Sebulan yang penuh Rahmat

Standar

Udah 20 tahun aku melalui ramadhan tapi mungkin ramadhan kali ini sungguh berbeda.

Apa yang berbeda??

Sungguh sebulan ini kesabaranku, emosi, pikiranku begitu diuji.

Satu hal yang sangat menggangguku adalah ketika sahabatku bermasalah dengan keadaan ekonomi, uang dan uang. Entah mengapa uang kadang menjadi sumber semua masalah, tanpa uang gak bisa makan, tanpa uang gak bisa bayar uang kuliah, tanpa uang pikiran terganggu dan fisik jatuh sakit, tanpa uang bahkan tak bisa bekerja dengan tenang. huf…entah bagaimana sikapku nanti jika merasa seperti itu.

Sungguh bulan penuh rahmat bagi semua umat.

Melihat sahabatku yang satu itu sungguh hanya satu hal yang aku pikirkan, Gimana Cara membantunya??

Dia emang keras kepala, keras hati sekaligus tak bisa berpikir jernih. Tak tahu apalagi yang harus dilakukan untuk meluluhkan sedikit keras kepalanya itu.

Sebulan sebelumnya keadaannya sungguh mengkhawatirkan, dengan saku tanpa uang ia kehilangan akal dan kehilangan kesehatan fisiknya. Sempat juga ia marah padaku karena membocorkan sakitnya ke Bunda tapi tak berlangsung lama karena ia pun sudah buntu berpikir. Masalah sakit belum tuntas, ada lagi yang membuat dirinya semakin aneh. Terlintas dipikirannya untuk kembali ke kehidupan masa lalunya yang menurutku sangat tak pantas. Gantian aku yang sangat marah. tapi aku coba untuk berbuat yang terbaik, untung dia mengurungkan niatnya, semoga gak akan pernah terwujud.

Sungguh bulan penuh rahmat.

Kini masalah kuliah. Walau hanya masuk kuliah 2 minggu sempat menggangguku dengan keadaan sahabatku yang lain. Aku ingat ketika bersama sahabatku yang lain bertemu dengan PA kuliahku dan bertanya soal teman2ku, ada hal yang sangat mengkhawatirkan, keadaan nilai sahabatku.

Bingung aku bagaimana membicarakannya, aku tak mau maju sendirian jika orang disekelilingku begitu jauh tertinggal, percuma ketenaran aku dapatkan tapi tidak dengan ketenangan hatiku.

Bulan yang membawa ketenangan bagiku.

Pusing memikirkan keadaanku sendiri ketika selesai kuliah nanti aku berusaha menyiapkan rencana untuk sementara, mencoba berhemat, mencari jalan untuk berusaha dan memajukan kehidupanku.

Belum hilang beban pikiranku, orang yang kusayang layaknya kakakku menyalahkanku atas sesuatu yang tak kumengerti. jelas aku marah besar padanya dan bersedih hati atas sikapnya.

Sungguh Allah menaungi semua umatnya.

Di akhir puasa keadaan sudah lebih baik.

Sahabatku terus berusaha dijalan yang lebih baik, sahabat kampusku sudah mengurangi kegiatan diluar kampus dan aku sendiri mencoba menikmati hari dengan terus berusaha.

Kemarin 20 September 2009, lebaran tiba…

Kumpul bersama keluarga papa walau tak semuanya hadir, tapi bersyukur mereka berkumpul dengan hati riang dan kebaikan hati.

Pak uwo yang beberapa waktu lalu terkena stroke, keadaannya sudah mulai membaik. tapi jelas terlihat beban dihatinya dari sorot matanya. Dia berkaata, “Mari kita kuatkan rasa kekeluargaan kita, dan kembali kita pada sifat gotong royong.”

Sungguh membuatku terharu, semoga benar apa yang dikatakannya merasuk ke hati kami dan bersatu kami membangun kerajaan keluarga yang begitu kukuh.

Semoga Allah selalu melindungiku, orang tuaku, keluargaku, sahabatku dan guru.

Alhamdulillah….Allahu akbar…

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s