberapa kombinasi tendangan dan tangkisan dengan tangan maupun dengan kaki. Mereka semua melakukannya sambil tertawa bersama pasangannya masing-masing, walaupun mereka tertawa tapi mereka serius melakukan gerak itu, bahkan saking semangatnya mereka ada beberapa orang yang berteriak karena terjatuh ataupun karena terjadi benturan yang cukup keras.

Sebuah motor dengan knalpot yang menderu-deru datang dan menghentikan gerakan mereka semua. Mereka saling pandang dan saling memberi tanda. Mereka semua menghampiri pengendara motor itu yang ternyata adalah kak Maha, mereka bergantian untuk salim.

“Hanya kalian saja yang latihan?” Tanya Kak Maha bingung.

“Iya, seniornya gak ada yang dateng padahal dari kemarin udah diingatkan untuk latihan.” Ucap Ical menerangkan keadaan saat itu.

“Trus kalian tetap latihan?” Tanya kak Maha lagi.

Semua mengangguk.

“Latihan apa?” Tanya kak Maha sambil membuka jaketnya.

“Tadi kita udah latihan tendangan dan tangkisan 1 sama gerakan rangkaian.” Jihad mewakili teman-temannya menjawab.

Kak Maha menganggukkan kepalanya, “Kalian mau latihan lagi kan?”

“Iya!” Seru semuanya.

Kak Maha melepaskan sandalnya dan memakai seragam latihannya. Dia berdiri didepan barisan yang kemudian menerima salam dari semua anak. Kak Maha mulai mencontohkan beberapa gerakan.

“Kalian bisa?”

“Bisa!” Jawab mereka dengan semangat.

Kak Maha memberi aba-aba satu dua dan tiga untuk setiap gerakan, merka semua melakukannya dengan semangat, hal itu terlihat dari gerakan mereka yang penuh tenaga dan dari suara yang keluar dari mulut mereka.

* * *

Beberapa hari berikutnya.

Brak…Meja Andin di pukul seseorang tapi itu tak membuat konsentrasi Andin pada buku yang sedang ia baca terganggu.

“Mereka setuju.” Ucap Bayu santai.

Andin melirik ke Bayu dan memperhatikan wajah Bayu, “Tampannya!” puji batin Andin yang tentunya Bayu gak bisa dengar itu. Andin menutup bukunya dan berdiri, “Setuju tentang apa?”

“Lo yang akan jadi wakil ketua OSIS.” Bayu berjalan keluar dengan santai.

“Gw akan mengundurkan diri, silahkan cari wakil yang lain saja.” Andin duduk kembali dan meneruskan kegiatannya tadi.

Bayu cukup terkejut dengan kata-kata Andin, ia menghentikan langkahnya diam sebentar kemudian berbalik ke meja Andin. “Mana handphone lo?”

“Untuk apa? Andin tak mengalihkan pandangannya dari buku walaupun sebenarnya ia hanya memandang buku itu.

Bayu mengambil pulpen dari kantongnya dan mengambil buku yang dipegang Andin lalu menuliskan nomor handphonenya. “Hubungi aku malam ini, ku tunggu.” Bayu pergi tanpa menunggu jawaban dari Andin.

Aku? Aku? Apa gak salah denger tuh? Dia ngomong Aku? Batin Andin tak percaya dengan apa yang didengarnya baru saja, Andin hanya memandang nomor telepon yang tertera di bukunya, entah ia tak tahu harus berbuat apa. Pikirannya bingung dan hatinya kalut.

Dikelasnya Ical

Berry

14.45

Ih nyebelin tuh anak-anak, ngapain juga gosipin kita pacaran, gak mutu banget sih,,,Iya kan???

Sms masuk ke inbox Ical. Ical membukanya dan membacanya, segera ia melihat ke bangku tempat Berry berada. Ical menghela napas lalu membalas sms Berry. Yah mereka hari itu hanya berhubungan melalui sms karena dari bel tanda masuk tadi siang,  teman sekelas mereka sudah menggoda mereka berdua. Ical tampak bersalah, marah, senang atau… entahlah dia sendiri tak mengerti apa yang ia rasakan.

Bear Ical

14.46

Ber, maav yah gara-gara aku kita jadi digosipin, mungkin kita terlalu dekat, maav aku juga gak ingin ini terjadi.

Berry menarik napas panjang ketika membaca sms dari Ical itu dan beberpa saat hanya memperhatikan sms itu. Berry mulai menjawab sms Ical. Berry tak segera mengirimkan smsnya itu, ia hanya memandangi hpnya saja tapi akhirnya ia memutuskan untuk mengirim sms itu dengan menahan napas dan memejamkan matanya.

Berry

14.49

Ini bkn slh kmu mungkin justru aQ yang terlalu dekat dng mu, aQ sadar betul aQ begitu bergantung padamu, aku begitu percaya padamu sampai selalu bertanya padamu mungkin itu penyebabnya. Tapi aku tak ingin melihat kau murung seperti itu terus.

Ical membaca sms itu dan berjalan keluar kelas untuk mencari angin segar lagi juga ia belum melaksanakan sholat ashar yang sebentar lagi adzannya berkumandang. Di jendela samping tempat duduk Berry Ical tersenyum pada Berry.

Berry

14.51

Kau tersenyum membuatmu terlihat lebih manis, beruangku…

Ical membaca sms dari Berry dan tersenyum sendiri.

Tak terasa bel pulang telah berbunyi, semua anak menyambut dengan gembira kecuali Andin dan Ical yang merasa gelisah. Mereka ke luar kelas  tanpa semangat.

Tak hanya Ical yang merasa gelisah, Berry pun merasakannya, ia begitu khawatir dengan persahabatan yang selama ini terjalin dengan baik. Berry memacu motornya dengan cepat.

“Hai…mikirin apa sih? Muka dilipat gitu?” Fahmi merangkul sobatnya,Bayu.

Bayu memikirkan jawaban yang tepat.

Tapi sebelum Bayu menjawab Fahmi sedah berkata lagi, “Saingan lo? Kenapa lagi sama dia?” Fahmi melirik Bayu.

“Dia gak mau jadi wakil gw.”Jawab Bayu singkat.

“Bagus itu!” Komentar Fahmi yang penuh semangat membuat Bayu terheran-heran. “Gw kalo jadi dia, gw juga pasti melakukan itu, dari pada selalu jadi bayangan lo, orang yang udah terang-terangan jadi pemenang.”

Bayu hanya menganggukkan kepalanya saja dan hanya terus mendengarkan ocehan Fahmi yang sepertinya tanpa koma maupun titik, Bayu hanya sesekali berkata “ya”, “tidak”, “bagus “ atau hanya berkata oh saja, sebenarnya ia tak terlalu mengerti dengan yang dikatakan Fahmi ia hanya memikirkan saingannya, Andina Malaya.

Dikamar Ical. Ical menutup wajahnya dengan bantal lalu berteriak sepuasnya, kebetulan hari itu orang tuanya dan adiknya sedang pergi menghadiri undangan dari relasi papanya. Oh iya belum pada tau yah, papanya Ical itu salah satu pengusaha hotel terkenal yang jelajah bisnisnya sudah hampir di semua benua tapi hal itu tidak membuat Ical sombong bahkan Ical selalu diajarkan mandiri oleh papanya itu. Kakek yang sedang tertidur segera bangun dan menuju kamar Ical. “Cal…Cal…ada apa? Boleh kakek masuk?”

“Gak ada apa-apa kek, masuk aja.” Jawab Ical sambil mencoba menenangkan dirinya.

“Kamu yakin gak ada apa-apa?” Kakek duduk disamping Ical, “Pasti tentang masalah yang waktu itu yah?”

Ical mengangguk pelan, “Akhirnya apa yang Ical takutin terjadi juga, Ical gak tau harus berbuat apa.”

“Sabar saja pasti gusti Allah kasih jalan yang terbaik buat cucu kakek.” Kakek memeluk Ical dan mencium keningnya.

“Ical juga yakin dengan hal itu.” Ical memandang wajah kakeknya yang sudah keriput semua, Ical begitu mencintai kakeknya dan ia tak bisa membayangkan bagaimana nanti kalau kakeknya meninggal, “Kakek tau gak Andin mengundurkan diri dari OSIS padahal ia ditawarkan menjadi sekretaris OSIS.” Ical mengalihkan pembicaraan.

“Mungkin itu lebih baik untuknya daripada ia selalu merasa tersaingi.” Ucapan kakek membuat Ical sedikit tenang dengan kekhawatirannya terhadap Andin.

Ringtones suara teriakan Andin yang Khas terdengar menggangu diamnya Ical dan Kakek.

“Ya Din?” Jawab Ical atas panggilan Andin. Ical terdiam mendengarkan Andin berbicara lalu menanggapinya dengan hanya ber-ehm. “Kamu kesini aja, biar enak ngomongnya.” Saran Ical.

“Ada apa?” Kakek tampak cemas dengan reaksi yang diberikan Ical kepada telepon Andin tadi.

“Dia mau ngomong masalah yang tadi aku kasih tau sama kakek, yang masalah dia ditawarin jadi sekretaris OSIS.” Jawab Ical sambil menghela napas.

Kakek hanya mengangguk-anggukan kepalanya, “Nanti kalo Andin atau kamu butuh Kakek, panggil saja. Sebaiknya kamu mandi dulu sebelum Andin datang.” Kakek keluar kamar Ical dan meninggal Ical dengan senyuman.

“Din…Din…tumben banget sih masalah cowo sampai bikin bingung kamu.” Ical bergumam dan menggeleng-gelengkan kepalanya sendiri lalu tertawa sendiri, “kok Aku juga bisa pusing yah mikirin Berry?” Ical menggelengkan kepalanya.

Setelah Ical mandi, ia turun dan menemui Pak Hasan salah satu pekerja dirumahnya.

“Pakde…Ical boleh minta tolong gak?”

“Minta tolong apa?”

“Pakde beliin kue ditempat langganan mama, tadinya Ical mau pergi sendiri tapi Andin mau datang.”

“Oh…ya udah sini pakde belikan.”

Ical tersenyum dan memberikan beberapa lembar uang lima puluh ribuan serta daftar kue. “Terima kasih ya pakde.”

Pak Hasan membalas ucapan terima kasih Ical dengan senyuman.

Ical menunggu Andin diteras sambil bermain dengan kucingnya, yah sebenarnya sih hanya kucing kampung biasa tapi kucingnya begitu nurut sama Ical, bulunya yang berwarna hitam putih tampak mengkilap karena kemarin Ical dengan paksa memandikannya, kasihan sih yah tapi demi kesehatan kucing dan seisi rumah Ical.

“Ical…Ical buka pagernya dong!!” Teriak Andin dari luar pagar.

Ical meninggalkan kucingnya dan berlari ke arah pagar dan membukakannya untuk Andin.

“Tumben lo diluar biasanya abis magrib lo ogah banget ada diluar.” Celetuk Andin.

“Yah gw kan nungguin lo, soalnya Pak Hasan lagi gw mintain tolong buat beli kue.” Ical menutup pagarnya lagi.

“He…he…he…tau aja lo gw mau nginep pake dibeliin kue segala lagi.” Andin menarik tangan Ical.

“Ih geer…Udah makan belom lo?” Pertanyaan Ical hanya dibalas dengan gelengan kepala Andin. “Tau aja lo nyokap gw masak enak makanya gak makan dari rumah.” Andin malah terkekeh mendengar omongan Ical.

Sebelum masuk ke kegiatan utama yaitu ngerjain tugas sambil ngerumpi dan nyemil mereka makan malam dulu yah walaupun hanya berdua eh berempat sama kakek dan Bu Hasan, istrinya Pak Hasan.

Dikamar Ical. Andin menyodorkan sebuah buku pada Ical.

“Gw juga punya trus ngapai nih buku dikasih ke gw?” Ical kembali menyerahkannya ke Andin.

“Ih bukan itu maksud gw, nih liat…ini no hpnya Bayu, dia minta gw nelpon dia.” Ucap Andin lemas.

“Ya udah telepon aja.” Jawab Ical ngasal, “Eh tunggu emangnya gimana ceritanya lo bisa diminta  buat nelepon dia, trus lo jadi mundur jabatan sekretaris itu?” Ical tampak penasaran.

“Tadi siang gw udah mutusin, gw mundur dari keanggotaan OSIS makanya tadi jam 10 gw dah ada di sekolah.” Jawab Andin sambil menundukan kepalanya.

“Gila lo…Dulu lo ngejar-ngejar tuh keanggotaan sekarang lo buang kesempatan yang udah didepan mata.” Ical geleng-geleng tak percaya dengan keputusan Andin. “Trus masalah Bayu minta lo telpon dia, gimana tuh ceritanya?”

“Kayanya gak ada yang ngasih tau dia kalo gw dah ngundurin diri dari OSIS, dia malah datengin gw dan nawarin jabatan jadi wakil ketua OSIS. Gw bilang aja gw dah mengundurkan diri, dia malah ngasih nomor hpnya dan minta gw telepon dia.” Andin merebahkan tubuhnya dikasur, rasanya tubuhnya remuk.

Ical tampak berfikir, “Lo telepon aja Bayunya, tanya sama dia kenapa dia nawarin lo jadi wakil ketua. Yah saran aja sih, dari pada lo nyesel.” Ical memasukkan nomor telepon yang ada di buku Andin ke hpnya, “Nih pake hp gw aja.” Ical menyodorkan hpnya.

Andin duduk kembil, “Lo yakin gw harus nelpon dia?” Andin terlihat enggan menelepon Bayu.

Ical mengangguk dan langsung memberikan hpnya ke tangan Andin. Sambil menarik napas panjang Andin memencet tombol untuk memanggil.

Tut…tut…tut…(nada sambung, maksudnya) Andin me-loudspeaker hpnya.

“Halo…Andin yah?” Suara dari seberang membuat Andin panas dingin. “Halo ini siapa? Andin yah?”

“Ayo jawab.” Bisik Ical.

“I…iya Bay.” Jawab Andin singkat.

“Untung elo Din, sangka gw bukan elo.” Suara bayu terdengar bersemangat. “Eh lo masih dengerin gw kan?”

“Iya.” Jawab Andin singkat.

“Din, lo beneran keluar dari keanggotaan OSIS? Lo beneran nolak jabatan yang gw ajuin ke elo? Kenapa Din, apa gara-gara gw?” Bayu terdiam menungu jawaban Andin.

Andin menatap Ical begitu pun Ical, Ical memberi tanda untuk segera menjawabnya.

“Bukan gara-gara lo kok.”

“Trus gara-gara apa Din? Awalnya gw pikir kita bisa kerjasama.” Ucap bayu dangan nada lemah.

“Gak ada apa-apa kok yang mendasari keputusan gw, gw yakin lo bisa gunain jabatan lo dengan sebaik-baiknya.” Ucap Andin agak bersemangat.

“Gw lebih yakin lagi kalo kita berdua bisa kerja sama, bikin trobosan baru buat sekolah kita.” Ucap Bayu meyakinkan.

“Kenapa bisa seyakin itu?”

“Gak taulah, pokoknya yakin aja, gw rasa lo punya ide-ide brilian apalagi kalo lo gak setuju sama sesuatu lo bakal mentang itu habis-habisan. Lo punya keyakinan dan keberanian, gw butuh orang kaya lo Din..” Bayu terdiam, “Jarang-jarang ada cewe pemberani kaya lo.”

“Sobat gw lebih berani dari gw, karena dia juga, gw bisa hampir ngalahin lo di pemilu kemarin.” Jawab Andin sambil tersenyum ke Ical.

“Wah kayanya sekolah kita dipenuhi cewe-cewe perkasa yah, hahaha…”Bayu tertawa sebentar. “Garing yah candaan gw?”

Kini Andin dan Ical yang tertawa.

“Din suara siapa tuh?”

“Ups…ketahuan deh, sorry yah Bay sobat gw ikut dengerin, gak apa-apakan?”

“Gak apa-apa kok, sobat gw juga dari tadi ngedengerin obrolan kita kok.” Bayu tertawa.

“Mau ngomong apalagi Bay?” Tanya Andin dengan nada datar.

“Kok lo ngomong gitu sih? Lo terpaksa yah nelpon gw? Sorry deh.”

“Gak kok bukan gitu maksud gw, kan lo yang minta gw telepon lo, jadi pastinya lo yang punya banyak pertaannya buat gw.”

“Oh iya juga yah, mau nanya apa yah?” Bayu diam sebentar lalu berdehem, “Lo serius keluar dari OSIS? Padahal gw mati-matian  mempertahankan lo di OSIS.”

“Gw serius Bay, lagi juga jabatan gw lebih berat daripada jabatan lo, hehehe…barcanda kok. Gw cuman pengen  fokus  aja sama pelajaran, inikan tahun pertama, gw takut keasikan di OSIS trus bikin nilai-nilai gw anjlok.” Ucap Andin ngasal. Ical mendengarkan saja obrolan mereka berdua begitu juga dengan Fahmi.

“Oh gitu yah?” Bayu tak bisa memberi tanggapan lagi.

“Gini aja deh kalo lo masih ngerasa kita bisa kerjasama, gw tetep bisa bantu lo, tapi keputusan gw keluar dari OSIS udah bulat.”

“Jadi gw tetep bisa minta ide lo kan?”

“Iya.” Andin tersenyum ke Ical begitu juga dengan Ical.

“Oke deh kalau begitu, gw hargai keputusan lo, tapi gw minta kita gak berantem lagi yah?”

“Iya, asal lo jangan bikin gw marah aja.”

“Setuju!! Makasih yah dah mau nelpon gw, salam buat temen lo,bye.”

“Salam juga buat temen lo.” Andin memutuskan panggilan.

“Tuh kan lo gak nyesel nepon dia, jadi baikan deh trus bentar lagi jadian deh.” Goda Ical.

“Ih…reseh lo.” Andin kini memasukkan nomor handphone Bayu ke hpnya.

Tok…tok…tok…Ical membukakan pintu.

“Nih kakek bawain kue buat kalian, biar ngobrolnya tambah asik.” Kakek tersenyum.

“Makasih yah kakekku, ayo kek masuk.”

“Ndak usah, kakek mau mengerjakan jahitan seragam Paun.”

“Oh…sekali lagi makasih yah kek, oh iya kakek jangan terlalu capek nanti sakit loh.” Ical mengambil piring kue dan memeluk kakeknya.

“Iya.” Kakek melongok kedalam dan tersenyum pada Andin, “Kalian belajarlah yang benar.”

“Iya kakek…”Jawab Andin dan Ical bersamaan. Kakek pergi ke kamarnya.

Hari pelantikan para anggota OSIS baru  telah tiba. Suasana SMA 87 berubah total. Damai dan begitu penuh canda tawa, Para siswa tampak berpenampilan rapih dan keren karena para siswi tampil cantik, yah walaupun dalam balutan seragam sekolah yang biasa mereka pakai. Tampaknya para siswa tak tau kenapa para siswi tampil begitu menarik, alasan dibalik semua itu karena Bayu bakal berada dipanggung untuk ngasih sambutan.

Andin menunggu Bayu di kantin, hari itu yang entah kenapa hanya ada beberapa orang saja yang datang menikmati makanan kantin padahal hari itu adalah hari bebas pelajaran.

Bayu memasuki kantin dengan santai dan sebisa mungkin tak menarik perhatian siapa pun. Tapi seseorang menyadari kedatangannya.

“Eh mas Bayu, selamat yah, wah…kok gak keliatan grogi sih padahalkan hari ini pelantikananya.” Bu Ani petugas kantin berkata sambil merapihkan barang dagangannya.

Bayu hanya tersenyum walaupun sebenarnya Bu Ani tak melihat semyum manisnya, “Bu teh botol dong, nih uangnya.” Bayu menyerahkan beberapa lembar uang seribuan.

Bayu duduk tak jauh dari Andin setelah Bu Ani memberikan pesanannya.

“Kok masih sempet kesini?” Tanya Andin tanpa menengok ke Bayu dan ia tetap fokos membaca buku ditangannya.

“Katanya lo mau gw traktir? Ayo pesen sekarang, sebelum gw sibuk.” Bayu pindah tempat duduk disamping Andin.

“Ditunda aja dulu traktirannya, nih pesenan lo, nanti raktirannya 2 kali lipat yah?” Andin memberikan selembar kertas pada Bayu.

“Ok…hubungi aja nanti.”

“Tunggu aja.” Andin berdiri, “Bu pesenan saya dibayar sama Bayu yah.” Teriak Andin pada Bu Ani kemudian Andin tanpa berbicara lagi pada Bayu segera keluar kantin dan menuju perpustaan, menghampiri Ical.

“Andin pesen apa aja bu?” Tanya Bayu yang kemudian menghabiskan teh botolnya.

“Teh botol 3, 2 roti sama 1 piring indomi rebus.” Ucap Bu Ani sambil melihat catatannya.

“Buset dah banyak amet, laper apa doyan tuh anak.” Bayu begitu kaget dengan jumlah pesanan Andin.

“Tadi tuh Andin sama temannya 2 orang makanya pesanannya banyak.”

“Oh gitu…” Bayu tertawa sendiri ia kira Andin tipe cewe super rakus, “Ini bu uangnya.” Bayu menyerahkan uang sepuluh ribuan dan Bu Ani memberikan selembar uang seribu dan sebuah uang logam bernilai 500 perak rupiah.

Ical tampak sedang membahas sesuatu dengan Han. Andin berjalan pelan lalu menepuk pundak mereka berdua. “Serius banget, ngomongin apa sih?” Andin duduk disamping Ical.

“Biasalah, apalagi yang bikin selama ini kita pusing selain pencak silat kesayangan kita.”

“Oh tentang SB, kenapa lagi? Kok kayanya gw ketinggalan berita sih?” Andin bersiap mendengarkan keterangan Ical.

“Emang selalu ketinggalan berita! Lo tau kelangsungan SB tercinta kita itu lagi terancam.” Celetuk Han sewot.

“Terancam?” Andin tampak bingung.

“Yah baru kita bertiga doang sih yang tau, tadi Kak Maha datang dan cerita semuanya sama gw dan Han.” Ical menarik napas panjang. “Kata  kak Maha, sekolah mau mengeluarkan keputusan untuk mengurangi jumlah ekskul biar ngurangin biaya pengeluaran.” Ical menatap Andin yang tampak terkejut.

“Masa sih? Ngurangin jumlah ekskul buat ngurangin pengeluaran biaya?” Andin geleng-geleng kepala. “Trus kenapa juga sekarang sekolah malah ngadain pensi sekalian pelantikan anggota OSIS?”

“Yah itu juga gw gak ngerti.” Komentar Han singkat.

“Menurut gw kita jangan kasih tau siapa-siapa dulu sebelum ada perintah dari kak Maha.” Andin pergi meninggalkan mereka.

“Ya udah, menurut gw saran Andin tadi bener juga. Mending kita nikmatin aja pensi hari ini.” Han juga meninggalkan Ical sendiri.

“Ya udah mau gimana lagi.” Ical pun menyusul Han.

Seseorang menarik tangan Ical ketika Ical hendak melangkahkan kakinya ke luar perpustakaan.

“Ngobrol sama gw aja yuk? Anak-anak gak tau pada kemana gw males nyarinya.” Berry menarik Ical masuk perpuskataan lagi.

“Temen-temen gw biasalah lagi nyari gebetan. Mau ngobrol apa sih?” Ical dengan terpaksa duduk kembali di bangku perpustakaan.

“Kenapa selama ini lo jadi cuek? Maksud gw setelah gossip itu benar-benar memanas.” Ucap Berry dengan sangat hati-hati.

“Em…Udah ah, gw mau nonton acaranya.” Ical pergi meninggalkan Berry dengan pertanyaan yang belum terjawab.

“Ber, gw cuman gak mau nyakitin lo doang, maaf yah.” Ical berbicara dengan dirinya sendiri.

* * *

Setelah acara pensi itu Andin baru ketemu dengan Bayu seminggu kemudian.

“Asik jadi ketua OSIS?” Tanya Andin sambil menyedot habis minumnya lalu membuang kemasannya ke tong sampah.

“Yah lumayan lah.” Bayu garuk-garuk kepala.

“Ada pengurangan ekskul yah?” Tanya Andin serius.

Bayu menengok ke arah Andin, “Lo dah tau?”

“Ya iyalah, ekskul gw salah satu kandidat yang bakal di out.”Andin tampak sedikit marah.

“Gw juga lagi ngusahaain biar gak ada ekskul yang di out dari sini. Makanya gw perlu saran lo.” Bayu mengajak Andin duduk dibangku taman.

“Kalo semua itu pasti, kumpulin aja semua ekskul, maksud gw ketua atau yang megang wewenang, lo kasih tau semua duduk perkaranya sama mereka trus cari jalan keluarnya.” Andin memandang anak-anak yang sedang bermain basket dilapangan.

“Yah aku pikir juga begitu.” Bayu memandang Andin tanpa sadar.

“Ato biar lebih seru lagi bikin petisi dari semua anggota ekskul kalo bisa sih dari semua murid!” Ucap Andin girang sambil membalikkan tubuhnya kearah Bayu, “Eh…” Andin menepuk bahu Bayu, “Jangan ngeliatin gw kaya gitu ah, serem tau. Gw ke kelas dulu yah.” Andin pergi meninggalkan Bayu yang masih kaget.

Ketika lamunannya telah berlalu maka hantu pikiran merajai otak Bayu, “Kira-kira gimana yah caranya biar gak ada pengurangan ekskul? Apa gw jalanin aja usul Andin?” Bayu bertanya-tanya sendiri sambil berjalanan menyusuri kelas-kelas yang masih tampak riuh.

Fika menatap Andin aneh. Andin balas menatapnya, “Ada apa sih lo liat gw kaya gitu? Kaya mau nerkam gw aja.” Andin memalingkan mukanya dan memandang ke luar kelas.

“Kayanya banyak yang berubah deh sama lo.” Andin menatap Fika dengan tatapan bingung. “Lo dah gak berantem lagi sama Bayu?” Andin hanya menggelang, “Trus lo dah temenan sama dia?” Sekali lagi Andin mengangguk, Fika pun mengangguk-nganguk tanda mengerti.

“Lo kenapa ikutan gw mangguk-mangguk?”

“Bayu ganteng yah?” Ceplos Fika.

“Haaahh…..”Andin kaget bukan main.

“Iya, Bayu ganteng banget, lo tau gak? cuma lo doang yang gak ikut BFC ato SBFC, gw jadi bingung.” Fika menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Ada juga gw yang bingung, BFC tuh apa? SBFC tuh apa?” Andin mengambil botol inumnya dari tas.

“Loh emang lo belom tau?” Andin mengggeleng, “BFC itu Bayu Fans Club.” Ucap Fika bangga. Andin berusaha menahan tawanya dan segera menelan air dimulutnya. “BFC itu anggotanya cewe-cewe yang suka banget ma Bayu, kalo SBFC itu Saingan Bayu Fans Club yang anggotanya kebanyakan cowo yang merasa disaingi sama Bayu tapi ada juga sih cewenya yang ngaku berselera tinggi.” Fika menghentikan omongannya dan menunggu tanggapan Andin.

Andin tertawa ngakak, “Wah kalo Bayu tau ada yang kaya gitu bisa pingsan dia.”

“Turus lo ikut yang mana BFC atp SBFC?” Tanya Fika polos.

Andin berfikir, em…masa gw ikut BFC sih dan jadi salah satu penggemarnya Bayu? Tapi kalo gw gak ikut malah disangka gw ikut SBFC. Andin masih berkutat dengan pikirannya sndiri.

“Woi! Lo mikir jangan kelamaan dong, lo mau ikut mana tar gw yang daftarin deh kalo lo malu daftarnya.” Fika terus mendesak Andin untuk membuat pilihan.

“Tar aja lo liat gw ikut apa.” Obrolan mereka terhenti saat guru matematika yang super sadis dan super ganteng masuk dan mengucapkan selamat sore.

Tampak matahari masih ingin menguasai langit biru tapi perlahan dia mulai membuang keinginannya itu dan kembali ke peraduan. Semua murid telah bubar, Han dan beberapa orang mengejar langkah Andin dan Ical.

“Han? Lo kok lari-larian sih? Kalian juga, ada apa?” tanya Ical menghentikan langkahya.

“Gw dah omongin semua sama mereka.” Ucap Han terengah-engah.

“Emangnya beneran berita itu? Apa gak cuman gossip?” Tanya Jihad Yang juga ngos-ngosan, pemberitahuan saja Jihad itu salah satu  anggota ekskul silat juga tapi beda kelas sama mereka.

Andin menghembuskan napas panjang lalu menghirupnya lagi, “Yang gw denger dari anak OSIS sih gitu, tapi mereka juga gak setuju sama hal itu, mereka lagi ngusahain agar berita itu gak jadi kenyatan.” Ucap Andin sambil meneruskan jalannya.

“Trus kita gimana?” Tanya Rudi. Dia juga anggota ekskul silat.

“Yah gak gimana-gimana, lagi juga kalo misalnya dihapus kita masih bisa latihan diluar.” Semua terdiam memikirkan ucapan Ical.

* * *

Tampaknya berita itu tak lagi memanas yah hanya sesekali menghampiri obrolan cowo-cowo ato obrolan cewe-cewe yang lagi asik ngemil. Tapi kenyataan berkata lain.

Kelas baru saja kosong siang itu, semua kakak kelas telah pulang lima belas menit yang lalu. Ical menendang pintu dan berlalu saja masuk kelas tanpa peduli keadaan pintu tersebut.

“Kenapa lo?” Tanya Berry tiba-tiba, yah memang baru mereka berdua makanya Berry bebas bicara pada Ical.

Ical diam saja dan menjatuhkan dirinya ke kursi, meluruskan kakinya.

“Lo gak denger gw ngomong?” Tanya Berry sekali lagi dari tempat duduknya yang berada dibarisan belakang.

“Denger kok.” Ical menjawab dengan tenang lagi diam lagi.

“Udah ngerjain tugas?” Berry bertanya lagi sambil ia memeriksa tugasnya, “Liat dong ada yang bingung nih.”

Ical diam aja lalu melepaskan tas punggungnya dan melemparkannya ke meja dibelakangnya, “Ambil sendiri.” Ical pergi. Berry hanya memandangnya dengan sedih.

Ingatan tentang hari kemarin masih begitu hangat dipikiran Ical, kata-kata Kak Maha begitu dalam memasuki relung jiwanya.

Yang kala itu Kak Maha baru datang dan langsung duduk dipinggir lapangan memperhatikan anak didknya berlatih tendangan memangil Ical, Ical menghampirinya dengan napas agak tersenggal-senggal.

“Ada apa A?”

“Sini duduk.” Kak Maha menepuk-nepuk tempat disebelahnya tapi Ical lebih memilih duduk berhadapan dengannya.

“Anak-anak dah pada tau?” Kak Maha tak menatap wajah Ical tapi menyapu lapangan dengan sekali tatapan.

“Udah, selain tau dari Han ada juga yang tau dari anak OSIS.” Ucap Ical tak ragu.

Kak Maha hanya menganggukkan kepalanya saja.

“Trus gimana sikap kita A`?.” Ical memandang wajah Kak Maha dan menunggu reaksinya, tapi tak ada ekspresi apapun di wajah Kak Maha.

“Ya sudah tunggu saja berita selanjutnya.” Kak Maha tersenyum lalu bangkit dan meregangkan tubuhnya sedikit, “Udah lama nih gak latihan.” Gumamnya kak Maha itu sampai ke telinga Ical bagai geledek menyambar bumi.

Ical bangkit dan tertawa, “A serius mau turun ke lapangan?” Ical tak menunggu jawaban hanya dengan tatapan kak Maha, ia sudah mengerti maksudnya.

Kak Maha yang udah dari lebih dari 10 tahun bergabung dengan perguruan itu kini telah menjadi roda penggerak perguruan itu. Awalnya ia telah memasuki banyak perguruan silat dari yang paling timur jawa sampai yang paling barat jawa, tapi dari gelagatnya ia tak seperti seorang pesilat, ia bahkan lebih suka membuat anak muridnya tertawa daripada serius ketika latihan, tapi semua anak mengerti dalam tawa mereka juga harus ada keseriusan.

Melihat kak Maha melenggang ketengah lapangan dan Ical memberi isyarat kepada yang lain maka serentak semua mengatakan, “Waduh gawat nih!! Besok jangan-jangan gw gak bisa turun dari tempat tidur lagi.” Yah tapi kak Maha tak dengar semua itu karena ucapan itu hanya ada didalam hati saja dan menyangkut ditenggorokan mereka, sontak saja kak Maha tertawa melihat perubahan mimic wajah dari murid-muridnya itu.

“Woi kenapa lo pada? Muka pada di lipat gitu, tenang aja kita santai aja hari ini.” Kak Maha tertawa lagi. Pelatih sebelumnya menyerahkan komando barisan kepada kak Maha dan ia segera turut masuk dalam barisan sedangkan anak-anak yang lainnya kini berada di kesiagaan paling penuh layaknya mau berperang, ah berlebihan.

Kak Maha memberi komandonya yang pertama, “Kuda-kuda serong kiri, hit…” Suaranya lantang sampai terdengar ke luar wilayah skolah. “Kita latihan gerakan kombinasi, perhatikan gerakan saya.” Kak Maha mempraktekkan pukulan kiri, totokan dengan tangan kanan, tendangan samping kiri dan melakukan rol 2 kali kemudian ia bangkit lagi dan langsung melakukan tendangan putar 2 kali.

Anak-anak serius memperhatikan gerakan kak Maha, ada yang berusaha mengingatnya tapi juga banyak yang hanya kagum dengan gerakan kak Maha. “Ayo mulai, satu aba-aba langsung semua gerakan.” Anak-anak bersiap meninggu aba-aba dari Kak Maha, “Hit…” Anak mulai melakukan gerakan seperti kak Maha tapi tak sama ada yang tendangannya yang salah bahkan banyak yang saling bertabrakan karena kurang ahli melakukan gerakan rol di lapangan tanpa alas, sontak kak Maha tertawa melihat gerakan anak buahnya.

Ical baru tersadar dari lamunannya ketika seseorang memegang kepalanya, “Anak-anak boleh ngomong apa aja tentang kita tapi gw gak mau hubungan kita terganggu.” Berry kini berdiri di sampingnya.

“Maaf, gw gak lagi pikirin hal itu, tapi gw lagi kepikiran tentang rencana pengurangan ekskul..” Ical menghela napas.

Berry memandang Ical sebentar lalu memandang jauh di keributan anak-anak dilapangan.

Yah mereka hanya berdiri berdampingan tapi tak ada satu suara pun yang keluar dari mulut mereka kecuali hanya hembusan napas.

Hari itu Ical begitu tak bersemangat, ia hanya diam saat guru menjelaskan pelajaran biasanya ia banyak bertanya. Bu Hilda menghentikan omongannya dan bertanya pada Ical, “Kamu mengerti Ical?”

“Mengerti bu.” Jawab Ical tenang.

“Ibu kira kamu dari tadi bengong.” Bu Hilda mendekati Ical.

“Lagi mikirin Berry kali bu.” Celetuk Gema. Ical langsung memandang Gema dengan tajam.

“Berry?” Bu Hilda bertanya pada Gema dan Ical., Berry celingukan karena namanya dipanggil bu Hilda.

“Saya lagi gak semangat aja bu.” Jawab Ical sambil menendang kaki Gema. Gema tertawa.

“Bohong bu, pasti Ical lagi mikirin Berry.” Ucap Pia yang duduk dibelakang Ical.

“Ih kaya gak ada hal lain aja gw mikirin dia.” Ical berkata kepada Pia.

“Berry…kamu ngapain Ical sampai dia bengong gitu?” Bu Hilda malah menanggapi lelucon Gema dan Pia.

“Kok saya bu? Saya gak tau apa-apa loh bu.” Berry bingung.

“Bohong bu, Icalkan pacaran sama Berry.” Celetuk Ivan yang emang suka asal ngomong.

“Saya gak ngapa-ngapain Ical kok bu, bener deh.” Ucap Berry cepat.

Ical hanya tersenyum pada Berry, ia tak peduli anak yang lainnya melihat atau enggak. “Bukan gara-gara Berry kok bu, saya gak punya hubungan apa-apa selain temenan sama Berry, saya hanya lagi mikirin tentang rencana sekolah mengadakan pengurangan ekskul.” Ucap Ical tegas.

“Oh…begitu, ibu sangka kamu emang lagi ada masalah sama Berry.” Bu Hilda menggoda Ical. Ical hanya tertawa saja. “Baik anak-anak cukup bercandanya, sekarang kerjakan latihan 8 hal 106 dengan cara yang ada di papan tulis.

Jauh, jauh didalam hati berry ia sangat senang dangan kejadian itu, berarti ia tak lagi harus bersembunyi dari teman-teman sekelasnya.

Andin menghampiri Ical yang sedang mengantri membeli makanan, “Eh gw pesenin juga yah, gw cari tempat dulu.” Andin berjalan santai mencari tempat yang kosoong.

Tak lama Andin menunggu Ical datang dengan 2 piring siomay, Ical duduk di bangku satu-satunya yang tersisa. “Lain kali gantian yah ngantrinya.”

“Cal lo tau gak ternyata ada Bayu Fans club yang isinya cewek-cewek pecinta Bayu trus da juga Saingan Bayu Fans Club yang isinya cowo-cowo yang merasa bisa menyaingi Bayu.” Andin tertawa.

“Gw udah tau kok, malah dikelas gw cewe-cewenya lumayan banyak yang masuk tuh club.” Jawaban Ical menghentikan tawa Andin.

“Kok lo gak cerita sama gw sih?” Andin menyuapkan sepotong siomay ke mulutnya.

“Ah gak penting kali.”

“Gimana gak penting, rang gw ditanya mau ikut club yang mana sama Fika. Kira-kira gw ikut yang mana yah?” Andin bangkit dan membeli minuman 2 botol lalu kembali duduk.

“Bikin club aja sendiri, Mak Comlang Bayu Grup.” Ical tertawa sedangkan Andin memanyunkan bibirnya karena ia tau Ical sedang mengejeknya. Andin sadar selama ini ia sering menjadi mak comlang untuk temen-temennya di SMP dulu bahkan banyak hubungan yang terjalin hingga kini.

“Iya juga yah, setau gw Bayu belum punya pacar.” Andin terkekeh sendiri.

“Tar bagi-bagi yah hasil pendapatan lo jadi mak comlangnya Bayu.” Ical memainkan alisnya. Andin hanya diam.

“Cal.” Panggil Andin yang sebenarnya dari tadi memperhatikan sikap Ical yang diam saja. Ical mengalihakan pandangannya dari siomay pesanannya. “Mikirin apa sih lo?”

Ical tersenyum sedikit, “Tadi anak-anak sekelas godain gw ma Berry di depan bu Hilda.”

“Trus?”

“Trus apa?”

“Yah lo ngomong apa pas kejadian itu?”

“Gw bilang gw gak ada hubungan apa-apa sama Berry.”

Andin  manggut-manggut. ”Kenapa sih lo gak beneran aja ngejalin hubungan sama Berry?”

“Gila lo, apa orang kata, gw nyangkal gossip itu habis-habisan masa tiba-tiba gw jadian sama Berry.” Ucap Ical sewot.

“Yah emangnya kenapa kalo lo jadian sama Berry, kalo lo-nya suka, dia-nya suka kenapa enggak.” Ucap Andin sambil menyuapi mulutnya dengan dua potong siomay sekaligus.

“Tar gw banyak musuh tau.”

“Kok gitu?”

“Yah iyalah, sebenernya teman-temen sekelas gw itu banyak banget yang suka sama dia bahkan ada beberapa orang yang ngakuin hal itu sama gw sebelum ada tuh gossip.” Ical bangkit dan mengambil 2 gelas air mineral kemasan lalu ia duduk dan membuka salah satunya.

“Oh berarti sebenernya temen-temen lo itu pada suka sama Berry cuman karena gak deket sama Berry jadi mereka bikin gossip kaya gitu?”

“Yap tepatnya seperti itu.”

“Perlu bales dendam tuh.” Ucap Andin semangat sambil terus menyuap siomaynya yang tinggal beberapa potong.

“Dibales?”

“Iya, lo sekalian aja bikin mereka sakit hati biar tau rasa mereka, kalo suka bukannya ngomong langsung eh malah bikin lo ma Berry jauh, ato mungkin sebenernya mereka itu takut disaingi sama elo makannya mereka bikin lo jauh dulu dari Berry baru kemudian mereka deketin Berry.” Ucap Andin semangat.

“Mungkin aja, tapi gak tau ah, gw gak mau nyari masalah.” Ucap Ical pasti.

* * *

Pak Hasan sudah menunggu mereka dari sejam yang lalu.

Andin yang melihat pak Hasan terlebih dahulu segera menghampiri pak Hasan. “Tumben pakde, emangnya Ical minta dijemput yah?”

Pak Hasan masih sempat memberikan senyumannya, “Disuruh ibu.”

“Oh… Biar Andin yang panggil Ical, tadi Ical lagi ngobrol di depan kelasnya.” Andin segera kembali ke deretan kelas. Disana ia melihat Ical sedang asik tertawa dengan beberapa orang temannya. “Ical, ditunggu pakde Hasan tuh.” Teriak Andin.

Ical yang mendengar teriakan Andin segera berlari meninggalkan teman-temannya dan menghampiri Andin, “Tumben pakde ke sini?”

“Katanya disuruh mama.”

“Oh.. ya udah yuk kita pulang.”

Dimobil.

“Tadi sangkaku pakde Cuma sendiri gak taunya sama mas Winta juga toh.” Ucap Andin.

Pak Hasan yang biasa dipanggil pakde menengokkan kepalanya kebelakang, “Jam 3 tadi kakek masuk rumah sakit.” Ucap pak Hasan dengan sedih.

“Kakek masuk rumah sakit??” Ical dan Andin begitu terkejut.

“Iya, tadi tiba-tiba saja kakek pingsan ketika ditaman.” Jalas pak Hasan.

Ical dan Andin tak bisa berkata apa-apa lagi, mereka berdua menahan air matanya sebisa mungkin karena mereka ingat pesan kakek beberapa bulan lalu, kakek gak mau kalian meneteskan air mata hanya karena kakek sakit, kalian harus jadi anak yang kuat.

Dirumah sakit, mamanya Ical sudah menunggu kedatangan Ical diruang tunggu rumah sakit. Mamanya langsung memeluk Ical dan Andin dan langsung membawa mereka ke depan sebuah ruangan, ruangan IGD begitulah yang dapat dibaca dari papan yang berada diatas pintu ruangan itu.

“Kalian doakan supaya kakek segera melewati masa krisisnya yah.” Mamanya Ical mengelap air matanya dengan sapu tangan yang dari tadi ia pegang.

“Papa mana?” Tanya Ical sambil melepaskan pelukan mamanya.

“Sedang mengurus administrasi rumah sakit.”

Ical menyuembunyikan kesedihannya begitu juga dengan Andin. Andin mencoba menenangkan mamanya Ical yang sudah seperti mamanya sendiri apalagi semenjak kematian mamanya beberapa tahun lalu.

“Kakek harus kuat, kakek harus sembuh, Ical gak nangis kek, karena Ical yakin kakek akan sembuh.” Gumam Ical sambil terus melihat kearah pintu IGD.

Seorang perawat keluar dari ruangan IGD, “Bu Madewa, adakah yang bernama Ical dikeluarga ibu?”

Mamanya Ical belum sempat menjawab tapi Ical sudah bangkit dari duduknya dan mendekati perawat itu, “Saya Ical, bagaimana keadaan kakek?”

“Kakek kamu sudah membaik tapi ia minta bertemu denganmu.” Suster itu membukakan pintu untuk Ical.

Suster itu memakaikan pakaian yang khusus digunakan diruangan itu dan memberikannya sebuah masker.

Ical menarik napas panjang sebelum melihat kakeknya.

Ical mkencoba tersenyum dan menunjukkan ketegaran melalui matanya, kakek melihat hal itu pun tersenyum.

“Kakek hanya kelelahan saja, kakek gak akan pergi secepat ini cucuku.” Ucap kakek sambil mengatur napasnya.

Ical mengangguk.

“Kek sebaiknya jangan banyak bicara dulu, lebih baik kakek istirahat saja.” Saran dokter.

Kakek tersenyum kepada dokter, “Kenalkan ini cucuku, namanya Ical.”

Dokter itu tersenyum dan mengulurkan tangannya ke Ical.

“Kakek dengar kata dokterkan, jangan banyak bicara dulu. Kakek istirahat saja dulu, nanati setelah kakek bangun baru kita bicara lagi, Andin juga datang. Ia pasti senang kalau keadaan kakek lebih baik daripada saat ini.” Ical mencoba memberi dukungan kepada kakeknya.

“Baik kakek akan istirahat tapi kamu harus janji, jika kakek bangun nanti kau harus sudah bersama kakek lagi.”

Ical mengangguk dan melepaskan maskernya, Ical mencium tangan dan kening kakeknya. Kakek akhirnya mencoba untuk beristirahat.

2 jam kemudian, kakek kembali bangun dari tidurnya.

Kakek tersenyum ketika melihat Ical.

“Kakek udah baikkan?” Tanya Ical sambil membalas senyum Kakek.

Kakek mengangguk pelan, “Kakek baik-baik saja, kamu ndak usah khawatir, kakek hanya memaksakan diri berlatih silat.”

“Kakek…harus tau dong kapan harus istirahat ketika latihan silat. Kakekkan udah tua, gak muda lagi kaya dulu. Mungkin jiwa kakek masih muda tapi fisik kakek kan udah tua.” Nasihat Andin sok tua dan sok tau.

Kakek tersenyum kepada Andin, “Iya cucuku sayang, maafkan kakek yah, membuat kalian cemas.”

***

Beberapa hari kemudian, siang itu para guru melakukan rapat sehingga semua murid sepertinya terlantar. Untuk mengisi waktu senggang itu anak-anak tak ada yang sibuk buka buku. Ical, Gema dan beberapa temannya melakukan sebuh permainan, Tawa mengelingi keseriusan mereka.

“Pilih jujur apa tantangan?” Pertanyaan itu jatuh pada Riri.

“Em…apa yah, kalo tantangannya gw harus ngelakuin apa?” Riri agak ketakutan melihat cengiran diwajah teman-temannya.

Semua berunding menjauh dari Riri lalu kembali dengan wajah serius. “Lo harus cari cowok dari kelas lain dan kenalan sama dia trus lo kasih tau ukuran daleman lo.” Terbahak semua setelah Gema menyelesaikan kata-katanya.

“Yah mending gw jujur deh dari pada tantangannya kaya gitu.”Riri pasrah dengan pilihan yang ia pilih.

“Ok kalo gitu, gw yang akan ngajuin pertanyaanya,” Ical bertampang serius. ”Siapa cowo yang paling lo suka dan alasannya apa? Lo harus jujur.” Ical menunggu jawaban Riri dengan hati dag dig dug.

Riri tampaknya tak banyak berpikir untuk menjawab pertanyaan itu, “Berry,” Riri tersenyum lepas.

“Kok lo bisa suka sama dia sih? Padahalkan lo duluan yang gosipin Ical ma Berry pacaran.” Celetuk Nuri.

Ical kaget dengan hal itu tapi ia menyembunyikan kekagetannya itu.

Riri tak menjawab pertanyaan Nuri, “Gw suka sama dia karena dia itu baik banget dah gitu manis banget.” Riri menunggu reaksi teman-temannya.

“Wah lo jadinya sengaja nih bikin tuh gosip biar lo bisa ngedeketin Berry dengan leluasa?” Tanya Pia penasaran.

“Gak juga sih, tadinya cuma iseng doang. Ical gak marahkan?” Riri menatap Ical dengan Pandangan memelas.

“Oh gitu? Gak apa-apa kok. Ayo terusin lagi mainya.” Ucap Ical santai.

“Udahan ah capek gw dari tadi cekikikan.” Keluh Gema sambil melakukan senam wajah.

Semua setuju dengan usul Gema lalu Ical keluar kelas, menghampiri Berry.

Riri yang melihat Ical ngobrol akrab dengan Berry segera keluar dan menyindir mereka berdua. “Katanya gak pacaran kok sekarang mesra banget sih?”

Ical tersenyum pada Riri, senyuman itu malah membuat Riri kesel setengah mati.

“Oh iya Ber, mau tau sesuatu?” Ical lebih mendekat pada Berry, “Riri suka lo sama lo.” Ical menatap Riri tajam tetapi dengan wajah penuh senyuman.

Berry bingung dengan kata-kata Ical barusan, harus senang atau sedih karena yang mengucapkannya dari seorang Ical yang sampai saat ini dia belum mengerti kenapa Ical begitu special baginya.

Riri yang kesal berteriak lalu pergi begitu saja.

“Lo pernah tanya sama gw kalo kita digosipin pacaran gw marah apa enggak?” Berry mengangguk, “Gw marah, gw marah bukan karena gw gak suka sama lo tapi karena hubungan kita tak akan pernah sebaik dulu.” Ical menahan harunya.

Berry memandang Ical lalu tangannya mengacak-ngacak rambut Ical, “Alasan gw sama kaya alasan lo.” Ical tersenyum pada Berry.

Kata-kata yang keluar dari mulut Ical itu tak sekedar kata-kata saja tapi juga suatu pembuktian. Setelah peristiwa itu mereka hanya mengikuti alur kehidupan dan menjadi pemerhati yang baik. Riri yang kesal pada perbuatan Ical hari itu terus mengejar Berry yang tak akan pernah ia dapatkan walau dalam mimpinya.

Sedangkan yang terjadi pada Andin dia benar-benar membuat Mak Comlang Bayu Grup, Andin merekrut 3 orang temannya termasuk Fika, Bayu sendiri tidak keberatan yah dia setuju karena hanya ingin membuat Andin senang dan kali aja dia dapet pasangan yang benar-benar dia impikan. Maka mulai lah Andin, Fika dan 2 orang lainnya memasang iklan dari mulut ke mulut alhasil lebih dari 50 cewek yang penuh percaya diri melamar jadi pasangannya Bayu, ada yang matanya bagus, kulitnya putih, tubuhnya semampai bahkan sampai cewek berkulit hitam dan bertubuh biasa saja semuanya mendaftar. Bayu hanya bisa geleng-geleng kepala saja karena kadang nama tak sesuai dangan keadaan wanita dan akhirnya Fahmi kena Imbasnya mewakili Bayu jalan sama tuh cewe. Sedangkan Bayu malah jalan sama Andin.

* * *

Kelas satu tampaknya tak berjalan dengan baik bagi Ical karena masalah yang dihadapinya terasa begitu berat, masalah hubunganya dengan Berry, masalah pengurangan ekskul yang belum ada kepastiannya serta sakitnya kakek menambah suasana hati Ical tidak baik.

Mamanya yang maklum dengan hal itu tak terlalu menekankan pada Ical untuk belajar lebih keras lagi karena nilainya pada semester satu tidak begitu mengembirakan, karena mamanya tau Ical bisa lebih baik daripada itu.

Berry menghampiri Ical yang lagi berdiri termenung menatap lapangan yang tampak banyak orang lalu lalang. “Dapet peringkat?”

Ical mengangguk, “Sepuluh.”

Berry kaget, “Kok bisa?”

Ical mengangkat bahunya.

“Tar malem gw ada kenaikan tingkat, doain yah.”

“Iya.” Berry memberi senyuman pada Ical setelah itu Ical melenggang pergi. Berry terus melihat kepergian Ical dengan jerita kerinduan dihatinya karena rasanya sudah lama sekali ia tak bercanda dengan Ical, jangankan bercanda bertengkar pun tidak pernah lagi mewarnai hari-harinya.

Bayu yang hari itu terlihat lain karena tidak memakai seragam sekolah menambah daya tarik ditambah gaya berpakaiannya yang terlihat begitu modis karena memang sudah dari sananya tubuh Bayu berbentuk begitu tegapnya. Bayu menghampiri Andin dikelasnya.

“Hai…” Andin menghampiri Bayu ketika Bayu memberi isyarat kepada Andin.

“Gimana nilainya?”

“Belum tau, kalo lo?” Andin merampas rapor ditangan Bayu, “Wah keren banget nilainya.” Andin bertanya-tanya, sepintar itukah Bayu sehingga nilainya semua nyaris sempurna, lega rasanya Andin dikalahkan oleh yang mempunyai kepintaran diatasnya.

“Biasa aja.” Ucap Bayu santai, “Ngambil rapor sama siapa?”

“Sama mamanya temenku.”

Bayu sebenarnya merasa curiga dengan jawaban Andin, mengapa Andin tak mengambil rapornya bersama orang tuanya sendiri?

Orang yang mereka omongin itu ternyata telah berada dibelakang Andin, “Andin, tante pulang dulu yah, ini rapor kamu jangan sampai hilang yah. Kamu pulangnya sama Ical aja yah.” Andin mengangguk lalu salim kepada mamanya Ical.

Bayu langsung merampas rapor ditangan Andin sebelum pemiliknya itu membukanya, “Keren juga.”

Andin melirik nilainya, “Ah masih biasa. Nanti malam gw ada kenaikan tingkat, doain yah.”

Bayu mengangguk, “Gw ditunggu temen nih pulang duluan yah.” Andin mengangguk.

Andin menghampiri Ical yang lagi berdiri di pos satpam depan gerbang utama, “Mau pulang sekarang?”

Ical hanya memberi isyarat jawaban iya dengan matanya.

Berry menatap Ical dari kejauhan, menjerit hatinya iangin ia menampar Ical dan mengatakan semua isi hatinya Berry takkan pernah bisa melakukan itu.

Setelah tidur siang Andin menjemput Ical bersama pak Suman. Tapi karena Andin tau keadaan Ical sedang tak enak hati maka ia sendiri yang membereskan perlengkapan Ical dan baru membangunkan Ical setelah semua pekerjaannya selesai. “Mandi sana udah jam tiga, gw kebawah dulu yah bikin makanan buat nanti.” Andin meninggalkan Ical yang masih setengah sadar dan celingukan karena didepannya terdapat sebuah tas besar.

“Bu, Ical kalo dirumah diem aja yah?” Tanya Andin sambil mengoleskan roti dengan selai cokalat. Bu Hasan yang mengerti pertanyaan Andin langsung menghela napas, “Iya non Andin, semenjak kakeknya sakit.”

“Andin juga sebenernya sedih kalo kakek sakit apalagi kakek udah kaya kakek sendiri bagi Andin. Andin gak pernah ketemu sama kakek Andin yang Andin tau cuman kuburan ma fotonya doang, apalagi ayah gak pernah mau cerita soal kakek.” Ucap Andin sedih tapi tangannya masih terus mengolesi beberapa potong roti dengan selai coklat.

“Ibu juga sebenarnya sedih kalo kakek sakit, apalagi kakeknya non Ical itu udah banyak membantu keluarga ibu.” Bu Hasan menghela napas lagi, menandakan betapa berat hidupnya dulu apabila tak dibantu kakeknya Ical. “Yah semoga aja kakek cepet sembuh biar non Ical gak murung terus.” Lanjut bu Hasan.

“Din lo masukin apa aja ke tas gw?” Tanya Ical yang muncul tiba-tiba didapur.

“Baju latihan, baju ganti, peralatan mandi, yah pokoknya yang ada dicatetan lo yang diatas meja belajar.” Andin menjilat selai coklat yang belepotan ditangannya.

Ical tak memberi tanggapan dan keluar lagi dari dapur. Andin segera menyelesaikan pekerjaannya dan memasukkan roti-roti tersebut ke kotak makan.

“Eh tunggu non, ini ada ramuan wedang jahe yang biasa kakek buat, kata kekek disuruh bawa biar nanti malam kalian gak kedinginan.” Bu Hasan memberikan bungkusan itu kepada Andin.

Hari itu karena hari sabtu jalanan agak lenggang, kalaupun ada macet yah cepat lancar kembali, 45 menit mereka sudah sampai disekolah kembali, mereka langsung menghampiri Han yang lagi bengong aja karena belum terlihat ada anggota ekskul yang lain.

“Kebetulan lo datang, bawa makan gak?” Han bangkit dan membersihkan celananya yang tampak sedikit kotor.

Ical duduk ditempak Han tadi duduk begitu juga dengan Andin.

“Mana, bawa makanan gak?” Han mengelus perutnya yang ia rasa semakin kurus karena belum diisi makan sejak siang tadi.

Andin mengeluarkan kotak roti dari tasnya, “Satu potong aja yah, sisanya buat tar malem.” Andin membuka kotak makannnya dan menyodorkannya ke Han, dengan sumringah Han mengambil sepotong roti dan langsung melahapnya segigit demi segigit, “Mantap.” Pujinya sembari mengunyah makanan.

“Yang lain belom datang?” Tanya Ical sambil memandang jijik kepada cara makan Han yang agak belepotan. Han menggeleng.

“Han latihan yuk, bentar doang.” Ucap Ical sambil melepaskan tas ransel dari pundaknya.

“Ogah ah tar gw laper lagi.” Jawab Han sekenanya.

“Ah bilang aja lo takut.” Ucap Andin sambil tersenyum melecehkan.

“Yeh siapa yang takut.” Han menyingsingkan lengan bajunya.

“Iya mungkin lo gak takut sama Ical tapi lo takut gak boleh minta makanan lagikan?” Tebak Andin sambil ketawa kemudian Ical dan Han turut tertawa.

Melihat rombongan senior datang, mereka menghela napas karena mereka tau apa yang akan dihadapi. Yah orang-orang yang akan siap bila disuruh mencoba mental, para senior jalan dengan dada membusung dan berkacak pinggak, tak tampak sedikit pun senyuman diwajah mereka, berlebihan nih nulisnya…

Tak lama para angota baru datang sambil tertawa-tawa, tapi sekejap saja tawa mereka berhenti ketika salah satu cewek yang bertampang sangar menyindir mereka semua. Ical, Andin dan Han saling lirik dan tersenyum melihat itu semua, kebetulan Han, Andin dan Ical telah mendapat tugas membereskan ruangan yang akan mereka gunakan untuk tidur nanti.

Beruntunglah Han, Ical dan Andin yang datang duluan dan tak terkena dampratan yang bisa menusuk hati begitu dalam. Sebelum magrib ketiganya sudah bisa bersantai dan yang pertama melaksanakan sholat magrib daripada teman-temannya yang masih sibuk mengerjakan tugas masing-masing.

Setelah makan malam mereka semua berganti baju latihan sambil mengobrol sebentar untuk menurunkan nasi dari tenggorokan mereka. Ical termenung saja di teras kelas, memikirkan keadaan kakeknya yang belum membaik sampai saat ini.

“Mikirin kakek?” Tanya Andin yang kemudian duduk disamping Ical. Ical tak menjawab hanya saja kepalanya mengangguk.

“Besok kita jenguk kakek yah, aku juga rindu padanya,“ Andin diam sebentar lalu melanjutkan lagi omongannya, “Dia udah seperti kakek gw sendiri, kakek yang selama ini gak pernah gw milikin, kakek yang selalu gw rindu yang gak akan pernah gw tau.” Ucap Andin sambil memandang langit yang masih menyisakan ruang untuk para bintang.

Ical tak berkomentar dengan apa yang dikatakan Andin walau ia sudah mendengarnya ribuan kali semanjak mereka dekat, semenjak mereka duduk dibangku sekolah dasar dulu.

“Eh disuruh turun tuh sama kak Maha.” Ucap Han yang mengaburkan lamunan Ical. Tanpa banyak bicara mereka bangkit dari duduk bukan dari kubur menuju lapangan, suasana aneh tiba-tiba saja terasa, udara malam yang seharusnya dingin malah menjadi begitu gerah bagi semuanya yang hadir dilapangan itu.

“Hari penyiksaan kita.” Gumam Andin di dekat telinga Ical, Ical tersenyum dan menyiakan ucapan Andin.

“Ayo semuanya rapihkan barisan!” Teriak salah satu senior yang selama ini melatih mereka, sepi tak ada yang bicara. Pemanasan dimulai, mereka melakukan peregangan seluh tubuh agar tak terjadi salah urat atau hal yang lainnya, pemanasan dilanjutkan dengan berlari 15 kali keliling lapangan, porsi yang lebih besar dari jatah latihan mereka tiap minggunya. Han kehabisan napas dan dengan terpaksa meminta izin untuk beristirahat menormalkan keadaan tubuhnya dan detak jantungnya yang semakin cepat. Andin sesekali menggoda Han ketika melewati tempat Han duduk. Sambil mengatur napasnya Han menahan kekesalannya terhadap Andin, melihat Han yang mencoba menahan diri malah membuat Ical dan yang lainya tertawa. Semakin banyak jumlah putaran lari yang dilakukan mereka semakin banyak juga yang meminta izin untuk menormalkan detak jantung.

Kak Maha yang menemani bu Ara yang menjabat sebagai salah satu Pembina tertawa sesekali karena melihat wajah anak didiknya yang tampak lucu karena kelelahan.

“Kak Maha bukannya suruh kita istirahat malah ketawa lagi.” Ucap Andin sambil terus berlari didepan Kak Maha, Kak Maha tak menghentikan tawanya malah ia bangkit dari duduknya dan mulai turut berlari, “Ayo terus semangat, masak udah pada capek sih? Saya aja belum capek.”Ucap Kak Maha lantang dan mulai berlari dengan semangat.

Mendengar omongan Kak Maha anak-anak bukannya tambah semangat berlari malah bersorak kepada Kak Maha, Kak  Maha berhenti dan memandang mereka satu persatu, tertawa ia karena melihat kekesalan diwajah muridnya. “Ayo teruskan lagi.”

Malam itu memang malam penyiksaan, udah lari yang rasanya tak henti-henti ditambah lagi dengan push up dan sit up yang gak tau udah hitungan keberapa semua anak mengeluh didalam hatinya sambil menahan rasa pegal luar biasa. Ical dan Andin sesekali saling lirik dan tersenyum melepaskan beban yang kalau dipikirin gak ada habisnya.

Ketika istirahat, Ical dan Andin yang kebetulan sedang mengobrol dengan kak Maha dikejutkan dengan seseorang yang datang menghampiri mereka dan mengajak Ical untuk berbicara agak menjauh dari mereka.

“Ical kenal sama dia?”

Andin mengangguk, “Saya juga kenal kok.”

“Lo kenal dia?” Sekali lagi kak Maha kaget. “Dia itukan pelatih seangkatan gw?”

Sekarang Han dan Andin yang kaget dengan hal itu. Awalnya Andin tak menyangka bahwa orang yang mendatangi Ical itu adalah salah satu jajaran pelatih yang dituakan di perguruan itu karena tadi mereka tak melihat kak Maha menyapa orang itu apalagi bersalaman, sedatangnya orang ita langsung memanggil Ical dan tersenyum pada Andin.

“Kamu ikut perguruan ini? Sejak kapan? Kakek kamu tau? Gimana kabar kakek kamu?” Tanya orang itu berturut-turut.

“Ah mas nanyanya jangan banyak-banyak dong susah tau jawabnya.” Keluh Ical pada laki-laki yang di panggilnya mas itu.

Lelaki itu hanya menghela napas.

“Kakek lagi sakit.”Ucap Ical lemas.

“Sakit? Sakit apa?” Tanya orang itu cemas.

“Biasalah mas ginjalnya bermasalah lagi.” Ical memandang lelaki yang ada dihadapannya, “Mas kita udah gak ketemu berapa tahun yah?”

Lelaki itu menggeleng, “Lebih dari lima tahun, dulu kamu masih kecil sekarang sudah sebesar ini.” Lelaki itu tersenyum lalu mengacak-acak rambut Ical, “kamu belum jawabpertanyaan mas.”

“Yah sama kaya yang lainnya, Ical baru 6 bulan ikut latihan disini, kakek tau dan setuju.” Ucap Ical sekenanya.

“Oh baguslah, tenang hati mas Swabaya. Salam untuk Andin yah. Mas mau temui yang lain dulu.” Lelaki yang diketahui bernama Swabaya pergi meninggalkan Ical lalu tersenyum kepada kak Maha. Ical kembali bergabung dengan Kak Maha, Han dan Andin.

“Mas Swabaya ngomong apaan Cal?” Tanya Andin buru-buru sebelum Ical bicara duluan.

“Nanyain kakek doang, dapet salam tuh.” Jawab Ical santai.

“Kalian benar kenal sama Baya?” Tanya kak Maha sekali lagi.

“Memangnya kenapa a`?” tany Ical penasaran.

“Dia itukan pelatih seangkatan gw, lo pada kenal dari mana?” Sekali lagi kak Maha bertanya. Han hanya menyimak omongan mereka sambil berfikir bahwa kedua temannya itu bukan murid biasa diperguruan itu.

“Dia itu anaknya temen kakek saya, jelas saya kenal dia. Emangnya ada apa sih a` sampai kaget kaya gitu?” Ical menggaruk kepalanya yang gak gatal tapi karena bingung.

“Bapaknya itu temennya guru besar disini, jangan-jangan kalian pernah belajar dari bapaknya Baya?” Kira kak Maha.

“Gak kok a`, gak boleh sama kakek, kata kakek ilmunya ketinggian buat kami,” Ucap Andin.

“Oh begitu. Yah sudah panggil yang lainnya untuk turun.” Maksudnya turun disini adalah berbaris dilapangan untuk memulai latihan.

“Latihan lagi a`?” Tanya Andin tak percaya.

“Oh iya dong.” Jawab Kak Maha sambil menyeringai bak serigala.

Kak Maha sudah ada duluan dilapangan sambil melakukan peregangan sedikit sambil menunggu semua anak berkumpul dan berbaris. Ical dan Andin tak langsung ikut uji fisik karena mereka kebagian tugas jadi sie. Konsumsi. Swabaya menemani mereka berdua  sambil mengobrol.

“Kakek di rumah sakit mana Cal?” Tanya Swabaya  sambil membuka sebungkus kacang dan mulai memakannya.

“Di rumah sakit umum, mas kabar babe gimana?” Tanya Ical sambil turut mengupas kulit kacang dan memakan isinya.

“Babe? Yah gitulah Cal, udah tua bukannya menikmati hidup malah sibuk ngajar silat lagi.” Swabaya menggeleng-gelengkan kepalanya.

“Cal kapan-kapan main yuk ke tempatnya babe.” Ajak Andin sambil menuangkan air panas ke gelas yang berisi kopi.

Ical hanya memberi tanda dengan kepalanya yang artinya setuju dengan ajakan Andin.

“Tadi Maha bingung, kenapa kalian kenal mas?”

“Iya.” Jawab Andin singkat.

Baya tak banyak bertanya lagi. Ia hanya membantu Ical dan Andin membawa kopi dan teh untuk minuman para pelatih dan guru besar yang datang.

“Ical, Andin, ayo turun dan push up 50 kali untuk kesalahan kalian.” Teriak Maha dari tengah lapangan.

“Kesalahan apa a’?” Protes Andin.

“Karena kalian di bantu sama pelatih kalian.”

Andin dan Ical hanya geleng-geleng saja dan tersenyum, kalo pun bukan karena alasan itu mereka pasti tetap akan melakukannya. Swabaya tertawa lalu berteriak

“Maha jangan diapa-apain yah 2 ade gw itu, tar lo yang kena marah babe loh.”

Maha kaget dengan ucapan Swabaya itu karena ia menganggap Babe memiliki peran yang besar dalam hidupnya.

Ujian fisik yang baru pertama dirasakan Ical, Andin serta teman-temannya sungguh sangat menyiksa, menguras tenaga dan emosi padahal latihan pemanasannya aja udah pengen mati rasanya, tapi hanya Andin dan Ical yang tak kehilangan tawa karena Baya selalu menyemangati mereka. Hal itu membuat para pelatih bingung.

“Baya, mangnya tuh anak 2 siapa lo sih?” Tanya Hapsa salah satu pelatih.

“Kakek mereka itu temanya babe, gw juga baru tau kalo mereka ikut latihan disini, biasanya mereka latihan ma kakeknya.” Ucap Baya yang kemudian meminum kopinya.

“Jadi mereka sebelum ini dah belajar silat?”

Baya hanya mengangguk. Hapsa mengangguk-angguk tanda mengerti.

“Uh akhirnya selesai juga.” Andin menjatuhkan tubuhnya di lantai.

“Woi lo yang bener aja tidur disini.” Han menendang kaki Andin dan memaksanya untuk bangun.

Ical membawa 2 gelas berisi teh hangat, lalu mengajak Han dan Andin menikmatinya bersama. Han membuka-buka tas ical mencari cemilan.

“Cal hp lo ada panggilan tak terjawab tuh.” Han memberikannya pada Ical.

“Kakek!” Seru Ical girang.

“Kakek kenapa Cal?”

Ical tak menjawab pertanyaan Andin, dia malah menelepon kakeknya. “Halo Kek.”

“Ical,” Ical me-loudspeaker hpnya.

“Halo kakek, gimana keadaan kakek?” Tanya Andin mewakili Ical.

“Kakek baik, gimana kalian?”

“Capek deh!” Ucap Andin dan Ical bersamaan.

“Kek, ada yang mau kenalan nih.” Ical memberi tanda kepada Han untuk berbicara.

“Halo kek, nama saya Han.” Han tak tau apa yang harus dikatakanya lagi.

“Halo juga Han, kakek banyak dengar tentang kamu dari Andin dan Ical.”

“Kek tau gak siapa lagi yang ada disini?” Tanya Ical bersemangat.

“Siapa ndok?”

“Mas Swabaya.” Ucap Andin lebih semangat.

“Swabaya?”

“Iya gak taunya dia pelatih disini kek. cuman tadi gara-gara dia, Andin sama Ical kena hukuman gara-gara dibantuin dia.”

Kakek tertawa pelan.

“Oh iya tadi kakek ada apa telpon?”

“Kakek besok pulang.” Teriakkan bahagia kemudian terdengar dari Ical dan Andin.

“Ical sama Andin besok yang jemput kakek yah?”

“Iya, ajak Swabaya juga.”

“Iya kek, selamat malam.” Ucap Ical dengan wajah masih penuh kegembiraan.

“Iya.”

Waktu penilaian tiba, semua peserta terlihat begitu gugup apalagi mereka tak tahu system apa yang digunakan oleh para pelatih untuk menilai. Setelah semuanya hampir selesai Baya dan Usan alias husain menghampiri Ical dan Andin.

“Kalian nanti tunjukin gerakan yang udah diajar kakek yah.” Bisik Baya.

Ical dan Andin memandang aneh kepada Hapsa dan Baya. “Kak Maha udah tau?”

“Belum, anggap aja kalian kami yang minta secara khusus.” Ucap Hapsa.

Andin memandang Ical dan Ical memberi anggukan, “Oke.”

Semua terdiam ketika Andin dan Ical dipanggil lagi. Swabaya memberi tanda kepada keduanya. Maha yang penasaran kini berdiri tak jauh dari mereka. Andin dan Ical saling memberi tanda lalu memulai gerakannya dengan salam khas perguruan kakeknya. Suara lantang keluar dari mulut Ical untuk memberi aba-aba gerakan selanjutnya.

Mereka berputar meyapu seluruh lapangan dengan pandangan, Andin dan Ical bertukar posisi lalu berlari dan menendang dengan gerakan memutar terlebih dahulu. Buk mereka sengaja menjatuhkan diri lalu melakukan rol belakang dan saling menempelkan punggungnya. Kini mereka memutar badan dan saling berhadapan, Ical memasang kuda-kudanya dengan kuat, Dalam sekejap tubuh Andin telah melenting kebelakang dan dengan mulus jatuh dengan kedua kakinya dan langsung menyerang dengan sapuan kakinya.

Mereka berdua seperti satu hati, kadang Andin yang berada didepan untuk memimpin, kadang Ical bergulir ke depan untuk memimpin. Gerakan yang terbilang cukup sulit mulus dilakukan mereka semua, ketika Andin melakukan salto belakang Ical malah melakukan kebalikannya dan langsung menyerang kearah depan sedangkan Andin menyarang kearah belakang, mereka memutar arah kearah samping dan melakukan tendangan kearah tengah. Semua kaget ketika tendangan mereka hampir bertabrakan, hanya Baya yang tersenyum bangga kepada kedua anak itu.

Pertunjukan selesai dan mereka kembali memberikan salam. Mereka jatuh terduduk dan mengatur napas. Kak Maha memberi tepuk tangan pada mereka dan menyalami keduanya.

“Kapan-kapan kalian melatih yang lain untuk bisa sebanding dengan kalian.” Bisik Kak Maha.

Baya membawa 2 gelas air mineral dan menyerahkannya pada Ical dan Andin, “Bisa kalah nih aku.”

Andin tersenyum dan langsung menegak minumannya, Ical mengikuti Andin dan tiba-tiba berdiri, “Sekarang mas dong yang peragaain jurusnya babe.” Tantang Ical.

Baya tertawa dan menggeleng. Ical menengok kak Maha dan kak Maha menepuk pundak Baya. Baya tersenyum dan langsung melakukan sedikit meregangang tubuhnya. Andin memimpin semuanya untuk tepuk tangan. Semua terdiam ketika Baya mengangkat tangan. Swabaya memasang kuda-kuda dengan mengangkat kakinya satu dan tangannya terbuka lebar, Baya diam beberap saat namun kemudian melakukan gerakan pelan yang sebenarnya sangat mudah diingat hanya saja itulah yang mempunyai kemampuan melumpuhkan lawan dengan singkat apabila dipadukan dengan tenaga dalam. Tubuh Baya terus bergerak, berputar dan kadang melesat kearah depan dengan pisau kakinya.

Suara tepukan terdengar 3 kali yang entah berasal dari mana. Baya mengakhiri gerakannya karena ia tau siapa yang memberi tanda itu. Semua mencari sumber suara namun tak ditemukan siapapun. Andin dan Ical berlari menuju gerbang, semua bertanya-tanya apa yang mereka lakukan. 2 orang yang telah bersahabat dari taman kanak-kanak itu kini datang bersama seseorang yang menggunakan jaket tebal, orang itu merangkul Ical dan Andin yang saling tersenyum kepada orang itu.

“Beh, kakek besok pulang dari rumah sakit, babeh ikut jemput yah sama mas Baya?” Ical masih terus tersenyum.

“Iya, setelah itu kalian ke rumah yah, kita bakar gurame.”

Andin langsung melebarkan senyumannya dan menyelus perutnya yang mulai lapar. Swabaya dan Maha datang menghampiri ketiga orang yang sedang asik mengobrol itu.

“Saya kaget , kalo mereka kenal Baya.” Ucap Kak Maha.

“Dulu Maha, kakek Ical teman seperguruan babeh, dan mereka ini yang diharapkan bisa mempertahankan perguruan kami.” Babeh mengacak-acak rambut Andin dan Ical.

“Wah kalo gitu nih anak dua kakak seperguruan saya dong,” Kak Maha tertawa dan membuat Andin tersipu malu.

* * *

Beberapa waktu sebelumnya.

Bayu menjatuhkan dirinya diatas rumput yang cukup hijau, tanpa takut ada semut, cacing bahkan ulat bulu. “Ayo Mi, lo lama banget sih ngangkat airnya, gw aja dah 10 kali bolak-balik.” Teriak Bayu sambil memejamkan matanya, ia tak tahu Fahmi sudah berada di dekatnya dan siap dengan seember air.

Byurrr……… sukses membasahi tubuh Bayu, Fahmi tertawa dan melemparkan ember air itu entah kemana, Bayu segera mengejar Fahmi.

“Eh curut kesini lo!” Teriak Bayu dengan marah, Fahmi malah menengok kebelakang dengan tetap terus berlari sambil menjulurkan lidahnya mengejek Bayu.

Fahmi berhenti dan memasang kuda-kudanya bayu menghentikan langkahnya dan turut melakukan apa yang dilakukan Fahmi, tapi tiba-tiba Fahmi tertawa terbahak-bahak dan menjatuhkan dirinya di tanah, “Muka lo kaya kucing kecebur got.” Ucap Fahmi disela tawanya.

“Kucing yang kecebut got gara-gara ngejar curut yang gak ada dagingnya kaya lo.” Bayu tertawa lepas.

Setelah mereka capek latihan beban mereka membersihkan diri dan beristirahat dirumah Fahmi.

“Mi.” Panggil Bayu sambil memejamkan mata.

“Em…”

“Gak jadi.” Sebenarnya Bayu ingin berbicara dengan Fahmi soal isi hatinya tentang Andin, wanita yang selama ini selalu berada disampingnya dan selalu berbuat sesuatu untuk menyenangkan hatinya, tapi ada sebuah perasaan yang menyisip diantara perasaan rindunya dengan Andin, rasa penasaran tentang sahabat Andin yang tak pernah ia temui.

“Bay, tar malem jalan-jalan yuk.”

“Kemana?”

“Cari tempat baru, gw bosen ketempat biasa.”

Mereka berdua berfikir.

“SEKOLAH!!” Teriak mereka berdua.

Keduanya bangkit dan menyiapkan ransel lalu pamit pada ayah Fahmi tapi karena merasa kurang  komplit bila tidak membawa makanan mereka sempatkan jalan-jalan dulu di mal tak jauh dari rumah.

Malam telah larut mereka baru sampai di sekolah setelah diusir satpam karena sudah waktunya tutup mereka tetap berada di mal itu.

“Kok rame sih?” Tanya Fahmi bingung.

“Ya ampun gw baru inget kalo hari ini anak-anak silat pada kenaikan tingkat.”Bayu menepuk jidatnya.

“Wah ada gebetan lo dong, si Andin.” Fahmi menggoda Bayu.

Bayu gak menanggapi ucapan Fahmi tapi mereka berjalan menyusuri kelas-kelas kosong. Mereka meninggalkan tas mereka diloker masing-masing.

“Siap?” Tanya Fahmi ketika selesai memasukkan beberapa benda ke saku celana dan jaketnya.

“Siap.” Bayu bersikap hormat pada Fahmi.

Dengan mengendap-endap dan mencoba sebisa mungkin tak meninggalkan keributan mereka mulai “jalan-jalan ala mereka”.

Semua anak-anak silat tengah beristirahat dikelas tak ada satu pun yang diizinkan keluar ruangan kecuali ingin ke kamar kecil. Andin, Ical, Baya, Maha dan Babeh masih asik ngobrol, semuanya diobrolin dari hal tentang silat sendiri sampe hal-hal yang bersifat pribadi.

“Apaan tuh?” Ucap Ical yang seketika itu juga bangkit dari duduknya dan keluar ruangan, ia melihat keadaan, sepi yang ia dapatkan.

“Kenapa Cal?” Tanya Babeh khawatir.

Ical kembali duduk dan menggelengkan kepalanya. Tapi sekali lagi suara itu terdengar, Ical bangkit lagi dan kini ia yakin dengan suara yang ia dengar itu bukan suara yang ada di dalam pikirannya. Andin menyusul Ical keluar begitu juga dengan Baya yang diberi tanda oleh Babeh untuk mengikuti mereka. Ical mengunggu Andin meyamakan langkah begitu juga dengan Swabaya.

“Ada apa Cal?” Swabaya menghentikan langkah Ical.

“Ada orang.” Jawab Ical agak cemas.

“Paling cuman penjaga sekolah.” Swabaya mencoba mengajak Ical balik ke kelas.

“Kita periksa dulu.” Mohon Ical sambil menatap Swabaya memelas.

Swabaya menghela napas, “Oke.” Mereka bertiga berjalan beriringan sampai ke lantai berikutnya, Ical memberi tanda untuk jangan menimbulkan suara. Ical berada di depan yang kemudian disusul oleh Andin dan Swabaya. Swabaya yang lebih tinggi melihat melalui jendela yang bagian bawahnya sengaja di cet agar tak terlalu mengganggu saat ada orang yang berjalan di lorong.

Tak ada apa-apa, ucap Bawa dalam hati. Ketika Ical hendak membuka pintu tiba-tiba saja seseorang keluar dan menabraknya hingga terjatuh. Ical berteriak dan langsung mendorong orang itu dari atas tubuhnya. Sial orang itu berhadapan dengan Ical, Ical menarik tangan orang itu dan memutaranya hingga orang itu merintih kesakitan. Dasar nasib Ical sedang kurang bagus seorang lagi keluar dari kelas dan menubruknya lagi. Andin segera menangkap orang itu dan Baya menangkap orang yang tadi sempat Ical lumpuhakan.

“Bayu?” Andin melepaskan Bayu dari pegangan Baya, “Ngapain lo malem-malem disini?”

Bayu nyengir, “Lagi jalan-jalan.”

“Ini siapa?” Tunjuk Andin kepada orang yang tadi ia ringkus.

“Fahmi.”

Andin dan Ical mengangguk saja.

“Kalian kenal mereka?” Tanya Baya panic.

“Temennya Andin.” Ucap Ical kesel lalu berjalan kearah tangga. Baya mengikutinya begitu juga dengan yang lain.

“Lo jalan-jalan disini malam-malam?” Tanya Andin lebih lanjut.

“Jalan-jalan nyari setan.” Celetuk Ical dari depan barisan.

Babeh memandang lama wajah Fahmi, ia merasa begitu kenal dengan wajah itu, tapi entah siapa orang yang ia maksud. Ical memandang wajah serius Babeh ketika berhadapan dengan Fahmi, “Kenapa Beh?”

Babeh menggeleng, “Kalian ngapain dikelas itu?”

Fahmi tertawa kecil lalu garuk-garuk kepala, “Iseng nyari setan.”

Kak Maha tertawa dengan jawaban itu, ia kembali teringat dulu ketika ia sering pergi malam-malam ke tempat keramat dan menantang semua penghuni disana, bukannya hantu, setan atau jin yang datang dia justru berhadapan dengan anjing liar, seketika itu juga ia lari terbirit-birit. “Dapet gak setannya?” Ucapnya sambil memegangi perutnya yang sakit karena tertawa terlalu keras.

* * *

Ical bingung memikirkan kejadian semalam, ketika Bayu dan Fahmi yang sengaja datang ke sekolah untuk mencari setan, gak habis pikir Ical tentang hal itu, selama ini biarpun mereka tampaknya sudah akrab dengan hal itu namun tetap saja aneh, apalagi Bayu sebagai salah satunya, cowo ter-cool, terapih dan…pokoknya terlebih dah, melakukan hal yang tidak wajar, kalo Fahmi yang kata teman-teman Ical memang suka aneh Ical menganggap hal itu wajar bagi dia, walaupun sebenarnya Ical gak kenal langsung, Ical hanya tau mereka dari cerita Andin, entah mengapa Andin tak pernah mau mengenalkan mereka.

“Woi mikirin apa sih?” Andin menepuk pundak Ical dari belakang karena semenjak solat shubuh tadi Ical hanya bengong aja.

“Kok lo mau sih temenan sama Bayu? Ganteng sih…tapi masak hobinya nyari setan, tar lo ketularan aneh loh.” Peringat Ical.

“Seru juga kayanya kalo kita bisa nyari hantu, kaya di tivi-tivi tuh.” Andin malah terkekeh.

“Kalian mau jenguk kakek jam berapa?” Tanya Swabaya tiba-tiba.

Ical dan Andin menengok ke arah Swabaya secara bersamaan, “Jam 9.” Jawab Andin pendek.

Swabaya turut duduk disamping Ical, “Sedih rasanya kalo orang yang kita sayangi itu sakit.” Ucap Swabaya pelan.

Ical menghela napas panjang, “Ical gak bisa bayangin kalo kakek gak ada disamping Ical lagi.” Ucap Ical menahan harunya.

“Bahkan aku yang bukan cucunya saja akan merasa sangat kehilangan, karena dari dia aku bisa merasakan kasih sayang seorang kakek.” Lanjut Andin meneruskan kata-kata Ical. Swabaya memandang keduanya dari samping, mereka selama ini sudah seperti adiknya sendiri, Swabaya mungkin merasa hanya mereka berdualah yang selama ini bisa mengerti keinginannya walaupun umurnya terpaut cukup jauh dari usianya.

“Swabaya.” Panggil Babe yang telah berada dibelakangnya. Swabaya, Andin dan Ical menengok ke arah Babe, “Kamu pulang dulu dan siapkan apa yang semalam Babe omongin.” Babe tampak tak melihat Andin dan Ical karena ia berlalu begitu saja.

“Aku pulang dulu.” Swabaya bangkit dan mengulurkan tangannya untuk bersalaman. Mereka berdua menerima uluran tangan Swabaya. Swabaya menatap mereka berdua.

“Kenapa?” Tanya Ical sambil mencoba tersenyum.

Tiba-tiba saja Swabaya memeluk mereka berdua lalu pergi tanpa kata-kata. Ical dan Andin saling lempar pandangan.

“Hati-hati yah mas.” Ucap Ical dengan senyuman kecil, Swabaya tak menengok lagi.

Di Rumah Sakit.

“Pak, kita langsung pulang saja yah?” Ucap Mamanya Ical sambil membereskan pakaian kakeknya.

“Aku mau pergi dulu sama cucu-cucuku.” Ucap Kakek yang kemudian terbatuk.

“Tuhkan batuk lagi.” Keluh Mamanya Ical sambil memberikan segelas air minum.

“Aku hendak berkunjung ke rumah kawan lamaku.” Ucap Kekek sehabis minum.

“Kerumah siapa?” Tanya Mama Ical sambil menaruh gelas minum. Lalu memandang kakek berharap sebuah nama disebutkannya, sebuah nama yang menyimpan sebuah rahasia keluarga.

“Kakek…”Ical masuk dan langsung memeluk kakeknya.

“Ical kamu sudah datang?” Mamanya menerima uluran tangan Andin.

Seorang laki-laki masuk sambil berjalan pelan dan menebar senyumnya, “Apa kabar kawanku?” Ucapnya sambil terkekeh karena mentertawakan keadaan mereka masing-masing. Sungguh terkejut Mamanya Ical melihat orang itu.

“Apa kabar ndok?” Tanya Babe kepada Mamanya Ical.

“Baik.” Ucap Mamanya Ical agak sedikit gugup.

“Mana suamimu?” Lanjut Babe.

“Di luar negeri, mengurus pekerjaan.” Ucap mamanya Ical sambil kembali memasukkan baju kakek ke dalam tas.

“Wah tampaknya Dewo, mejadi seorang yang sangat sukses, aku juga membaca namanya beberapa kali  muncul di Koran bisnis.” Ucap Babe bangga. Kakek tersenyum padanya.

“Nanti aku ingin menghabiskan hasil tambakmu.” Ucap Kakek kepada Babe.

“Sudah aku perhitungkan hal itu dan sudah kusiapkan hasil tambak dan kebunku yang terbaik untukmu dan cucu-cucumu ini.” Babe mengumbar senyum lagi.

“Mama…” Panggil seorang anak kecil yang masuk bersama seorang wanita muda.

“Ini cucu laki-lakimu?” Tanya Babe sambil melihat Mamanya Ical menggendong dan mencium pipi Paun.

Kakek mengangguk dan tersenyum. “Paun ayo salim sama teman kakek.”

Paun yang masih berada digendongan mamanya mengulurkan tangan untuk salim.

“Anak pintar.” Puji Babe.

“Mama Kakek mau pulang yah? Kakek sudah tidak sakit lagi?” Tanya Paun cerdas.

“Iya kakek mau pulang. Tapi sekarang Paun sama bibi dulu yah diluar.” Mamanya Ical mengambil alih Paun dari gendongan kakek.

Wanita muda yang tadi masuk bersama Paun kembali menuntun Paun keluar kamar karena mamanya tak mau ada masalah karena kakeknya hendak pergi dengan Ical, biasanya Paun akan menangis jika melihat Kakek pergi bersama Andin dan Ical.

Di rumah Babe.

“Wah semakin rimbun saja rumahmu.” Puji Kakek.

“Tinggallah disini beberapa hari, kita memancing dan berjalan-jalan dikebun seperti dulu.” Ucap Babe sambil memimpin mereka bertiga berjalan memasuki pekarangan rumah. Swabaya datang dan menyambut mereka.

“Swabaya kah ini? Tampan sekali anakmu? Andai saja aku punya seorang cucu sebaya dengannya pasti akan kujodohkan dengannya.” Ucap Kakek sambil menerima salam dari Swabaya.

“Kek Ical aja tuh nikahin sama mas Baya.” Goda Andin.

“Ih…kamu gemesin banget sih. Mas maunya sama kamu gimana?” Swabaya menggoda Andin dan Ical tertawa.

“Ayo masuk.” Ajak Babe.

Hari itu kakek memang baru keluar dari rumah sakit tapi tak tampak sedikitpun dari tubuh dan gerak tubuhnya bahwa ia masih belum sehat betul. Mereka asik menikmati kelapa muda, ikan bakar serta beberapa buah-buahan hasil kebun. Ical dan Andin yang sebenarnya tenaganya telah terkuras habis dan tidak tidur semalaman tapi tak tampak mengantuk, bahkan mereka merasa menikmati kegiatan hari itu.

Swabaya senang sekali dengan kedatangan mereka apalagi karena swabaya anak satu-satunya babe kadang ia merasa kesepian apalagi semenjak babe tak berhubungan lagi dengan kakeknya Ical.

Sehabis sholat zuhur kakek menyuruh Andin dan Ical untuk istirahat karena kakek akan berbicara serius dengan babe, awalnya Andin dan Ical penasaran tapi karena rasa kantuk mulai menyerang mereka yah mereka tidur saja.

*  *  *

“Hai…apa kabar beruangku?” Berry tiba-tiba berdiri disamping Ical yang sedang menikmati udara siang itu, sudah lebih dari 2 minggu ia tak merasakan udara siang dari teras kelasnya.

“Beruang?”

“Boleh yah gw manggil lo beruang?”

Ical tak menjawabnya, ia hanya melempar pandangannya ke lapangan.

“Bisa keadaan kita baik lagi?”

Ical diam.

“Gw kangen bisa ngobrol dan berantem ma lo.”

Ical masih terdiam.

Berry menatap Ical yang masih terdiam, dipalingkan wajah Ical pada dirinya, Berry semakin mendekatkan wajahnya, Ical bisa merasakan hembusan napasnya dan mendengar detak jantung Berry.

“Icaaaaallllllll……….” Ical terbangun dari tidurnya.

“Kakek ngajak pulang tuh.” Andin menyisir rambutnya di depan cermin.

Ical tampaknya belum bisa mengartikan keadaannya sekarang, mimpi atau kenyataan.

Ical hanya tersenyum dan memasukkan apa yang diberikan oleh Swabaya kedalam saku celanya.

*  *  *

Liburan sudah berakhir, mereka harus kembali ke sekolah, Andin seharian tersenyum-senyum sendiri karena senang akan kembali ke sekolah sedang Ical begitu waswas, “Bener gak yah kalo mimpi waktu itu bisa terjadi? Ah senangnya jika bisa beneran.” Gumamnya saat sampai di gerbang sekolah.

Tin…tin…sura klakson motor mengegetkan Ical. pengendaranya membuka helm dan menyapa Ical dengan senyuman. “Kok bengong bukannya minggir.” Ucapnya sambil tersenyum.

Ical tak menanggapinya dan berjalan menjauhinya.

“Cal tungguin gw!” Panggil Berry lagi.

Ical berdiri dibawah pohon menghindari panasnya matahari.

“Gimana liburan lo?” Tanya Berry sambil berjalan cepat kearah Ical.

“Not good.” Jawab Ical sambil melirik kearah lapangan, masih tampak sepi.

“Kenapa? Oh iya gimana kenaikan sabuk lo?”Tanya Berry basa-basi.

“Ya gitulah.”

“Kenapa sih? Kok jawabnya singkat-singkat gitu.”

“Gak kenapa-napa kok.”

“Tuh kan jawabnya kaya gitu doang, ada apa sih?”

Ical berhenti berjalan dan menatap wajah Berry, “Kakek gw sakit.”

Berry terkejut dan langsung merangkul Ical, “Ngomongnya di kantin aja yuk, masih lama kok masuknya.”

Ical mengikuti saja langkah kaki Berry.

“Sakit apa?” Tanya Berry setelah mendapatkan tempat duduk dan mempersilahkan Ical duduk.

“Umur.” Jawab Ical bingung.

“Kok umur?” Berry ikutan bingung.

“Yah namanya juga udah tua.”

Berry tak bisa berkata lagi, ia bangkit dan meninggalkan Ical sendiri.

“Hai cal…”Seorang cowo dengan tubuhnya yang lumayan bagus, menurut Ical, menyapanya sambil melambaikan tangan.

Ical hanya tersenyum, selain dia malas ngomong dia juga lupa siapa cowo yang menyapanya tadi.

“Siapa?” Berry mengejutkan Ical dari belakang.

“Gak tau tapi kayanya dia satu ekskul deh sama gw, lupa namanya.”

“Oh…” Tanggap Berry.

Ical menatap Berry yang lagi sibuk mencari sesuatu. “Nyari apa sih? Kayanya ribet banget.”

Berry terus mencari sesuatu dalam tasnya. Karena tak digubris pertanyaannya Ical diam saja menikmati angina kantin.

“Nih buat lo.” Tiba-tiba Berry menyodorkan sebuah kotak.

“Buat gw? Gw gak ulang tahun kali.”

“Iya gw tau, tapi emangnya gak boleh yah kalo gw pengen ngasih kado?”

Ical melirik Berry, “Makasih yah. Boleh dibuka?”

“Buka aja.”

Ical membukanya dan sebuah gantungan hp menampakkan diri dengan sebuah boneka beruang kecil berwarna abu-abu, “Ih lucu banget…makasih yah.” Ical mengeluarkan gantungan hp dan boneka itu dari kotaknya.

“Nah kalo senyum gitukan tambah cantik.” Puji Berry.

“Ih apaan sih!”

“Boleh aku manggil kamu beruang?”

Ical menatap Berry dengan tatapan bingung. Ical teringat mimpinya dan ia tak bisa berkata apa-apa.

“Kalo kamu diam artinya setuju.”

Ical hanya tersenyum.

Pesenan Berry datang, 1 gelas mocachino dan 1 gelas milkshake stawbery.

“Nih…” Berry menyodorkan milkshake ke Ical.

“Aku kan gak mesen.”

“Masak ke kantin cuma nongkrong doang, udah minum aku traktir, enak loh.”

Ical mencoba milkshakenya, “Enak, makasih yah.”

*  *  *

Minggu, latihan pertama sejak liburan sekolah berakhir.

“Han sini deh.” Ical memanggil Han yang baru datang.

“Apa?”

“Lo kenal sama cowo itu?” Ical menunjuk cowo yang waktu itu menyapanya di kantin.

“Oh dia, kayanya anak kelas satu delapan deh.”

“Namanya?”

“Gak tau, mang kenapa lo suka dia?”

“Ih apaan sih lo…Gw bingung aja waktu gw lagi dikantin ma temen gw tau-tau dia nyapa gw gitu padahal gw gak kenal sama dia.”

“Oh gitu. Ganti baju yuk dah mau jam 3 nih.” Han mengeluarkan baju latihan dari tasnya.

“Duluan aja gw nungguin Andin dulu.”

“Beneran nih gak mau liat gw ganti baju?” Han cengengesan.

“Gak banget deh.” Ical segera menjauhi Han yang mulai error otaknya.

Jam 3 tepat mereka sudah turun ke lapangan dan berbaris dengan rapih.

“Kok sepi banget sih, seniornya cuma ada 2 orang dua doang.” Keluh Jihad pada Han.

“Iya nih tumben.” Sahut Andin.

“Ayo mulai berdoa.” Seru Ical mengingatkan yang lain.

“Berdoa menurut agama paling seru dan paling ngetren.” Teriak Han sambil terkekeh.

“Uh….”

Semua terdiam dan menunduk, mulut mulai berkomat kamit kaya dukun, hehehe… Jihad memimpin pemanasan tu…wa… tu…wa…kaya gerak jalan aja.

2 orang senior hanya duduk melihat anak-anak kelas 1 pemanasan, “Lo tau hasil kenaikan tingkat kemaren?” Tanya seorang yang bertubuh tinggi dan bertampang agak serem.

“Kemaren sih gw liat ada beberapa orang yang bisa masuk kategori unggul.” Jawab Afir yang bertubuh pendek dan bertampang imut, imut apa amit yah.

“Siapa aja?”

“Lo pasti bisa nebak lah.”

“Dari pengamatan gw sih emang ketauan banget siapa-siapa aja yang unggul.”

“Yah mungkin aja mereka nanti yang bisa bertahan, lo liat aja sendiri anak-anak lamanya gak ada yang nongol sedangkan mereka masih semangat latihan walau udah kita bantai trus pas latihan.”

“Iya sih, moga aja mereka bisa nerusin kita.”

“Udah ah ngobrol terus, yuk jangan mau kalah sama mereka.” Yang bertubuh kecil mendahului yang bertubuh tinggi. “Ayo semuanya lari sepuluh putaran.”

Satu…satu…dua…dua…teriak anak-anak iseng sambil diiringi tawa.

Hari itu latihan tidak terlalu berat gak seperti minggu-minggu menjelang kenaikan tingkat kemaren, hari itu mereka cuma latihan jurus tenaga dalam untuk sesi pertama.

“Istirahat lima belas menit!” Teriak senior yang bertubuh besar dan biasa di panggil Gusnan.

Ical dan Andin langsung berlari ke kelas dan menegak minuman yang mereka bawa.

“Bagi dong.” Han merebut botol minuman dari tangan Andin.

“Ih rese lo, beli sendiri dong.” Andin merebutnya kembali.

“Eh udah jangan berantem, nih punya gw aja.” Ical menyodorkan botol minumannya ke Han.

“Duh temen gw yang satu ini baik banget sih, makasih yah.” Han keluar kelas sambil menegak minbuman dari Ical.

“Ih Cal kok lo malah ngasih minuman lo ke Han sih?”

“Biarin aja, lagi lo ribut terus sih sama dia.” Ical menarik Andin ke musholah untuk sholat Ashar.

“Eh Rud lo kok baru muncul lagi sih?” Tanya Jihad yang baru selesai sholat.

“Heheh…bis gw kesel tiap minggu kena omel ma di kerjain doang.” Keluh Rudi, salah satu anggota lama tapi baru aktif lagi.

“Ya elah gara-gara itu doang toh. Gw juga sih sempet mikir kaya gitu tapi pas kemarenan kak Maha ngomong kalo itu emang sengaja buat persiapan mental kita.” Jelas Jihad.

“Oh gitu yah, wah berarti gw rugi dong kemarenan gak ikut latihan ma gak ikut kenaikan tingkat.”

“Wah lo rugi banget, pas kenaikan tingkat kemaren itu si Ical ma Andin nunjukin radikal dari perguruan kakeknya, keren banget apalagi kak Swabaya, pokoknya mantap dah.” Jihad tampak sangat bersemangat.

“Wah rugi banget nih gw, eh Ical ma Andin yang itu kan?”

Jihad hanya mengangguk, “Yuk ke kelas lagi.”

“Cal, kira-kira nilai ujian kita berapa yah?” Tanya Andin sambil memakai mukena.

“Mana gw tau tapi moga-moga aja bisa dapet bagus.” Ical memulai sholatnya. Sesudah sholat dan berdoa mereka dan yang lainnya segera kembali berbaris dilapangan, “Din.” Panggil Ical.

Andin menengok dalam posisi kuda-kuda tengah.

Lumayan membuat berkeringat juga melakukan kuda-kuda sejajar dengan posisi rendah. Semua anak tampak basah oleh keringat.

“Ayo masa gini aja gak kuat, kan kalian mau ganti tingkat, kemampuannya juga harus jadi lebih baik dong.” Senior yang bertampang agak seram memberi semangat.

“Ternyata dia gak galak sama sekali.” Gumam Ical.

Di menit-menit terakhir latihan Kak Maha datang dengan motornya yang dilengkapi dengan knalpot super berisik. Tapi semuanya tetap berkonsentrasi dengan latihan. Kak Maha tak langsung menemui anak-anak dia malah menunggu selesai latihan sambil mengisap sebatang rokok.

“Ok latihan selesai, tolong ketuanya pimpin doa.” Perintah senior yang bertubuh agak kecil.

Setelah berdoa selesai mereka langsung berlari berebutan untuk salim kepada Kak Maha, entah itu kebiasaan atau ada filosofinya, orang dulu bilang kalo kita salim sama guru tandanya guru tersebut akan nurunin ilmunya, katanya loh…

“Kok tumben kak baru datang jam segini?” Tanya senior yang bertubuh kecil.

“Kita rapat hari ini.” Ucap Kak Maha yang kemudian mengisap rokoknya dalam-dalam.

“Tapi kita cuma berdua doang.” Ucap Senior yang bertubuh besar.

“Nanti yang lain juga datang, saya butuh semua anggota ikut rapat.” Kak Maha masih bersikap cuek.

“Baik.” Senior yang bertubuh besar segera ke kelas dan memberitahukan yang lain untuk jangan pulang dulu.

“Ada rapat apa sih kak Gus?” Tanya Andin penasaran.

Senior yang bertubuh besar yang ternyata bernama Gusnan atau yang biasa dipanggil Gus itu mengangkat Bahu.

Andin tak bertanya lagi, ia segera menghampiri Ical yang duduk di pojok ruangan, “Rapat apa menurut lo?”

Ical menarik napas panjang lalu membuangnya dengan cepat, “Paling masalah pengurangan ekskul.”

“Bisa jadi, kira-kira apa yah yang bakal terjadi?” Tanya Andin sambil melihat suasana diluar yang sudah hampir gelap sempurna.

“Semoga saja bukan kabar buruk.” Gumam Ical yang lalu membuka baju latihannya dan menggantinya dengan jaket.

Setengah jam kemudian, satu-persatu senior berdatangan dari tingkat yang setara Kak Maha sampai yang 1 tingkat diatas Ical.

“Wah kayanya bakal seru nih rapatnya.” Bisik Han yang duduk dibelakang bersama Suhai.

“Siap-siap aja kita kalo kena damprat.” Peringat Suhai.

Setelah semuanya mengambil tempat duduk diruangan itu lalu pak Idris selaku kepala sekolah selaku dewan pelindung serta Bu Ara yang menjabat sebagai dewan Pembina memasuki ruangan lalu duduk di kursi yang telah disediakan.

“Terima kasih semuanya sudah rela berkumpul disini untuk mengadakan rapat anggota dan pengurus perguruan ini.” Buka Kak Maha. “Ada kabar yang harus disampaikan oleh pak Idrus dan Bu Ara, saya persilahkan untuk langsung memulainya.” Kak Maha lalu duduk setelah Pak Idrus berdiri.

“Anak-anakku sekalian, bapak mengucapkan maaf karena hari ini kalian terpaksa hadir disini untuk rapat.” Ia berhenti sejenak.

“Gak apa-apa kok Pak ini udah kewajiban kami juga.” Ucap salah satu senior.

“Saya ingin menyampaikan kabar penting buat kalian, pasti kalian sudah mendengar berita tentang pengurangan ekskul kan?” Pak Idrus menunggu reaksi anak-anak. Semuanya tampak binguing dan kaget mendengar kabar itu, hanya Han, Andin dan Ical yang terdiam dan saling lirik, Andin mengeluarkan sebuah pulpen dan kertas untuk mencatat kejadian hari itu.

“Saya mohon kalian jangan bingung dan kaget, hal itu memang bukan keinginan saya tapi keadaan yang tidak mendukung, kami juga dari pihak sekolah mencoba mencari cara agar tak ada pihak yang dikecewakan. Tetapi saya himbau kepada kalian untuk berusaha semaksimal mungkin dalam demo di tahun ajaran yang akan datang karena dari sanalah kami melihat kemampauan kalian untuk bertahan di sini. Kalian mau berusaha kan?”

“Mau.” Jawab anak-anak antusias.

“Semoga pihak sekolah dapat menemui jalan terbaik. terima kasih.” Pak Idrus duduk kembali lalu melirik ke kak Maha.

“Silahkan kepada bu Ara untuk menyampaikan pengumumannya.”

Bu Ara berdiri dan menatap seluruh orang yang ada diruangan itu, Andin merasa darahnya berdesir karena tatapan serius dari bu Ara, Andin mencatat juga kejadian itu.

“Untuk menindak lanjuti himbauan pak Idris saya selaku Pembina akan menyerahkan tanggung jawab sepenuhnya kepada Pak Maha untuk mengatur dan membina kalian sampai tahun ajaran nanti.” Omongan Bu Ara berhenti karena suasana kelas mulai ribut.

Kak Maha memberi tanda untuk diam.

“Pelatihan kalian akan diatur oleh Pak Maha dan saya menugaskan kembali beliau sebagai pemegang tertinggi kepengurusan pusat perguruan ini.”

Sebuah pengumuman yang mengagetkan bagi para senior, karena mereka entah merasa tersisih atau mereka merasa aneh saja dengan keputusan tersebut.

“Saya harap kalian paham dengan maksud yang saya sampaikan.” Bu Ara memandang semua yang duduk dihadapannya lalu duduk sambil menghela napas pendek.

* * *

Hari selanjutnya. Senin.

“Kenap sih  Cal? Kayanya mukanya BT banget?” Tanya Berry sambil menyenggol lengan Ical yang sedang berjalan sendiri.

“Gak ada.” Ical melemparkan pandangannya ke arah lapangan.

Berry memalingkang wajah Ical padanya, “Jangan bohong!”

“Urusan ekskul doang.”Ical melapaskan tangan Berry dari wajahnya.

“Maaf aku gak bisa bantu.”

Ical memegang tangan Berry, “Makasih udah perhatian sama aku.” Ical tersenyum.

“Ehm…”

Ical segera melepas tangan Berry dan menengok ke arah suara tersebut.

“Ganggu yah?”

Ical tersenyum dan tertawa, “Ber… kanalkan temanku, eh enggak sahabatku, Andina Malaya.”

“Hai…panggil aja gw Berry.” Berry mengulurkan tangannya dan Andin menyambut dengan jabatan tangan yang lembut.

“Berry gw tinggal dulu yah, ada urusan nih.” Ucap Ical sambil melepaskan senyumannya.

“Ya udah sana. Gw juga mau ke kelas dulu.” Berry langsung berjalan duluan.

“Uh so sweet…gandengan tangan di sekolah.” Goda Andin sampi Ical tersipu malu.

“Kita hari ini dikasih izin buat pulang cepet.” Ical mengalihkan perhatian.

“Pulang cepet? Mang kenapa?” Andin bingung.

“Tadi kakek telepon, dia akan jemput kita, Kita ke tempat mas Baya, dia hari ini mau tunangan.”

“Tunangan?”

*  *  *

“Ical doakan yang terbaik buat mas.” Ucap Ical ketika sedang menikmati makanan dan Baya duduk disampingnya.

“Terima kasih atas doa mu, kau masih ingat apa yang kuberikan?”

Ical mengangguk sambil menatap Baya.

“Kau boleh membukanya malam ini.”

“Boleh Ical tanya? Apa isinya?”

“Kau akan mengetahuinya nanti, bukan sekarang, adik kecilku.” Swabaya merangkul Ical sambil melepas senyum.

Andin datang dan berkacak pinggang di depan mereka.

“Sini duduk.” Baya turut merangkul Andin. “Kalian harus selalu saling menjaga.”

Ical dan Andin memandang Baya, “Baik kakak!!!”

“Mas Baya…”Andin menatap Baya.”Jangan lupakan kami setelah hari ini.”

Baya tersenyum dan memeluk mereka. “Kalian amanat untukku, tak akan kusia-siakan amanat itu.” Baya menahan tangisnya.

“Duh aku jadi iri sama kalian, Baya gak malu memeluk kalian didepan umum, tapi ia malu kalau memeluk akau.” Sindir Resta, tunangannya Baya, sambil tersenyum.

“Tuh kan Mas Baya, Mbak Resta jadi iri.” Ucap Andin sambil melepas pelukkan Baya.

“Ayo dong mas peluk Mbak Resta juga biar gak iri sama kita.” Desak Ical.

Resta tertawa dan kemudian duduk disamping Ical, “Aku gak nyangka Baya punya adik selucu dan ngegemesin kaya kalian.”

“Ah…Mbak Resta bisa aja.” Andin tersenyum malu.

2 responses »

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s