Monthly Archives: September 2011

Mungkin bisa dirubah sedikit

Standar

Iklan

Rayuan Awan

Status

Bukan lagi ia seorang dewi malam
Hanya menjadi gambaran sepi dimalam gelap
Iseng saja awan mendatanginya
Merayu menghasut
Membuat bepikir tentang diri

Mari datang dalam pelukanku
Jangan lagi angkuh dalam malam kelam
Jangan lagi sendiri dalam sunyi
Mari hampiri aku dan rasakan kehangatam pelukanku
Aku antarkan kau pada kebahagiaan

Terpesona dan terperangah pada awan
Rayuan membuat gunda hati
Menimbulkan kiasan keindahan bahagia
Awan merayu dan menggombal

Jangan ragu karena aku tak merayu
Jangan gunda karena aku tak memaksa
Kemari datangi aku
Awan yang juga dilangir
Jangan takut dewiku
Akan lebih indah jika bersama

Simbol dewi malam murung
Merana dalam hati merajuk dalam sikap
Entah harus bagaimana
Merasakan pelukan awan atau tetap terasenyum terang

Dewiku kau tetap saja dewi malam
Berada dalam pelukanku tak mengurangi indah dunia
Dalam cita kita bersama
Dalam asmara membuai kita keRah bahagia
Mari datang padaku
PDa awan hangat yang memberi pelukan

Malam makin pekat
Tak hilang juga galau sang dewi
Tak putus juga rayuan awan
Malam makin dingin
Makin membisu dan sepi
Dewi ragu atas hatinya

Wahai awan
Jangan membuat hati gelisah
Jangan membuat hati mendua
Mengganggu pikiran dengan rayuan
Aku dewi malam
Bukan hanya penerang malam
Tapi penghias angkasa
Jangan merayu dan merajuk
Buang semua bualan dan katakan sebenarnya maksudmu

Aku awan tak merayu
Tak juga membual
Aku hanya ingin memberi pelukan hangat dimalam kelam
Mari datang keperaduanku
Hangatkan jiwamu
Ceriakan hatimu

Hati gelisah ingin tapi ragu
Dewi malam membisu dengan tatapan bingung
Akhir fajar datang dan mengusik mereka
Kecewa mereka karena malam begitu singkat

Sampingan

Mungkin tak banyak yang tau dan mengerti kalau aku berdiri di tengah-tengah, diantara hitam dan putih, tapi aku bukanlah abu-abu. Tak ada sisi yang salah dan tak ada sisi yang benar, mereka semua menganggap mereka benar atas tindakan mereka sendiri, termasuk aku.

Aku palingkan wajahku dari diriku sendiri aku dengar mereka berkata, “Lihat kami, semua tindakan kami atas dasar yang benar, dasar yang didirikan leluhur kami, dasar yang selama ini menjadi tonggak kehidupan semuanya. Bagaimana menurutmu?” Aku hanya melihat jauh kedalam hatiku, hanya ada diam.

Saat lain aku ubah arah wajahku, “Lihat kami yang lakukan, membuat perubahan dan dan membuat hidup lebih baik, kami tetap menghargai dasar leluhur kami, dan inilah hasilnya atas pemikiran dari dasar itu. Bagaimana menurutmu?” Ekali lagi aku melihat jauh kedalam hatiku, hanya ada diam.

Hitam putih, kiri kanan, depan belakang dan hal lainnya yang berpasangan tapi saling bertolak belakang, aku tak bisa tentukan yang pasti mana yang benar dan yang salah, benar itu seperti apa, salah itu seperti apa. bukankah hanya Allah SWT yang tau kebenaran dimuka bumi ini??

Hanya sikap diam yang dapat aku katakan pada mereka bukan pada diriku sendiri. Pada diriku sendiri aku marah, aku menangis, aku tertawa, entah karena apa, karena sebab yang tak pasti. mereka anggap diri mereka benar, maka aku juga, jangan salahkan aku atas yang terjadi.

Benar menurut kalian, maka lakukan dengan benar, dengan tujuan yang benar dan hasil yang benar, bukan saling tarik urat dan berkata “Aku yang benar dan kau yang salah.”

Cih,,,lebih baik diam daripada saling menuding dan menunjuk hidung masing2.

Hanya Ada Diam