Pendekar Bocah Nakal-Perkenalan

Standar

Laki-laki kira-kira berumur 25 tahun dengan bergaya layaknya sopir-sopir yang sedang makan di warteg, mengangkat satu kakinya ke atas kursi, sambil memasang tampang sangar yang ternyata menahan pedas dan kenikmatan makanan yang disantapnya yaitu sepiring nasi dan beberapa jengkol balado yang berpadu dengan sambel terasi.

Keluar suara dari tenggorokannya ketika selesai menyantap semua butiran nasi di piringnya dan menenggak segelas teh tawar. Ia menurunkan kakinya dari bangku panjang yang ia duduki, menyenderkan tubuhnya di tembok dan mengelus perusnya. Sejenak ia memejamkan mata sambil menikmati dan mensyukuri bahwa ia dapat makan siang itu. Sambil tersenyum ia membuka matanya lalu mengeluarkan sebatang rokok dari bungkus rokok yang ada dikantongnya, menyalakannya dan menghisapnya dalam-dalam sambil menikmati aroma dari rokok yang dihisapnya. Ia menghebuskan asapnya dan menyapa ibu pemilik warteg, “berapa semuanya bu?”

Sebentar laki-laki yang duduk tak jauh darinya mengintipnya dari rak kaca berisi makanan, dengan wajah penasaran yang benar-benar dapat dibaca oleh ibu pemilik warung. “ada apa bang? Kok ngeliat abang itu sampai seperti itu? ”

“Ada apa bang liatin saya seperti itu? ”
“Saya bingung kok rokoknya baunya itu seperti cerutu padahal itukan rokok biasa. ”
Dengan senyum ia berbicara,”Ah perasaan abang aja kali, berapa semuanya bu? ”
“cuma tujuh ribu bang. “setelah menyerahkan uangnya ia pergi keluar warteg, menghirup dalam-dalam udara siang itu, terasa berbeda karena siang itu sedang mendung jadi terasa benar kesegaran air yang akan jatuh di bumi.
Sebuah motor membunyikan klakson dari arah belakang, “Siapa sih? Ganggu aja.” Begitu ia membalikkan badannya pengendara motor tersenyum dibalik helm. Ia membalas senyuman itu lalu mendekati pengendara motor itu dan memberinya isyarat untuk memberikannya kesempatan mengendarai motor itu.
“Kemana saja selama ini? ” tanya pemilik motor itu dengan sedikit mesra sambil memeluk pinggang laki-laki itu.
“Aku kira elang yang satu ini sudah melupakan pemiliknya.”
“Ah bagaimana mungkin aku melupakanmu. Aku sangat rindu padamu.” Pemilikmotor itu embuka helmnya baru tampaklah ia seorang gadis.

Malam datang, ia tak keluar kamar hingga jam di atas meja kecil dikamarnya menunjukkan pukul 22.00 wib. Ia memakai celana pangsi dan jaket hitam untuk menutupi tubuhnya dari udara dingin, ia juga melilitkan sarung kumalnya di lehernya. Bersiap beraksi ia malam itu, tanpa mengendarai motornya ia berjalan cukup jauh kearah sebuah lapangan yang dekat dengan perkebunan penduduk. Sangat santai ia berjalan, kadang- kadang ia berhenti memperhatikan langit malam dan kembali melanjutkan perjalannya kembali. Tibalah ia di sebuah lapangan, ia mendekati sebuah pohon dipinggir lapangan lalu bersiul tiga kali, siulannya melengking bagi orang yang ditujunya tapi tidak terdengar bagi orang lain, beberapa menit kemudian telah berkumpullah 10 orang remaja laki-laki mengelilinginya. Setelah bersapa tegur mereka menuju tengah lapangan. Setelah berdoa yang dipimpin ia sendiri terlihat ke sepuluh pemuda itu termasuk dirinya bergerak meregangkan otot. Ia melemparkan jaketnya ke bawah pohon berserta sarung yang tadi dililitkan kelehernya. “Mari mulai! ” serunya kepada 10 pemuda.

Perlahan tanpa mengganggu mereka bergerak silat 2 orang bapak-bapak lewat dipinggir lapangan.
“Pak mukmin, sejak kapan disini ada berlatih silat? ” tanya seorang lainnya.
“Setauku sudah beberapa bulan lalu, atas izin pak RW. Memangnya pak Anto tidak tahu ?”
“Tidak, siapa yang melatih? Apa dia salah satu warga kita? ”
“Ya, itu loh pak anak muda yang mengontrak dirumahnya pak Unding. kalo kata anak saya di dijuluki pendekar bocah nakal. Dasar anak muda ada-ada saja. ”
“Oh, saya baru tahu pak.em…” Tampak pak Anto memikirkan sesuatu.

Tanpa menghiraupun apapun yang terjadi malam itu ia terus memberi pengarahan-pengaran kepada anak latihnya, suaranya sangat lembut berusaha menyentuh relung-relung hati ke 10 pemuda tapi terdengar begitu tegas dengan intonasi yang sedikit naik turun disesuaikan dengan kata-kata penting yang ia ucapkan.

Tampak kesepuluh pemuda sedikit bingung dengan penjelasan dan pengarahan yang diberikan oleh pendekar bocah nakal, tapi mereka berusaha melakukan apa yang mereka tanggap, karena mereka tau bahwa pemuda yang dihadapan mereka ini adalah seorang yang tulus mengajarkan ilmunya.

Terdengar sayup-sayup suara siulan panjang di telinga mereka semua, sebuah siulan yang seperti orang mengalunkan untaian nada. Sekilas terlihat pendekar bocah nakal tersenyum dan ia membalas siulan tersebut.

“Ayo lanjutkan, jangan hiraukan apapun jika kalian ingin menguasai latihan kali ini. ” pendekar bocah nakal memberi peringatan kepada 10pemuda.

Langit semakin kelam, malampun semakin dingin. Pendekar bocah nakal menghentikan latihannya dan menyuruh para muridnya untuk pulang.

Dalam perjalanan pulang ia bersiul 3x, memberi tanda kepada seseorang. Sambil tersenyum ia menunggu dibawah sebuah pohon. Lalu datanglah seseorang menghampirinya, langsung memeluknya dan memegang tangannya.

“Kita pulang?” Tanya Pendekar bocah nakal.
Yang lainnya menggeleng, “Jalan-jalan yuk.”
Pendekar bocah nakal merangkulnya dan mengajaknya jalan, “Mau dengar ceritaku akhir-akhir ini?”
“Tidak, ceritakan tentang gelarmu. Aku suka mendengarnya.”
“Hahaha…tetap menjadi favorit ya cerita ini.”
“Dari sanalah kita bertemu bukan?”
“Hahahaha…”

Andira malam itu berjalan sendirian, mencari hiburan dan kesenangan. Ia tak tahu pasti apa yang dicarinya. Ia terus saja berjalan diantara keramaian, sesekaliia berhenti dan membeli cemilan. Tanpa sadar ia sampai di sebuah lapangan.

“Dimana nih?” Andira memperhatikan sekelilingnya, “Ih nyasar dimana nih?” Andira terlihat bingung.
“Ehem…”
Andira yang kaget dengan deheman itu langsung meloncat menjauh dari posisinya dan memasang sikap, Andira mengira itu adalah orang yang berniat jahat.

“Siapa?” Tanya Andira tegas.
“Tidak usah takut, sedang apa sendirian disini?”
“Kau sendiri sedang apa? Siapa kamu?”
“Kenalkan dulu dirimu baru aku kenalkan diriku.”
“Elang, panggil saja aku Elang. Kau?”
“Raja. Mari aku antar kau kejalan raya.”
“Kau jalan duluan.”
Raja tersenyum sambil menggelengkan kepala lalu berjalan didepan Andira.
“Baru kali ini aku bertemu gadis yang asik berjalan hingga tak tahu kalau ia tersesat.” Komentar Raja.
“Aku sedang mencari ketenangan.” Ucap Andira disela mulutnya yang masih mengunyah jajanan.
“Oh iya? Gak takut berjalan sendirian?”
“Gak ada yang bisa aku percaya untuk menemaniku.”
“Mungkin aku akan sedikit telat karena mengantarmu dahulu, tapi tidak apalah daripada aku harus bertanggung jawab dan hatiku tak tenang bila terjadi sesuatu padamu.”
“Jika kau mau tinggalkan saja.”
“Ah janganlah. Apa kau mau menemaniku, hari ini ada tantangan untukku? Setidaknya aka nada yang menemaniku selain orang-orang tua disana.”
“tantangan apa? Menarik.”
Raja menghentikan jalannya, menunggu Andira sejajar dengannya.

Sepanjang jalan Andira hanya terdiam mengikuti Langkah Raja yang kadang cepat tapi kadang sangat lambat sambil sesekali Raja menceritakan kisahkan. Mereka saling berbagi cerita dan tawa, saling mengenalkan diri lebih jauh hingga langkah mereka terhenti disebuah lapangan, lapangan yang jauh lebih tertutup dari lapangan yang tadi. Di lapangan ini begitu banyak pohon besar yang mengelilinginya bahkan ada beberapa rumpun bambu yang turut menutupi lapangan itu.

“Ih serem.” Celetuk Andira.
“Tidak ada apa-apa, amari masuk, aku sudah ditunggu.”

Andira tanpa sadar memegang erat punggung jaket Raja. Ia menahan napasnya pelan hingga tak bersuara. Awalnya Andira tidak sadar bahawa dilapangan yang gelap itu telah hadir beberapa orang tapi ketika Raja menyalakan beberapa obor yang terpasang disana barulah ia melihat beberapa orang laki-laki berpakaian hitam berdiri dan duduk diantara pepohonan.

“Malam semua, ada apa kalian mengajak saya kemari? Maaf saya mengajak kawan. Dia tak akan mengganggu sedikitpun.”
“Hah…takut kau sendirian menghadapi kami?” Jawab laki-laki yang tubuhnya sedikit tambun dibandingkan yang lain.
“Hahahaha…jangan bercanda kalian, harusnya aku yang bertanya seperti itu, kalian hendak menghabisiku bersama-sama bukan? Mari maju satu persatu, aku akan layani.” Tantang Raja, “Elang, lindungi dirimu sendiri ketika aku menghadapi mereka.”
“Ya ya ya tenang saja, anggap aku tak ada.” Jawab Andira seenaknya, lalu segera ia mengambil posisi agak jauh dari tempat berpijaknya Raja.

Raja tak memasang kuda-kudanya, ia hanya menatap tajam ketiga lawannya. Laki-laki yang bertubuh tambun segera berjalan kearah kanan Raja, sedangkan yang bertubuh sangat kurus segera kearah sebelah kiri dan yang satunya lagi berhadapan dengan Raja. Tanpa aba-aba ketiganya menyerang secara bersamaan. Menyerang bagaian atas, tengah dan bagian bawah dari tubuh Raja. Andira cukup kaget dengan serangan yang dilancarkan musuh-musuh Raja itu. Andira sendiri sampai menahan napasnya dan melepaskan energy yang cukup banyak.

Raja tersenyum merasakan energy yang dilepas oleh Andira. Kini ia siap menerima serangan apapun, tangan kanannya menangkis si tambun dan tangan kirinya dengan cepat menangkis dan menyarang si kurus sedangkan yang menyerak bagian kakinya tak sempat ia ladeni, Raja hanya menghindar dan langsung memberikan balasan.

“Baru segitu kehebatan kalian. Sebenarnya apa yang menjadi masalah kalian hingga menantangku? Seharusnya kalian malu menantangku, menantang bocah.”
“Dasar bocah, jangan banyak cingcong, layani saja serangan kami.” Ucap Si kurus dengan lantang.
Dengan cepat ketiga menyerang Raja. Raja tak mau kalah dengan serangan ketiga laki-laki itu. Ia menangkis dan menyerang balik.

“Ah bosan.” Gumam Andira sangat pelan.
“Hai Elang, kau sudah bosan ya?” Raja menyahut disela-sela ketika ia menyerang ketiga laki-laki itu, “Maaf rasanya harus kita selesaikan saat ini.” Raja segera menyerang mereka satu persatu dengan tenaga penuh, pada si tambun ia menendang dadanya dan langsung terkapar si tambun itu, sedangkan pada si kurus, Raja menangkap tangannya dan langsung mengunci dan mematahkannya, hingga musuhnya yang terakhir ini Raja masih siap menghadapi apapun yang terjadi. “Mari kita selesaikan.” Kini Raja yang menyerang, dengan bertumpu pada kaki kirinya ia menyerang lawannya dengan kedua tangan dan kakinya. Garakan yang cepat dan tepat sasaran, sayang lawannya tampak kurang cermat ia hanya berhasil menangkis kaki dan tangan tangan kanan Raja, sedangkan tangan kiri Raja dengan telak masuk menyerang ulu hati laki-laki itu. Mengerang laki-laki itu lalu tiba-tiba terjatuh.

Raja langsung meninggalkan mereka dan mengajak Andira pergi.
“Memang membosankan melawan aki-aki seperti mereka. Hahaha…” Raja tertawa sendiri.
“Ih apa yang perlu kau tertawakan? Antar aku ke jalan raya.” Celetuk Andira.
“Baik.”

Sepanjang jalan Raja asik menghisap dan menghembuskan asap rokok dari mulutnya, sesekali ia dengan jail mengarahkan asapnya ke Andira hingga Andira harus menghidar cukup jauh, jika sudah begitu Raja akan tertawa terbahak-bahak. Andira yang kesal dengan ulah Raja dari belakang segera melayangkan tendangan ke pantat Raja.

“Auw…Kau gadis nakal ya?”
“Kau yang bocah nakal.”
Raja merangkul Andira, “Sebenarnya siapa namamu?”
“Andira. Namamu?”
“Raja, tapi rasanya aku memiliki nama baru, Pendekar bocah nakal. Bagaimana menurutmu?”
“Pantas untukmu.” Andira langsung berlari ketika ia melihat jalan raya yang masih ramai.
“Sampai jumpa Andira sang Elang. Lain kali kita bertemu lagi.”
Andira tersenyum dan melambaikan tangan pada Raja.
“Sampai jumpa lagi Raja, Pendekar Bocah Nakal.”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s