Monthly Archives: Februari 2011

Promosi Silat Dengan Si Bule ?

Standar

Siapa yang tak menggunakan produk luar negeri? Mulai dari makanan, baju, sepatu, tas, hp, sampai beladiri hasil produk luar negeri semuanya menjadi incaran. Rasanya orang indonesia sudah lupa diri, apa-apa maunya yang merek luar negeri, maunya yang hasil luar negeri, padahal produk-produk itu harganya setinggi langit dan membuat kita merogoh kocek sedalam galian tambang (sedikit berlebihan ya,,,sengaja tuh), mereka lebih bangga pakai produk luar negeri. Saya sendiri pun tak luput dari rasa bangga memakai produk luar negeri.

Adanya fenomena rasa bangga pada produk luar negeri membuat ada perasaan risau di hati wirausahawan lokal (padahal gak ada fenomena itu juga udah risau ya?) “Apakah produk lokal mereka akan laku dipasaran selama ada produk luar negeri?” Rasa risau tersebut pastilah juga singgah di hati para guru silat dann penggelut silat lainnya, “Apakah silat akan laku dipasaran selama ada beladiri impor?”

Ah…rasanya hati saya juga sedikit risau tentang silat walaupun saya sebatas orang yang demen nonton silat. Mungkin saat ini silat mulai terlihat bangkit tapi entah besok dan hari-hari selanjutnya. Para pecinta silat (termasuk  didalamnya guru, murid, penikmat, dan penonton silat)hanya dapat melakukan promosi dan promosi silat saja selanjutnya tetap masyarakat yang menentukan, apakah mau memakai silat atau tidak,apakah bangga dengan silat atau tidak.

Ada hal yang sebenernya saya anggap lucu tiba-tiba melintas dipikiran saya, apa mungkin kita promosi silat pake orang bule? biar keliatan impor gitu… Kalau biasanya pesilat Indonesia yang tampil di depan orang-orang bule kali ini biarlah orang bule yang tampil didepan orang-orang Indonesia, mungkin dengan seperti itu masyarakat  bisa merubah sedikit pandangannya terhadap silat dan bisa membuat mereka melek kalau silat sekarang bisa bermerek luar negeri.

Si Bule bersilat? Apa aja ya keuntungan bila hal itu dilakukan?(menurut saya)

1. Silat makin dianggap bagus oleh masyarakat karena ada rasa bangga ketika melihat orang luar negeri memeragakannya.

2. Akan semakin banyak orang yang menikmati, menggilai dan mungkin akan bertambah populasi pesilat di Indonesia dan di Dunia.

3. Mungkin dengan banyaknya orang yang ikut latihan silat bisa didirikan yang namanya sekolah silat atau paling tidak akan terbukanya peluang besar diadakannya tempat2 khusus latihan silat

4. Silat tradisional bisa semakin bagus pengemasannya (pengurusan dan organisasinya, dll.)

tapi ada juga jeleknya jika itu dilakukan adalah (lagi-lagi menurut saya)

1. Silat bisa kehilangan ke Tradisionalannya, tau sendiri orang-orang sekarang yang maunya apa-apa serba modern (saya masih tidak mengerti dengan modern itu apa ya?)

2. Dimungkinkan akan bertambahnya perguruan dengan teknik sama, kalau toleransi tinggi sih tak masalah yang masalah adalah kalau terjadi bentrok yang ada nama silat bukannya membaik malah memburuk.

3. Bisa jadi sang guru silat yang tak mengerti denga pengemasan perguruan silat malah minder dan akhirnya hilang dari peredaran dunia silat.

Ah sudahlah cukup melanturnya…(Niatan mau off dari dunia silat untuk fokus ke skripsi eh malah ngelantur begini)

Iklan

Mie Instan VS Silat

Standar

Siapa sih yang gak tau mie instan, rasanya semua orang indonesia makanan favoritnya mie instan deh, apalagi kalo pas lagi hujan-hujan, pas lagi kumpul2, pas lagi kemping dan pas lagi gak PUNYA DUIT (pengalaman pastinya).

Entah kenapa mie instan itu terasa nikmat padahal nilai gizinya belum tentu memenuhi kebutuhan gizi kita sehari-hari, apa karena MURAHnya? mudah dimasaknya/ INSTAN? atau memang karena RASAya?

Saya rasa semuanya masuk dalam hitungan. Mie instan jelas lebih murah daripada makan nasi dan lauk pauk, kenyangnya juga sama. Mie instan karena mudahnya dimasak tinggal direbus doang bahkan ada yang bisa langsung disiram air panas, rasanya juga udah ada berbagai rasa yang pastinya mirip dengan makanannya yang asli.

Lantas apa hubungannya Mie instan dengan Silat? Sebenernya gak ada hubungannya selain, kalau habis latihan enaknya makan mie instan,hehehe…

Mari kita umpamakan silat seperti mie instan. Silat bukan hal baru di Indonesia, siapa yang tidak mengenal silat.  Anak kecil sampai aki-aki dan ninik-ninik aja tahu silat (sekedar tahu doang juga gak papa bagusnya ya mesti bisa). Silat, katanya berasal dari Indonesia, Indonesia di teriak-teriakkan sebagai tuan rumahnya silat.  Ikut latihan silat tidak perlu merogoh kocek terlalu dalam karena termasuk kategori olahraga MURAH setelah joging (mahalan juga joging, liat aja tuh sepatu lari di mall, harganya bisa ngabisin gaji pegawai pabrik sebulan, kalau silat cukup modal celana silat/celana pangsi yang harganya gak seberapa, kecuali jadi atlit, apalagi atlit yang sudah diatas tingkat nasional, bisa berjuta2 harga seragamnya). Silat juga sebenarnya tergolong MUDAH alias INSTAN, terbukti dari anak-anak, orang dewasa sampe orang tua masih bisa belajar silat, tergantung niat dan kemauan mereka sajalah. Silat kalo dibandingin dengan yang lain RASAnya pasti lebih nikmat dari olahraga yang lain, ada rasa sabandar, cikalong, cimande, sera,  harimau, kumango, tuo, dan yang lainnya, itu baru dari rasa kalo dari bumbunya ada jurusnya yang beraneka ragam yang kalau dikumpulkan bisa jadi perpustakaan, ada ibingannya yang tiap daerah beda-beda, ada tenaga dalamnya, ada ilmu pengobatannya, wah pokoknya silat itu RASAnya komplit dah.

Lantas kalau Mie instan saja bisa digemari oleh masyarakat kenapa silat tidak bisa? Apa masalahnya?

Lihatlah mie instan, diwarung besal sampai supermarket menjualnya, maka silat juga harus seperti itu, dari kampung kecil sampai kota besar, dari halaman rumah sampai gedung olahraga harusnya ada tempat latihan silat. Lihatlah Mie instan yang kemasannya biar dari pelastik tapi beraneka ragam, harusnya silat juga seperti itu. Lihatlah mie instan yang menjadi makanan pertama yang disalurkan untuk para korban bencana, silat haruslah menjadi kemampuan yang pertama digunakan untuk menangani kesulitan hidup.

MIE INSTAN memang MURAH tapi gak MURAHAN. SILAT memang dari KAMPUNG tapi gak KAMPUNGAN.

Sekian terima kasih…salam panjang umur dah buat silat….

mie vs silat

Dari Sekolah Ke Dunia Persilatan

Standar

Ini bukalah cerita luar biasa, ini hanya pengalamanku dengan para sahabatku.

Sebelumnya aku perkenalkan tentang diriku, namaku Dolly Maylissa, biasa dipanggil Dolly tapi kadang-kadang keluarga dan teman manggilnya Dodol, tapi bukan berarti saya kaya dodol atau otak saya kosong (Kata dodol biasa dipakai para remaja untuk menggantikan kata Bego, aneh atau semacamnya).

Saya mengenal silat sejak kecil, bukan hanya mengenal tentang gerakan-gerakannya saja tapi juga unsur2 yang rada klenik di dalamnya. Mulai dari ritual-ritual, mantra-mantra, benda pusaka, bahkan ilmu-ilmu aneh lainnya dan tokoh-tokoh dunia persilatan, darimana lagi kalau bukan dari film.  Saat itu umur saya baru 5 tahun, sayangnya masih dianggap terlalu kecil untuk ikut silat, pernah juga saya memaksa ikut latihan karate yang lokasi latihannya tak jauh dari rumah tapi tidak dapat izin. Sejak saat itu keinginan untuk ikut beladiri semakin besar.

Saya ikut latihan silat di Perguruan Silat Tenaga Dalam Syahbandar sejak tahun 2003 hingga saat ini. Silat dulu bagi saya adalah obat luka hati saya karena tidak dapat sekolah favorit tapi saat ini seperti makanan enak buat saya yang sesekali memberi semangat baru dan rasa baru dalam hidup termasuk rasa bosan dan capai.

Pertama mengikuti latihan silat saya ingat betul senior-senior saya yang memasang tampang sangar tapi memang tampang mereka sangar maklum rata-rata mantan juara tawuran tapi ada juga yang manis dan genit. Saat itu ada satu hal yang membekas dihati saya, Bu Saarah, seorang guru bahasa indonesia yang sekaligus jadi pembimbing spiritual dan pembimbing silat, kenapa saya katakan pembimbing spiritual karena ia sesekali menasehati kami, memberi inspirasi dan membimbing kami dalam mendalami ilmu silat yang gak cuma luarannya saja tapi juga dalamnya bahkan sama guru yang satu ini murid ternakal pun bisa ciut nyalinya. Selain beliau ada juga Pak Soetrisno yang saat itu masih menjabat sebagai wakil kepala sekolah, Pak Asikin sebagai Guru Sejarah dan Pak Bob sebagai guru olahraga.

Selama kelas 1 saya dan teman-teman seperguruan sangat di awasi. Hal itu sebagai bentuk tanggung jawab senior di sekolah dan tanggung jawab kakak seperguruan karena silat tidak hanya melatih fisik tapi juga mental dan dalam silat juga terdapat hubungan seperti halnya keluarga, bila ada yang bersalah maka saling mengingatkan agar tak terjadi lagi kesalahan tersebut. Saya ingat pertama kali belajar organisasi, saya bersama rekan yang lainnya diajak atau lebih tepatnya dipaksa berkumpul untuk pendataan anggota dan pemilihan pengurus atau perwakilan sementara. pemilihan tersebut memang awalnya bersifat pengajuan diri tapi setelah ditunggu 15 menit tak ada yang mengajukan diri maka ditunjuk oleh kepengurusan saat itu yang diketuai oleh Thoriq (Saat ini sebagai mahasiswa hukum Trisakti). Selain belajar organisasi kami juga belajar tentang perguruan silat yang bersifat tradisional yang kadang diartikan gurusentris yang kalau guru berbicara maka seperti titah raja bagi sang murid, saya sendiri kadang harus menahan diri bila ada hal yang tidak saya setujui tapi harus dilakukan.

Setelah sebulan saya berlatih silat disana maka diadakan PENGUKUHAN, memang pengukuhan keanggotaannya ini dilakukan secara bersama-sama dengan kegiatan ekstrakulikuler lainnya disekolah tapi disanalah saya mendapat benar-benar jiwa yang cinta silat. Mungkin itu adalah Pengukuhan yang paling saya ingat, karena senior saya menampilkan gerakan silat yang menurut saya benar-benar hebat dengan adegan salto depan dan salto belakang, gerakan lincah, cepat dan bertenaga, tak hanya itu saja yang saya ingat, disana kami diajarkan untuk peduli sesama anggota, saling membela, saling menyayangi bukan saling mencintai, dan saling membantu. Ya memang nilai-nilai diajarkan dengan cara-cara sandiwara seperti ada anggota yang sengaja berbuat salahlah, ada yang disuruh pura-pura pingsanlah sampai dikerjain habis-habisan tapi dengan adanya pasal 1. SENIOR SELALU BENAR DAN pasal 2. BILA SENIOR SALAH LIHAT PASAL 1, siapa yang berani protes?

Setelah pengukuhan, demi Allah saya hampir menyerah dan kadang hampir nangis karena tidak kuat ikut pelatihannya. Latihan silat seperti latihan militer, lari berkali-kali putaran lapangan yang luasnya 1/2 lapangan bola, push up, sit up, bending, kuda-kuda yang walau hanya satu menit tapi menjadi terasa berjam-jam samapi merayap dilumpurpun sudah dilakukan. Setelah pengukuhan lebih dari 1/2 anggota yang terdaftar keluar dari pelatihan dengan alasan yang sama yaitu CAPAI.

Memasuki kelas 2, hati saya dan rekan lainya sungguh senang luar biasa karena akan punya adik seperguruan dan bisa membalas dendam atas perlakuan senior dulu walau selama 2 minggu kami harus berlatih ekstra untuk atraksi awal tahun disekolah apalagi ketika Masa Orientasi Siswa selama 3 hari, kami dari pagi sampai sore harus berada disekolah pada hari kedua bahkan kami harus melakukan gladi bersih untuk atraksi pada hari ketiganya. Ternyata rasa senang kami tanpa alasan, bagaimana mungkin membalas dendam pada orang lain yang tak menyakiti kita? Sejak saat itu angkatan saya sepakat menghilangkan semua hal yang berbau penganiayaan.

Dikelas 2 ini sudah mulai rengganglah pengawasan senior-senior karena mereka sibuk mempersiapkan ujian akhir dan pengawasan itu diserahkan kepada angkatan saya. Kami (saya dan angkatan saya) tidak melakukan pengawasan ketat saat itu, kami lebih senang melakukan pendekatan dengan sering-sering sharing bahkan sering makan bareng walau bayar sendiri-sendiri. Di kelas 2 ini saya mulai kenal dekat dengan Fahmi, Bayu dan beberapa anak-anak lainnya yang nantinya sering berkumpul bersama.

Saya mengenal Fahmi sejak ia dekat dengan salah satu teman sekelas saya dikelas 1, saya pun tahu bahwa dia seorang pesilat dari teman saya itu, dari saat itu saya ingin tahu tentang anak yang satu ini. Awal pertemanan kami ia benar-benar menyembunyikan identitasnya sebagai pesilat, entah karena apa, tapi suatu pagi ketika baru saya dan dia yang sudah berada dikelas dia dengan terang-terangan mengaku bahwa ia seorang pesilat, bahkan sudah lama menjadi pesilat dan kemampuannya tentu saja diatas saya, sejak saat itu kami berteman akrab.

Seorang teman yang sebenarnya sudah ikut pelatihan pelatihan sejak awal masuk sekolah tapi tiba-tiba menghilang lalu aktif lagi ketika melihat dengan bangganya angkatan saya memakai sabuk coklat strip dan pasang aksi ketika atraksi, dia adalah Rudiyanto. laki-laki satu ini cukup spesial saya pikir, jarang mengeluh bahkan tak banyak bercanda tapi dia sangat antusias berlatih setelah vakum sebelumnya, yang saya salut adalah sikap tegasnya ketika berurusan dengan organisasi (mungkin ada pengaruhnya dari kegiatan pramuka yang diikutinya).

Fahmi punya seorang sahabat bernama Bayu, ada satu hal yang menganjal di hati saya, fahmi dan yang lainnya berkata bahwa ia seorang pesilat tapi tidak pernah sekalipun saya melihatnya melakukan gerak silat. Benar-benar pesilat satu ini.

Selama saya SMA saya punya teman akrab bernama Fakhran, anak yang satu ini kadang emang belagunya setengah mati, hal yang membuat dia tertarik adalah ilmu dalam alias segala sesuatu yang berhubungan dengan kebatinan. Dia sering ngejar-ngejar senior dan mencerca dengan berbagai pertanyaan tentang kebatinan.

Selama kelas 2, kepengurusan di pegang oleh Suhairi yang benar-benar saya salut sama fisik dan tenaganya, julukannya aja ROBOT dan wakil ketuanya adalah jihad, laki-laki yang bisa membuat banyak perempuan klepek-klepek, selain cukup tampan dia juga pintar. kemudian ada Ilham Setiawaty yang biasa dipanggil waty yang jadi inceran beberapa senior dan teman seangkatan, saya acungi jempol untuk kemampuan tenaga dalamnya, saya fisiknya tidak mendung untuk latihan terus sampai sekarang. Masih banyaklah teman-teman saya lainnya.

Selama kelas 2 dan 3 hal yang kami lakukan adalah latihan silat di kelas, mulai dari latihan pukulan dan geraka tangan lainnya, tendangan, ngadu tenaga dalam sampai main-main dengan mahkluk gaib. Tak hanya itu yang kami lakukan tapi juga membahas tentang silat mulai dari membandingkan gerakan, membabarkan pandangan tentang gerak silat, sampai mencari-cari informasi silat.

Mungkin sudah konslet otak kami, yang dipikirkan hanya silat saja, diperpustakaan yang dibuka situs silat, yang di search di Google tentang silat, nyari buku bacaan ya tentang silat samapi lagi praktek komputer sempet-sempetnya buka situs silat. Nah disana kami mulai kenal dengan beberapa situs (kalo gak salah sahabatsilat.com dan silatindonesia.com) dan sejak saat itu makin menggila dnegan yang namanya silat.

Suatu siang di perpustakaan sekolah yang hanya berisi anggota pramuka (karena habis rapat) dan saya serta penjaga perpustakaan kami iseng-iseng membuka internet, nah disana ketemulah beberapa situs silat. Sampai Bayu yang lagi bicara pribadi dengan pacarnya langsung manteng depan komputer dan ikutan bikin account disana. (Sayang lipa nama nick namanya).

Lulus sekolah bukannya mikirin mau kuliah dimana tapi mau apa dengan silat setelah ini? hahaha…memang aneh kita-kita ini. Belum genap sebulan yang diurusi ya atraksi awal tahun. Ketika SPMB yang kebetulan saya, Fahmi dan Bayu satu tempat tes yang dibicarakan ya silat juga.

Sampai tahun kedua kuliah sekitar tahun 2007 saya aktif lagi disilat dan bertemu dengan kawan-kawan saya itu. Sejak saat itu kami benar-benar gila silat. Dari situs yang saya sebutkan diatas kami mulai mencari, mengikuti, membicarakan bahkan mengikuti kegiatan silat. Mulai dari buat account baru di sahabatsilat.com, bertemu dengan mereka tahun 2008 di ICE, 2x ikut kegiatan diskusi di Padepokan TMII, seminar di paramadina (saya tidak hadir – ada cerita dibaliknya) sampai yang terakhir seminar di UI. Berawal dari sana juga kami berkenalan dengan pesilat-pesilat dari berbagai kalangan, apalagi berkenalan dengan para guru-guru silat yang mencintai silat lebih dari kami.

Sekian ceritanya semoga berlanjut kegilaan kami kearah yang lebih baik.

Kabar Baik Tak Selalu Baik Untuk Saya

Standar

Hari ini sahabat saya datang dan mengabarkan bahwa telah ada permintaan latihan perdana syahbandar (SB) di kampus kusuma negara. Saya kira pengajuannya terhenti karena proposal ini saya serahkan kepada murid sahabat saya itu dari satu setengah tahun lalu dan tak ada kabarnya lagi setelah itu. Memang ini merupakan kabar baik untuk perguruan dimana saya berlatih silat tapi menjadi sedikit penghalang bagi saya.

Mulai minggu depan saya berencana untuk mengajukan skripsi dan hendak mengurangi kegiatan yang berhubungan dengan silat, karena saya sangat terlena dengan kegiatan silat itu. Silat memang sangat memberi saya semangat dalam menjalani aktivitas tapi karena saya mudah terlena dengan silat kadang justru membuat saya terlahang fokus pada akademik saya.

Berita ini memang sangat baik bagi kemajuan SB yang merupakan silat tradisional. Apalagi akhir-akhir ini banyak sekali peliputan tentang silat tradisional yang menurut saya sangat berpengaruh pada kemajuan silat tradisional secara tidak langsung juga berpengaruh pada SB. Saya sangat berharap tahun depan SB sudah dapat tampil di muka umum, 2 tahun dari sekarang SB akan bisa daftar IPSI dan 3 tahun dari sekarang SB sudah bisa berada diposisi tenang yang artinya keanggotaannya stabil, pendanaan stabil, organisasi stabil dan keilmuan tetap bisa berkembang tanpa menghilangkan keilmuan aslinya.

Salam Syahbandar….!!!

Note : pembukaan cabang di kampus tersebut masih menunggu perkembangan selanjutnya.