Pulau Yang Hilang

Standar

 

*******************************************************************************************************

 part 4

Siang itu di hari ke 6 di kapal dewa samundar, Ical berkali-kali mengetuk pintu kamar Bayu

“Apa apa sih Cal?” Tanya Bayu sambil kucek-kucek mata.

“Andin Bay, Andin.”

“Andin kenapa??”

“Andin nangis terus gara-gara mimpinya.”

“Emangnyamimpi apaan Cal??” Tanya Rudi yang dari tadi nguping.

“mimpi tsunami.”

“Hah tsunami?” Bayu langsung berlari kekamar Andin sedang Rudi menghampiri Ical, kebetulan semalam Rudi tukeran tempat sama Han.

“Tsunami bagaimana maksud kamu??”

“Andin dan aku ku mimpi kapal kita karam gara-gara tsunami, aku liat banyak yang mati.” Ucap Ical sedih.

Rudi memeluk Ical, “Yuk kita tenangin Andin.”

Dikamar Andin.

“Sudah Din, jangan dipikirin lagi mimpi itu.” Rajuk Bayu.

“Bayu tapi mimpi itu kaya nyata banget, kaya aku sendiri yang ngalaminnya, aku takut Bay, takut kehilangan lo, kehilangan Ical, kehilangan yang lainya.” Andin menangis dipelukan Bayu.

“Istigfar Din, tenangin diri kamu, nanti kita cari tau yah, tapi kamu harus tenangin diri dulu, kasian nanti mereka panik lagi.” Bayu meyakinkan Andin bahwa tidak akan terjadi apa-apa.

Akhirnya setelah mereka berempat berunding mereka memutuskan untuk mengatakan kepada yang lainnya, Han, Koko, Jihad, Fad dan Nika.

“Ada apa sih kak Ical kok tiba-tiba kita kumpul disini?” Fad penasaran apa yang sebenarnya terjadi karena muka Ical tampak khawatir.

“Nanti kamu juga tau.” Ical hanya tersenyum.

“Kak Andin kenapa matanya bengkak gitu?” Nika memperhatikan mata Andin yang tampak sembab.

Andin cuma tersenyum.

“Kita kasih tahu aja yah.” Ucap Rudi mengawalin pembicaraan.

Semua memandang Rudi.

“Semalam Ical dan Andin mimpi buruk.” Rudi menghela napas.

“Trus kenapa?” Han tampak kecewa dengan omongan Rudi karena ia pikir masalah mimipi buruk hanyalah kejadian biasa.

“Keduanya mimpi yang mirip.” Rudi menundukan kepalanya.

“Serupa.” Gumam Ical pelan tapi semuanya dapat mendengarnya.

“Mimpi tentang apa??” Jihad semakin serius menyimak cerita Rudi.

Bayu berfikir serius ketika mendengarkan penuturan Rudi dan Ical, “Ko, tolong cari di internet tentang keadaan di Indonesia.” Perintah Bayu.

Koko yang tadi disuruh membawa laptopnya kini menyambungkan dengan internet dan sibuk mencari berita terbaru tentang keadaan di Indonesia.

“Ada kabar apaan Kak Koko??” Tanya Nika.

Koko menghela napas lalu memutar arah duduknya,” Gempa 7 skala richter.”

“Gempa lagi??” Fad tampak tidak percaya.

“Gw yang akan jelasin tentang apa yang akan kita bicarain.” Ical ambil bicara, ”Gw sama Andin mimpi kapal kita karam, begitu banyak yang mati dan gw gak tau kita bakal selamat atau tidak.” Ical menahan tangisnya.

“Han gw takut.” Fad menatap Han. Han tersenyum meyakinkan pada Fad bahwa tidak terjadi apa-apa.

“Trus apa yang harus kita lakukan??” Tanya Jihad cemas.

“Kita hanya bisa berdoa agar tak terjadi apa-apa.” Ucap Rudi lemas.

Tok…tok…tok… ”Nona Andin saya Jack.” Koko membukakan pintu untuk Jack. “Sedang berkumpul rupanya.” Jack masuk dan tampak terkejut melihat layar computer milik Koko, lalu berusaha menanangkan diri. “Kapten ingin bertemu dengan kalian.”

“Dimana??” Tanya Rudi.

“Di ruang rapat.” Jack membuat dirinya senormal mungkin karena ia tak mau mereka menjadi curiga.

“Jack…” Panggil Andin,” Hal itu akan terjadi kan??”

“Hal apa??” Jack bingung.

“Kapal ini bisa karam kapan saja.” Ucap Andin tegas.

“Tenanglah tak akan terjadi apa-apa.” Jack tersenyum lalu keluar dari kamar Andin walau ia sendiri sanksi dengan perkataannya yang tadi.

Andin terduduk lemas, memandang langit cerah hari itu. ”Semua salah gw!!!”

“Din, ini semua bukan salah lo, mungkin ini kehendak Allah.” Ical duduk disamping Andin, merangkul sahabatnya.

“Ical bener Din, ini bukan salah lo, kita hanya bisa berdoa supaya gak terjadi apa-apa.” Bayu jongkok dihadapan Andin dan menghapus air mata  Andin.

“Iya kak Andin, kita gak nyalahin kak Andin kok. Mending kita ketemu sama kapten, kali aja ada yang mau diomongin, mungkin sebuah kabar baik.” Fad menyemangati Andin.

Andin memandang semua temanhya satu persatu. Semuanya memberi tatapan percaya pada Andin lalu Andin pun tersenyum.

Diruang rapat.

“Nah kebetulan nona Andin sudah datang, mari masuk.” Sapa Jack sambil menyebar senyumnya.

Andin dan yang lainnya duduk di kursi yang masih kosong.

“Ada apa Din? Tampaknya kamu habis nangis yah?” Kapten menunjuk ke arah wajah Andin yang tampak lesu dan matanya agak bengkak. Andin hanya tersenyum. “Ini tuan Smits, Kita mulai saja tuan Smits.”

“Saya senang kalian semua dapat berkumul disini, saya ingin mengadakan pesta atas hari-hari yang indah di kapal ini, berkat Andin.”

Semua saling pandang sejenak mereka melupakan kegelisahan hati, tersenyum gembira. “ Kapan??”

“Lusa, di dek kapal, yah pesta biasa, kita hanya makan dan minum bersama, sekedah berbincang saja.” Ujar Smits.

“Kami akan sangat senang datang ke pesta Anda.” Ucap Andin meyakinkan.

“Baik kalau begitu hanya itu saja yang saya ingin sampaikan.” Ucap Smits yang lalu berdiri dan keluar ruangan menyusul Jack dan kapten.

“Kapten…” Panggil Bayu,” Kami ingin bicara sebentar, boleh?”

Kapten masuk kembali dan Bayu menutup pintu.

“Ada apa? Apa yang kalian ingin bicarakan dengan saya?”

“Maaf mungkin ini agak aneh bagi kapten, semalam saya dan Ical bermimpi kapal ini akan karam, tsunami.” Ucap Andin memandang tajam kepada kapten.

“Maksud kalian??”

“Kami sudah mengakses internet dan melihat berita tentang gempa yang sering terjadi di Indonesia bagian timur, dan gempa-gempa tersebut berpotensi meninbulkan tsunami, mungkin saja ditengah perairan ini dapat terjadi gelombang tinggi.” Jelas Koko.

Kapten menghela napas, ”Apa yang kalian bicarakan tidak asing bagi saya.”

“Maksud kapten hal itu benar?” Tanya Nika tidak sabar.

Kapten terdiam semuanya saling pandang dan tampak terpukul. “Hal itu mungkin saja terjadi.”

Semua tampak shok dengan kata-kata kapten.

“Tapi untuk sementara ini keadaan laut belum menunjukan gejala akan terjadi gelombang besar, bahkan badai pun tak ada tanda-tandanya.” Kapten meyakinkan mereka.

“Apa persediaan pelampung dan segala alat pertolongan memadai untuk semua penumpang bila hal itu terjadi?” Tanya Jihad tegas.

“Semuanya telah dipersiapkan untuk keadaan darurat.”

“Apa sebaiknya kita memberi tahu penumpang tentang hal ini?” Tanya Han.

“Keputusan yang sulit tapi saya kira belum saatnya karena kita pun belum mengetahui adanya tanda bahaya dari alam.”

“Mudah-mudahan hal itu tidak akan pernah terjadi.” Tegas Rudi.

“Yah semoga saja. Maaf saya harus kembali ke ruang kemudi.” Kapten meningkalkan mereka dengan pikiran mereka masing-masing.

Smits masuk ke kamarnya duduk diatas ranjangnya, ia tampak terpukul dengan suatu hal. “Tidak mungkin hal itu terjadi, oh tuhan aku belum mau mati.” Smits menjambak rambutnya.

Kembali ke Andin dan teman-temannya.

“Sudahlah Din, kamu denger sendirikan perkataan kapten. Tidak ada tanda bahaya dari alam.” Bayu meyakinkan Andin.

“Din, lebih baik kita kembali ke kamar saja kita bicarakan semuanya disana sambil makan, Ok.” Ical tersenyum meyakinkan Andin.

Setelah makan mereka semua mandi dulu sedangkan Andin dan Ical tidur.

“Fahmi….” Ical langsung memeluk Fahmi ketika orang yang dirindukannya itu berada dihadapannya.

“Hei…kamu baik-baik saja??” Fahmi melepas pelukan Ical dan menatap matanya. Ical mengangguk. “Kamu jangan kuatir, Allah pasti selalu melindungi kita.”

“Maksud kamu??”

Fahmi tak menjawab pertanyaan Ical, ia pergi menjauhi Ical.

“Fahmi…” Ical memanggil dan mengejarnya.

Fahmi berhenti dekat pagar pembatas terluar di kapal, lalu terjun dan menghilang diterjang ombak.

“FAAAAAHHMMMMIIIIII……” Ical terbangun dari tidurnya.

Andin kaget mendengar teriakan Ical, “Ada apa Cal??”

Dengan napas terengah-egah ia menjawab,” Gw mimpi Fahmi kecebur di laut.”

“Mudah-mudahan itu bukan suatu pertanda buruk.” Gumam Andin.

Tak lama yang lainnya masuk.

“Trus sekarang apa yang kita lakukan?” Tanya Jihad lemas.

“Entahlah…” Rudi mengangkat bahunya.

“Kita doa bersama aja.” Usul Koko yang mulai memainkan laptopnya lagi.

“Boleh juga usulnya Koko.” Rudi melirik Bayu.

“Semua setuju??”

Semua hanya mengangguk.

“Ok mulai malam ini selama tiga hari setelah sholat isya??” Bayu memandang mereka satu persatu.

“Yah kamu aja yang mimpin.” Ucap Andin.

Hari berlalu dengan cepat namun terasa begitu lama bagi mereka detik demi detik terasa sangat menentukan, kegelisahan dihati mereka semakin mengusai pkiran mereka.

Semua berserah diri kepada tuhan, walau jauh dilubuk hati mereka,terbesit perasaan takut dan menyalahkan Andin, tapi persahabatan lebih penting, mereka menyembunyikan perasaan mereka itu.

Fad dan Nika memutuskan untuk menggunakan hari-hari mereka sebaik-baiknya, berjalan-jalan dengan Smits.

Koko terus memantau berita di internet, mengirim email untuk keluarga dan teman-temannya, kadang membuka situs-situs aneh untuk menghabiskan waktu.

Han mencoba melupakan masalah tsunami itu, dengan main PS atau sekedar jalan-jalan dan berkenalan dengan penumpang yang lain.

Jihad menghabiskan waktunya di perpustakaan kapal, buku-buku langka tentang pengetahuan semua dihadapkan didepan mukanya, ia mencoba melupakan apa yang menganjal dihatinya kalau bosan dengan buku-buku itu ia pergi kebioskop dan menonton disana.

Mungkin yang masih kepikiran adalah Ical, bukan karena mimpi tsunaminya saja tapi juga karena ia bermimpi tentang Fahmi, sepupu yang merangkap sebagai kakaknya.

Bayu dan Rudi cemas melihat kelakuan Ical dan Andin yang menjadi pendiam, mereka bingung apa yang harus mereka lakukan untuk menghilangkan kecemasan mereka.

Banyak yang telah mereka lakukan untuk menghilangkan kecemasan dalam hati mereka karena mereka juga merasa bahwa apa yang dikatakan Ical dan Andin itu benar, setiap malam mereka berdoa kepada Allah agar dibei kekuatan menghadapi kecemasan dan diberi keselamatan dari segala malapetaka, tapi kecemasan itu belum hilang juga.

“Smits??” Andin cukup kaget melihat Smits mendatangi  kamar mereka.

“Boleh saya masuk?”

“Tentu .” Andin mempersilahkan Smits masuk.

Smits menyalami Ical, Rudi dan Bayu yang berada diteras kamar.

“Ada apa? “ Tanya Bayu yang heran dengan kedatangan Smits.

“Kalian jadi datang ke pestaku kan??” Smits duduk tak jauh dari mereka.

“Insya Allah kami akan datang.” Ucap Rudi sambil menawarkan minuman soda.

“Insya Allah??”

“Jika tuhan menghendaki.” Jelas Bayu.

“Oh, maaf.” Smits mengambil soda dari tangan Rudi.

“Maaf? untuk apa?” Ical merasa agak aneh dengan perkatan Smits tadi.

“Boleh saya bertanya?”

“Tentu saja.” Jawab Andin santai, “Apa yang ingin ditanyakan ?”

“Saya dengar obrolan kalian dengan kapten tiga hari yang lalu.” Wajah Smits agak risau.

“Tentang apa ?”Bayu agak terkejut.

“Masalah …masalah mimpi kalian. Apa itu benar??”

“Itu hanya mimpi saja.” Ucap Ical sambil melirik Andin dan tersenyum.

“Tapi ada beberapa mimpi yang bisa terjadi kan, saya pernah mengalaminya.” Smits mencoba meyakinkan mereka.

“Dengar Smits, masalah mimpi kami jangan kamu pikirkan, kami tak ingin orang lain merisaukan hal itu.” Jelas Bayu.

“Tapi kalau sekiranya hal itu terjadi, apa kalian tidak merasa bersalah karena tak memberitahu orang lain.” Smits tidak percaya dengan apa yang diucapkan oleh Bayu tadi.

“Jika itu memang pertanda untuk kita, kami pun tak tahu harus mengatakan apa kepada orang lain, kami tak tahu itu memang akan terjadi atau tidak.” Ical meyakinkan Smits.

“Sudahlah Smits jangan dipikirkan hal itu, kita berdoa saja semoga mimpi itu hanyalah sebuah mimpi saja.” Rudi turut meyakinkan Smits.

“Semoga saja itu memang  hanya sebuah mimpi, jangan lupa nanti kalian datang ke pestaku, tapi pakailah pakaian hangat mungkin nanti malam lebih dingin dari biasanya.” Saran Smits, lalu Smits pergi dari kamar Ical.

Smits merasa begitu tenang ketika bersama Andin, Ical dan yang lainnya,” Ada apa denganku?? Aku merasa tenang sekali bersama mereka, walau aku tahu mereka juga cemas tapi mereka terlihat begitu tenang .” Gumam Smits.

Rudi tertawa.

“Kenapa Rud??” Ical bingung dengan tingkah Rudi.

“Ternyata bukan kita saja yang dirisaukan hal itu.” Rudi menghentikan tawanya lalu meminum sodanya.

Ical mendekati Rudi, “Maaf yah aku membuatmu risau, jangan khawatir aku sudah tidak apa-apa lagi.” Ical memeluk Rudi.

“Aku lega kamu bicara seperti itu, semoga itu benar.”

Andin dan bayu saling berpegangan tangan, saling pandang dan tersenyum.

“Kak Andin…Kak Andin jadi ke pestanya Smits kan??” Teriak Nika sambil berlari ke arah Andin yang lainnya.

“Jadi, kita kan mau seneng-seneng.” Ucap Ical yang sudah melepaskan pelukannya.

“Fad mana?” Tanya Bayu.

“Lagi PD kate cogan,cowo ganteng.”Nika terkekeh sendiri. “ Nanti kalo mau pergi ke pesta Smits, panggil Nika yah.” Nika langsung keluar dari kamar Andin.

“Rud menurutku kita gak usah datang, aku masih khawatir.” Ical tertunduk lemas.

“Cal, ayolah kasian anak-anak kalo kita gak jadi datang, mereka kan mau seneng-seneng masak cuman karena mimpi kaya gitu kita jadi gak nikmatin perjalanan ini.” Rudi mencoba meyakinkan Ical.

Ical hanya menghela napas lalu tersenyum.

Malam rasanya datang begitu cepat tetapi dinginnya lautan malam mendahului sang malam itu sendiri. Angin memang berhembus pelan, laut tampak tenang dan bersiap untuk menikmati pesta bersama penumpang dan awak kapal.

Fad dan Nika agak sedikit grogi dengan pesta itu, mungkin karena itu pesta pertama mereka selain pesta ulang tahun atau pesta hajatan, maklum saja merekakan bukan dari kelas ekonomi tingi yang bisa setiap saat meikmati pesta yang berbau foya-foya.

Koko dan Han mendatangi kamar Jihad, sedangkan Bayu sudah nongkrong dikamar Andin dari petang tadi.

“Males nih, mana dingin lagi.” Keluh Han yang sedang membaringkan tubuhnya di ranjang berselimut tebal.

“Lo disini bukannya seneng-seneng malah molor trus.” Omel Koko.

“Yah namanya liburan jadinya waktu istirahat alias tidur.” Celetuk Han.

“Ah lo berdua berantem aja sih kerjaannya, yuk pasti yang lainnya udah nunggu.” Jihad memaksa Han bangun dari pembaringannya.

Semua sudah berkumpul dan bersiap menghadiri pesta makan. Malam itu angin berhembus pelan namun membawa butir-butir air yang terasa sangat dingin bila menyentuh kulit.

******************************************************************************************************

part 3

Andin termenung di kamarnya, “Jihad dah dapet kuliah, Fahmi malah kuliah di luar negeri, Ical juga udah dapet tempat kuliah, gw mau ngambil jurusan apa yah?”

Tiba-tiba wajahnya menjadi cerah, ia langsung bangun dan mencari sesuatu diatara gulungan-gulungan kertas di sebuah keranjang, “Kok gak ada yah?”

“Andin…Andin…” suara serang laki-laki memanggil namanya.

“Papa!!” Serunya dan langsung turun kelantai bawah, memeluk Papanya yang baru pulang, ”Papa kok pulangnya lama banget sih, Andin kan kangen.”

“Papa juga kangen sama kamu, Papa belom ngasih selamat nih sama kamu atas kelulusanmu.” Papanya memeluk Andin sekali lagi.

“Kamu ikut Ujian masuk universitas?” Papanya menjatuhkan dirinya disofa.

“Ikut, bulan depan. Sebaiknya Andin ngambil apa yah Pa?” Andin bertanya sambil membuatkan minuman untuk Papanya.

“Em. . .Papa sih terserah kamu aja, kamu mau masuk pelayaran juga gak apa-apa.” Papanya tertawa kecil.

“Itu sih maunya Papa, biar Andin bisa nerusin usahanya Papa, padahal kak Atar udah setuju buat nerusin usahanya Papa.” Andin menyuguhkan secangkir teh lalu duduk di samping Papanya. ”Andin sih maunya ngambil pendidikan aja, pengen jadi guru gitu Pa.” Andin membayangkan dirinya berada di sebuah ruang kelas.

“Terserah kamu ajalah, Papa selalu ngedukung kamu kok. Oh iya Papa sampai lupa.” Pak Malaya menepuk jidatnya.

“Lupa apaan Pa??”

“Kamu gak pernah nonton berita yah??” Andin menggeleng, ”Kapal terbaru Papa kan udah jadi, bulan depan mulai berlayar ke Australia.”

“Yang bener Pa?”

Pak Malaya meminum tehnya lalu mengecup kening anak bungsunya itu, “Kamu mau liburan kemana? Biar papa temenin kamu tapi hanya tiga hari aja loh.”

Andin mengerutkan keningnya.

“Aku ingin menemui kakak.” Jawab Andin singkat.

“Oke, kita ajak mereka berdua jalan-jalan ke puncak atau ke pantai.”

Andin mengangguk setuju.

***

Kedua kakak Andin yang meneruskan kuliah diluar kota membuat mereka jarang berkumpul bersama Andin, mereka terkejut ketika melihat Andin datang ketempat mereka tinggal apalagi Andin ditemani papanya.

“Andin? Papa?” Seru kak Dita yang melihat mereka berdua, kak Dita langsung memeluk Andin dan papa yang sangat dirindukannya.

“Uh…Andin gak bisa napas nih.” Ucap Andin menggoda sehingga Dita melepaskan pelukkannya.

“Papa ambil cuti?” Tanya Dita cepat.

“Papa sengaja ambil cuti, papa kangen sama kalian, Radit mana?”

“Radit sedang fotocopi tugas, sebentar juga pulang.”

“Itu kak Radit.” Tunjuk Andin keluar pagar lalu Andin segara berlari kearah Radit.

“Andin?” Radit menyambut pelukan Andin dan menciumi wajah adik tersayangnya itu.

“Gimana kabar kamu?”

“Baik.” Andin memeluk sekali lagi.

“Kalian mau ikut kami jalan-jalan?” Tanya papanya.

Radit dan Dita mengangguk antusias.

Mereka menikmati kepulangan papa mereka dengan jalan-jalan ke tempat wisata yang berada di kota dimana Radit dan Dita berkuliah.

“Oh iya Andin kak Radit belum mengucapkan selamat atas kelulusanmu. Selamat yah.”

“Terima kasih kak Radit.” Andin menerima ciuman dikeningnya.

“Aku juga mau ucapin selamat buat adikku, Selamat yah.” Dita juga mencium kening Andin, “Dan ini hadiah buat kamu.” Dita mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya.

“Ah apa ini kak?”

“Buka aja.”

Ternyata Andin menerima sebuah jam tangan dengan bertuliskan nama andin di tali jam itu. “Ah bagus banget, terima kasih kakakku sayang.”

“Papa juga punya hadiah buat kamu.”

“Apa pah?” Tanya Andin antusias.

Papanya menyerahkan sebuah gambar.

“Inikan?”

“Itu sebenarnya hasil rancangan kamu yang dulu itu, yang kamu kasih nama Dewa Samundar.”

Andin terkejut, ”Pantesan Andin cari gambarnya gak ketemu.”

“Kamu mau ikut pelayaran pertama?” Pak Malaya mengelus kepala Andin.

“Mau.”

“Kamu ajak teman kamu, nanti papa yang urus semuanya.”

“Sip deh.” Andin memeluk Papanya, “Terima kasih papaku sayang.”

* * *

Keesokan harinya subuh-subuh Andin sudah datang kerumah Ical.

“Andin… Tumben kamu pagi-pagi udah kesini.” Sapa Papanya Ical.

“Iya Om, mau latihan sama Ical.”

“Oh gitu, latihannya yang bener yah.” Papanya Ical meneruskan baca korannya.

Ical menarik Andin ke lapangan belakang rumah, mereka berdua sudah siap dengan baju latihan pencak silat. Latihan dimulai dengan pemasan lalu peregangan kemudian dilanjutkan dengan serangkaian gerakan silat setelah itu mereka berdua bermeditasi menunggu datangnya sang matahari.

“Cal…” Andin masih dalam posisi meditasi.

Ical menghembuskan napas, lalu menghentikan meditasinya. ”Apa??” Ical bangkit dan mengambil botol minuman dipinggir lapangan.

“Mau ikut gak?” Andin mendekati Ical.

“Kemana?” Ical menyerahkan botol minuman kepada Andin.

“Papa bikin kapal baru, gw diajakin berlayar, mau ikut gak?”

“Kemana?”

“Ke Australia.” Ucap Andin santai.

“Australia? Mau.” Ical terlonjak dan langsung memeluk Andin, ”Ajak yang lainnya??”

Andin mengangguk.

* * *

Atas panggilan Ical dan Andin semuanya berkumpul di Restonya bang Billy, menikamati makanan gratis yang dijanjikan oleh bang Billy pas perpisahan sekolah. Ikan bakar dan aneka makanan seafood serta beberapa makanan penutup disantap oleh mereka dengan gembira, tawa dan ocehan khas mereka turut menyertai kunyahan mulut mereka.

“Plok…plok…plok…plok…” Andin bertepuk tangan meminta perhatian semuanya. Semuanya berhenti makan dan memandang Andin serius.

“Kalian gak ada yang mau nanya kenapa kalian dipanggil kesini?” Andin memandang mereka semua sekali sapuan.

“Mau makan gratis kan?” Tebak Fahmi sambil nyengir.

Ical menyilangkan tangannya, “Maaf jawaban anda kurang tepat.”

“Sebenarnya gw ngundang kalian kesini itu buat…” Andin terdiam sebentar.

“Buat apa?” Tanya Han sambil makan es krim.

“Papa gw ngundang kalian untuk datang ke kapal barunya.” Ucap Andin hati-hati.

“Mau makan gratis lagi yah?” Tanya Jihad yang mengelus-elus kepala hamper botaknya.

“Tepat. Tapi ada yang lebih seru lagi yaitu berlayar ke Australia dengan kapal itu.”

Semua melotot, Han keselek es krim dan memuntahkan es krimnya ke kepala Jihad.

“Sumpeh lo!!!!” Tanya Rudi dan Bayu bersamaan.

“Disamber geledek rame-rame deh.” Andin mengangkjat 2 jari.

“Kapan??”

“Abis SPMB, nanti baliknya naik pesawat, paspor dan segala macamnya diurus sama papa, kalian tinggal kalian nyerahin surat-suratnya.” Andin kembali makan pudingnya.

“ASSSSIKKKK . . .” Mereka semua saling berjabat tangan sambil tertawa-tawa.

“Terima kasih tuhan engkau memberi ku kesempatan naik kapal mewah.” Koko berdoa mengadahkan tangan.

“Kalau begitu kalian nanti akan gw ajak jalan-jalan disana, setuju?” Fahmi berkata dengan semangat.

“Setuju!!!”

* * *

Awalnya Ical memang sangat marah karena Fahmi menyembunyikan tentang kepergiannya ke Australia namun kemudian Ical berfikir dengan jernih, ini pun untuk masa depan Fahmi sendiri dan mereka akan tetap sebagai keluarga dimanapun mereka berada dan sejauh mana mereka berpisah. Fahmi sendiri memaklumi sikap Ical yang pada awalnya menentangnya untuk kuliah di Australia walaupun ia sendiri juga tak menginginkan hal itu, tapi fahmi menjadi lega dan ringan dalam menjalankan keinginannya itu, ia pun berfikir pasti ayahnya ingin yang terbaik untuknya.

“Ma…Pa…temen-temenku mau nginep, kita mau latihan bareng.” Ucap ical manja.

“Kalian udah makan kan?” Tanya Mama Ical sambil membuat teh untuk suaminya.

“Udah ma, bolehkan temen Ical nginep?” Ical merengek.

“Boleh.” Mamanya Ical menyuguhkan teh yang ia buat untuk suaminya.

“Ya udah, tapi papa mau kenal dulu sama temen-temen kamu.” Lirik Papanya kepada Ical ketika nonton televisi.

Andin memberi kode pada semuanya untuk masuk.

“Pa…Ma… kenalin ini Rudi, ini Han, Koko, Bayu, Jihad dan…” Semuanya bergantian menyalami papa dan mamanya Ical.

“Nama saya Fahmi, Om dewo.” Fahmi menyalami Papanya Ical.

Papanya Ical memandang Fahmi tanpa berkedip, ”Om pernah lihat kamu ?”

“Masa sih Om, saya aja baru ketemu Om sekarang. Tapi Om dewo gak ngeliat muka Fahmi di Koran kriminalkan?” Ucap fahmi sambil cengengesan.

“Bisa saja kamu, ya sudah silahkan naik keatas.”

Semua naik ke atas untuk berganti baju.

“Pa…Papa…kenapa sih? Kok tiba-tiba jadi bengong gitu?” Mama menepuk paha suaminya.

“Papa mau bicara dulu sama Mama.” Papa menarik Mama kekamar.

Jam 9 semuanya sudah berada dilapangan, melakukan pemanasan dengan aba-aba Bayu kemudian Fahmi mengambil komando dan mulai mengajarkan beberapa gerakan khusus bersama Bayu.

Mas Andra…dimana kamu Mas?? Aku rindu sekali denganmu, kenapa tega ninggalin aku sendirian. Batin Papanya Ical bertanya-tanya sambil melihat Ical dan yang lainnya latihan terutama Fahmi yang sangat menarik perhatiannya.

Masih jernih ingatannya ketika kakaknya Diandra mengajarkan dengan sangat teliti gerakan-gerakan silat kepadanya. Walaupun kadang ia sulit memahami gerakan-gerakan itu tapi kakak yang paling disayangnya itu mengajarkannya dengan sabar, satu-persatu gerakan diajarkan dan diberitahu manfaat dan makna yang terkandung didalamnya. Tapi semenjak kejadian itu semuanya berubah, kakaknya menjadi seorang yang pemurung. Terakhir kali ia melihat kakaknya tertawa lepas ketika suatu siang mereka mancing di sungai yang saat itu arusnya sangat deras. Pancingan yang dipegang oleh Dewa hampir terlepas dari tangannya bila kakaknya tak menangkapnya dengan gesit maka hilanglah pancingnya, saat itu kailnya tersangkut sesuatu yang menariknya dengan kuat. Dewo kira itu seekor ikan yang besar sekali sehingga ia dan kakaknya menarik batang pancing dengan kuat sambil terus menjaga agar jangan lepas ikan itu.

“Biar aku turun ke sungai dan menangkap ikan dengan tanganku.” Usul Dewo.

“Jangan, sungainya sedang mengalir deras, kau tak pandai berenang, biar masmu saja.” Cegah Andra.

“Aku saja, mas pegang pancingnya.” Dewo hendak menceburkan diri ke sungai tapi ia malah terpeleset dan berpegangan pada Andra akhirnya mereka berdua jatuh kesungai yang deras dan menemukan bahwa kail pancing mereka hanya tersangkut pelepah pisang yang terbawa arus, mereka tertawa hingga kembali kerumah dengan basah kuyup dan tanpa hasil pancingan.

Malamnya Andra membangunkan Dewo dan meminta agar Dewo menemuinya di tanah lapang dekat sungai. Sesampainya disana Andra seperti orang kesetanan menyerang Dewo, sekuat tenaga Dewo meladeni sambil menanyakan pada kakaknya apa yang terjadi. Andra bukannya menjawab malah terus menyerang Dewo, hingga Dewo berhasil menjatuhkan dan mengunci dirinya di tanah.

“Ada apa mas? Kenapa kau menyerangku seperti hendak membunuhku?”

“Selamat.” Ucap Andra sambil tersenyum pada Dewo.

Dewo atau yang bernama asli Madewa itu melepaskan kunciannya pada kakaknya, “Apa maksud mas?”

“Kau pantas disebut sebagai pendekar sejati.”

“Maksud mas?”

“Jangan takut adikku, engkau tak pantas dibandingkan dengan diriku, engkau adalah engkau, aku adalah aku, kita berbeda, maka bila dibandingkan maka tak akan habisnya dan hanya akan menimbulkan penyakit dihati.” Andra memeluk Dewo dengan sangat erat lalu melepaskannya, “Aku menyayangimu tapi aku tak bisa terus mendampingimu, bangkitlah dan jadilah dirimu sendiri tanpa bayang-bayangku.” Diandra berjalan membelakangi Dewo lalu menceburkan diri kesungai yang mengalir deras.

Melihat hal itu Dewo juga menceburkan dirinya ke sungai dan berusaha mengejar kakaknya tapi Dewo bukanlah perenang yang handal dan ia mulai kehabisan tenaga akhirnya ia menyerah dan keluar dari sungai sambil menangis.

***

“Woi udahan dulu latihannya, capek nih.”Keluh Han.

Rudi dan Jihad ikutan ngaso bersama Han.

“Gila tuh Andin sama Ical masih bertahan aja.” Puji Jihad.

Tiba-tiba Fahmi mendekati Rudi, “Rud gw pengen ngomong.”

“Tentang apa?”

“Empat mata aja.”

Rudi mengikuti Fahmi ketempat yang agak jauh dari Han dan Jihad.

“Ada apa Mi?” Tanya Rudi.

“Lo suka sama Ical kan?”

Rudi kaget dengan pertanyaan Fahmi.

“Gw minta tolong sama lo, jaga Ical selama gw pergi kuliah.”

“Maksud lo apa sih Mi?”

“Tembak Ical sekarang, biar lo bisa ngelindungin dia.”

“Bukannya lo lagi deket juga sama dia.”

Fahmi tersenyum lalu sekilas melihat Ical dan Andin yang lagi ketawa bersama Bayu, “Gw anggap Ical tuh ade gw, dan lo tuh temen gw, jadi gw titip Ical ke lo.”

Rudi menghela napas, “Lo tenang aja, gw akan jaga Ical.”Rudi tersenyum, “tapi setelah dapet izin dari…”

“Ya, gw tau dan gw yakin dia juga akan ngizinin lo sama Ical untuk pacaran.”Fahmi memberi dukungan ke Rudi.

***

Hari keberangkatan Fahmi.

“Lo nunggu siapa lagi sih Mi?” Bayu menutup pintu bagasi mobil.

“Ical.”

“Ical? Sebenernya lo ada hubungan apa sih sama dia?”

Fahmi memandang Bayu lalu menghela napas, “Gak ada.”

“Kita berangkat??”

“Tunggu dia dulu.”

“Ical biar nyusul aja ke bandara.”

Fahmi menghela napas dan mengikuti Bayu masuk ke mobil. Fahmi sibuk sms Ical sedangkan Bayu nyupir.

Siang itu jalan menuju bandara cukup padat. Sudah lebih dari 1 jam Fahmi dan Bayu terjebak macet.

“Wah bisa terlambat lo Mi.”

“Tenang aja masih 2 jam lagi kok.”

Akhirnya setelah usaha yang keras dan panjang mereka berdua sampai dibandara. Menurunkan koper-koper lalu menunggu Ical.

Tiba-tiba Ical muncul dan langsung memeluk Fahmi, “Mi jangan pergi dong.” Ical merengek.

“Nanti kita ketemu lagi kan? Kemarin kamu setuju aku pergi kok sekarang tiba-tiba merengek gitu.”

“Tapi…”

“Kamu tenang aja aku pasti kasih kabar ke kamu terus kok apalagi ada Rudi yang jagain kamu.”

“Mi, hati-hati yah disana, tenang aja kita pasti nyusul lo secepatnya.” Rudi memberi salam perpisahan pada Fahmi, “Gw akan jagain Ical seperti lo jagain Ical.”

Ical menatap Fahmi, menahan tangisnya lalu memberikan sesuatu, ”Kamu jangan lupa sama kita disini yah? Inget juga perjanjian kita.”

Fahmi memeluk Ical, ”Aku janji, aku bakal pulang cepet.” Semuanya memberi salam perpisahan terakhir untuk Fahmi. Fahmi lalu masuk ke pintu khusus penumpang.

“Cal, kamu jangan nangis yah, aku yakin Fahmi pasti cepet pulang kok.” Rudi menenangkan Ical.

Ical menghentikan tangisnya tapi hatinya tak henti berteriak memohon agar Fahmi tak pergi. Fahmi mencoba menahan air matanya karena ia merasa Ical tak henti memanggil namanya lewat hatinya.

* * *

Hari demi hari mereka semakin sibuk menyiapkan diri untuk SPMB.

“Han kok kamu gak belajar?” Tanya mamanya sambil berkacak pinggang ketika tau Han malah main PS bukannya belajar.

“Belajar terus pusing ma, bukannya pinter malah buntu.” Ucap Han asal sambil terus maen game petualangan.

“Terserah kamu deh Han, kamu udah dewasa jangan nyesal kalau terjadi apa-apa nanti.”

“Iya mama ku sayang.”

“Fad yakin ma, Han gak bakal lulus ujian apatuh namanya, Oh iya SPMB.” Celetuk Fad adeknya Han yang tiba-tiba lewat.

“Diam kau anak kecil ikut campur urusan orang dewasa saja.” Kata Han kesal.

“Bay…kamu kesini dong, aku kangen sama kamu, sekalian nanti temenin aku beli baju buat anak-anak.” Rengek Andin ditelepon.

“Andin kusayang aku siang ini ada wawancara kerja jadi nanti sore aja yah.” Bayu berusaha sabar.

“Memangnya kamu selesai wawancara jam berapa?”

“Aku juga gak tau kalau disurat panggilannya sih jam 11 tapi pasti ngaret pulangnya, gak apa-apakan??”

“Ya udah deh tapi janji yah kamu temein aku ke mal.”

“Iya, mending kamu sekarang belajar lagi deh besokkan  ujian SPMB.”

“Sip deh tapi kamu jangan lupa doain aku yah.”

“Iya, assalammualaikum…” Bayu memutus obrolannya.

Di rumah Ical yang tampak sepi suasana itu menambah nikmat diskusi Rudi dan Ical diteras rumah.

“Rud kalo yang ini pake rumus yang mana?”

“Kalo yang ini harus di misalkan dulu baru kemudian baru bisa dihitung pakai rumus yang ini.”

“Oh begitu toh rupanya, kalo yang ini??”

“Kalau yang ini tinggal langsung dimasukin aja ke rumusnya.”

“Bener juga yah.”

Rudi menutup buku yang sedang di baca oleh Ical, ”Boleh aku tanya sesuatu sama kamu??”

“Tanya apa??” Ical memandang Rudi dengan serius.

“Sebenarnya Fahmi itu siapa kamu sih? Kamu kayanya lebih sayang sama dia dari pada sama aku.”

“Ya ampun Rud, udah aku bilang berkali-kali, Fahmi itu cuma temen aku gak lebih.”

“Kamu pasti bohong.”

“Aku harus ngomong apa ke kamu biar kamu percaya?”

“Cal, aku ini pacar kamu, kamu bisa percaya sama aku.”

“Aku jujur sama kamu, aku gak ada hubungan apa-apa sama Fahmi, tanya aja Andin atau yang lainnya.” Suara Ical mulai meninggi.

“Percuma nanya sama mereka pasti jawabannya sama kaya jawaban kamu.”

“Itu kamu udah tau jawaban mereka, kenapa kamu tetap ngotot mau tau lebih??”

“Itu karena aku pernah liat kamu berduaan sama Fahmi, pelukan di restonya Bang Billy.”

Ical menghela napas, ”Ya memang,  aku ada hubungan sama dia tapi kamu gak akan dapat jawaban lebih dari itu, tidak akan Rud, belom waktunya.” Ical meninggalkan Rudi sendirian diteras.

Di rumah Koko.

“Bang lagi ngerjain apa sih? Dari tadi main computer terus.”

“Lagi bikin animasi, tar kalo udah jadi Abang kasih liat ke kamu deh.”

“Tentang apa bang?”

“Rahasia. Sudah sana jangan ganggu Abang terus ato nanti malah gak Abang kasih liat hasilnya lo.”

“Huh…bolehnya marah.” Protes Deni adik sepupunya Koko.

* * *

Malamnya mereka tak tidur nyenyak karena memikirkan hari esok, entah apa yang terjadi besok dan hari-hari selanjutnya. Selama tiga hari mereka hanya belajar dan belajar tapi semua keputusan ditangan Allah, mereka hanya bisa melakukan yang terbaik bagi mereka.

“Uh akhirnya selesai juga, jadi stress nih.” Keluh Andin yang baru keluar ruangan SPMB.

“Andin…” Panggil Bayu yang memang sudah menunggu di depan ruangan,  “Anak-anak nunggu didepan tuh.” Bayu menarik tangan Andin.

“ Loh Ical masih didalem!!”

“Tar biar yang lain aja yang nungguin dia. “

“Ada apa sih Bay??”

Bayu cuma terus memegangi tangan Andin. Bayu berhenti menarik tangan Andin didepan seorang penjual kelinci. “Mau beli gak?”

“Mau…mau… beli buat Ical juga yah?” Andin langsung berjongkok didepan kandang kelinci.

Pas Ical keluar kelas bersama Rudi dan Jihad ia langsung disodori seekor kelinci oleh Andin.

“Lucu banget…” Ical langsung memeluk kelinci itu.

“Buat lo, jadi kita punya kelinci lucu deh.” Andin juga memeperlihatkan kelinci yang berada di tangan Bayu.

“Yuk pulang.” Ajak Koko.

Seperti biasa mereka ngumpul dulu dirumah Ical buat menikmati hidangan siang yang sengaja disiapkan untuk mereka.

“Cal boleh tanya gak?” Bayu membuka pembicaraan.

Ical mengalihkan pandangannya pada bayu, “Apa?”

“Foto itu foto siapa?” Bayu menunjuk Foto Kakek.

“Oh itu kakeknya Ical.” Jawab Andin mendahului Ical.

“Kok mirip seseorang yah?”

“Siapa?” Tanya Rudi yang turut penasaran.

“Ah salah orang kali.” Bayu cengengesan, padahal didalam hatinya dia yakin banget kalau kakeknya Ical mirip bapaknya Fahmi.

* * *

Hari keberangkatan.

“Wih…guede buanget kapalnya.” Seru Nika gembira.

“ Cek…cek…cek…kasian banget yah yang jadi OB-nya.” Gumam Fad.

“ Eh buruan nanti ketinggalan loh.” Teriak Andin.

Han menarik tangan Fad dan Nika yang berada dibarisan paling belakang.

“ Tiket?” Tanya seorang petugas pemeriksa tiket.

“ Nama saya Andina Malaya, ayah saya yang menyuruh saya ikut perjalanan ini dan kami gak megang tiketnya.” Ucap Andin agak takut.

“ Maaf nona, yang tanpa tiket dilarang masuk.”

“ Tapi kapal ini milik ayah saya.”

“ Nona jangan sembarangan, mengaku anaknya pemilik kapal ini.”

“Ada apa??” Bayu dan Ical bertanya pada Andin.

“No tiket.” Andin menggeleng.

“Trus gimana?” Tanya Han agak kaget.

“Gak tau.” Andin bingung.

“Yah gak jadi jalan-jalan deh.” Keluh Fad.

“Sedihnya.” Nika turut berkeluh.

“Maaf sebaiknya anda turun.” Perintah petugas itu.

“Tapi benar saya anaknya Pak Malaya. Nama saya Andina Malaya.” Andin mencoba menjelaskan.

Petugas itu tertawa, ”Saya hanya bercanda, kedatangan Anda sudah saya tunggu-tunggu.”

Andin dan yang lainnya kaget dengan pernyatan petugas itu.

“Nama saya Jack, mari saya antar kalian kekamar kalian.” Jack mempersilahkan mereka jalan duluan.

“Uh sangka gw beneran kita gak boleh masuk.” Bisik Andin.

“Gw juga deg-degan tau, reseh yah tuh petugas.” Ical dan Andin menahan tawa karena ingat kejadian tadi pas mereka dikerjain oleh Jack.

“Maaf yah soal tadi jangan diadukan kepada Pak Malaya.” Jack tertawa sendiri.

Fad dan Nika memandang aneh Jack.

“Kamar kalian dari kamar ini sampai kamar keempat silahkan pilih, satu kamar berdua.” Jelas Jack.

“Terima kasih, jack.” Goda Fad dan Nika.

“Sama-sama nona-nona yang cantik.” Jack mengedipkan matanya ke Fad dan ke Nika.

Semuanya tertawa kecuali Han, “Ade gw nih.” Cetus Han.

Jack pergi tanpa menghiraukan perkataan Han.

“Ih petugas aneh, kita datang malah dikerjain, sekarang pergi main nyelonong aja.” Keluh Koko.

“Kamar kita disini yah??” Tanya Nika.

“Boleh, kamar kita yang ini yah.” Andin membuka pintu kamar yang pertama sedangkan Fad dan Nika langsung masuk kekamar disebelahnya.

“Kalian kamar yang mana?” Tanya Ical ke cowo-cowo.

“Gw ambil kamar yang terakhir aja sama Han.” Ucap Bayu sambil narik tangan Han.

Semua masuk ke kamar, mengistirahatkan tubuh mereka yang akhir-akhir ini cukup lelah.

Tok…tok…tok…

“Buka tuh Din.” Perintah ical yang hendak masuk kamar mandi.

“Nona Andina?” Tanya seorang laki-laki yang berseragam seperti Jack.

“Iya, Anda siapa?”

“Kenalkan nama saya Ramdan Prawiro, saya kapten kapal ini. Saya mengantarkan barang-barang anda dan teman-teman anda.” Ucap Pak Ramdan ramah.

“Oh…mari taruh disini saja biar nanti kami yang mengaturnya sendiri.” Andin mempersilahkan Pak Ramdan dan anak buahnya masuk.

“Siapa Din?” Tanya Ical yang baru keluar dari kamar mandi.

“Cal kenalin ini kapten Ramdan.” Andin menarik Ical mendekati Pak Ramdan.

“Kenalkan nama saya Ical.”

“Saya Ramdan Prawiro, cukup panggil saya Pak Ramdan saja.” Pak Ramdan menyalami Ical.

Anak buahnya pak Ramdan keluar duluan setelah semua barang telah ditruh di kamar Andin.

“Saya senang sekali kalian bisa ikut, apalagi yang saya dengar dari pak Malaya kapal ini sebenarnya rancangan Andin.” Muka Andin jadi memerah kerena pujian Pak Ramdan.

“Ah…jadi malu saya.” Andin menutup mukanya.

“Saya justru bangga ternyata di Indonesia ini banyak bakat terpendam, nanti sore pukul 4 ada acara pertemuan, kedatangan kalian saya tunggu .” Pak Ramdan memberikan sebuah kartu undangan.

“Ya, kami akan datang.” Ucap Ical.

“Saya kembali ke ruang kendali, senang bisa bertemu dengan kalian.” Pak Ramdan menyalami keduanya.

* * *

Anak-anak berkumpul untuk mengambil barangnya masing-masing dan mereka makan siang dikamarnya Andin.

“Eh nanti jam 4 kita diundang keacara pertemuan loh.” Ucap Ical sambil memperlihatkan kartu undangannya.

“Formal??” Tanya Rudi menghentikan makannya.

“Santai.” Jawab Andin pasti.

“Pasti rame.” Komentar Fad.

“Pastilah, tadi aja penumpangnya bejubel.” Nika turut berkomentar.

“Kita berapa hari sih perjalanannya??” Bayu menuangkan jus digelasnya.

“Gak tau.” Jawab Andin cepet. Mereka menikmati siang itu sambil berkhayal lepas semau mereka, mereka saling bertanya dan menjawab sendiri pertanyaan lucu dalam benak mereka.

* * *

Mereka sampai di ruang pertemuan.

“Waduh rame buanget.” Han terkejut karena ruangan itu begitu banyak orang.

“Yuk kita cari tampat yang kosong.” Ajak Ical.

Sebelum mereka melangkah Jack menghalangi jalan mereka, “Tempat kalian disebelah sana, meja no 2.”

Tanpa berkata apa-apa semuanya berjalan kearah meja yang diberitahukan oleh Jack.

“Kayanya kita jadi tamu penting deh.” Bisik Fad ke Han.

“Ya iyalah.”

Pak Ramdan menghampiri mereka, “Saya senang kalian berkenan hadir di acara ini, silahkan menikmati pestanya.”

“Terima kasih untuk mejanya.” Ucap Andin sambil tersenyum.

“Jack yang akan melayani kalian, saya pergi dulu.”

“Silahkan.” Ucap semuanya.

Pak Ramdan memberi perintah untuk mematikan musiknya, ia mengambil Mic , ”Saudara-saudara mohon perhatiannya. “

Semua tamu berhenti berbicara dan meperhatikan Pak Ramdan yang terlihat gagah dengan seragamnya. “Terima kasih atas kehadiran anda semuanya, hari ini kita menikmati perjalanan perdana kapal ini.” Semuanya tiba-tiba bertepuk tangan.

“Hari ini pun kita kehadiran tamu istimewa, seorang yang telah berjasa membangun kapal ini, merancangnya dan membuat harapan baru untuk Indonesia. Kita panggilkan Andina Malaya.”

Andin keget karena namanya dipanggil, semua temannya tersenyum dan menyuruhnya maju. Andin menolaknya, ical dengan segera menarik Andin.

Andin dengan malu-malu akhirnya bersedia memberikan sepatah dua patah kata. Semuanya merasa kaget kerena Andin hanyalah seorang remaja, semuanya merasa bangga tapi yang paling bangga adalah sahabat-sahabat Andin.

Malam pertama di kapal tersebut sungguh menimbulkan suasana berbeda dari malam-malam sebelumnya yang telah dilalui Ical dan yang lainnya sejak dari mereka membuka mata didunia ini. Angin laut yang bertiup cukup kencang membuat siapa saja berusaha mencari kehangatan di balik pakaian yang mereka kenakan. Tapi laut tak bergeming sedikit pun dengan kencangnya tiupan angin malam itu. Langit semakin gelap, bintang semakin terang sinarnya sedangkan bulan yang belum sempurna tampak enggan menunjukkan dirinya. Ical berdiri dekat pagar, ia menutup dirinya rapat-rapat dengan 3 lapis pakaian tapi angin selalu saja dapat celah untuk masuk ke dalam pakaiannya dan menggelitik kulit tubuhnya. Ical menatap langit yang tampak senang dengan ketenangan malam itu. Rudi yang tengah berdiri disamping Ical turut tak bicara dan hanya menikmati tiupan angin yang memainkan rambutnya yang sudah tampak memanjang.

“Cal…” Rudi akhirnya membuka mulut.

Ical mengalihkan pandangannya dari hamparan bintang dan menatap Rudi dengan lembut.

Rudi membalas pandangan Ical lalu tersenyum, ”Jangan menatapku seperti itu , aku risih dengan pandangan itu.”

Ical terkejut dan tertawa, “Kau aneh.”

“Aku lebih terbiasa dengan tatapanmu yang tajam. Aku lebih mengerti maksudnya.”

“Harusnya kamu mengerti semuanya. Sudahlah sebaiknya kita masuk sebelum masuk angin.” Ical menggandeng tangan Rudi.

Nika tampak pucat wajahnya padahal beberapa jam yang lalu ia baik-baik saja. Fad yang semakin bingung akhirnya memanggil Han dikamarnya.

“Ada apa sih? Lo gak tau kalo gw lagi tidur?” Han menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal.

“Han…Nika sakit, mukanya pucet banget, mana gw gak bawa obat lagi.” Fad memohon bantuan pada Han.

“Minta obat sama Ical atau Andin aja, apa susahnya sih.”Han menutup pintunya.

“Han tunggu dulu…” Fad mendorong pintu yang baru setengah tertutup. “Kak Andin ma Icalnya gak ada.”

“Uh ngerepotin aja lo, tunggu dikamar tar gw ganti baju dulu.” Han membiarkan pintunya terbuka.

Fad segera kembali ke kamarnya dan duduk disamping Nika yang sedang mencoba untuk tidur. Han membangunkan Koko yang sedang menutup dirinya dengan selimut.

“Sabar yah Nik, bentar lagi Han nyari obat kok buat lo.” Fad mengompres Nika dengan handuk kecil.

Hampir saja Ical dan Rudi bertabrakan dengan Han dan Koko.

“Kemana aja sih lo ? Nika sakit tuh.” Omel Han kepada Ical dan Rudi.

“Sakit apa ?” Ical tampak kaget karena sehabis makan malam tadi keadaan Nika baik-baik saja.

“Mana gw tau, samperin sana. Suruh minum obat kalo perlu panggil dokter ahli, biar gak ada yang ganggu tidur gw.” Han marah-marah gak jelas lalu segera berbalik dan masuk ke kamar Fad.

“Kamu bawa obatkan?” Ditanya Rudi, Ical hanya mengangguk. Biar aku yang liat Nika, Ko tolong cari Andin yah.”

“Iya.” Koko segera berjalan benyusuri koridor arah berlawanan.

“Nik…Nika… lo ngerasain apa ?” Tanya Rudi yang baru masuk.

“Gak tau kak, Nika ngerasa mual sama kembung trus kepalanya pusing banget.” Jawab Nika sekuat tenaga.

Ical masuk membawa sekotak obat ala kadarnya. “Kamu pusing yah ? Nih minum obat sakit kepala dulu mudah-mudahan ngebantu.” Ical mengambilkan air lalu meminumkan Nika sebuti kapsul obat. Lalu menidurkan Nika kembali sambil memeriksa suhu tubuhnya. Fad duduk cemas disamping Nika sedangkan Han mencoba menutup kembali matanya sambil berbaring di sofa.

Andin, Bayu dan Koko masuk.

“Sakit apa?”Bisik Andin ke Ical

“Mual ma pusing, tapi mukanya pucet banget.” Ical mencoba menyalurkan tenaga dalamnya agar Nika merasa lebih baik.

“Gw keluar dulu yah, tar balik lagi, jagain dia baik-baiak.” Pesan Andin. Andin dan Bayu kembali keluar dari kamar Nika.

Tak lama keduanya kembali didampingi Jack dan seorang lagi yang tak dikenal oleh mereka.

“Ini dokter Bram, biarkan dia yang memeriksa Nika.” Bisik Jack kepada Ical dan Rudi.

Dokter bram memeriksa denyut nadi Nika dan detak jantung, juga frekuensi tarikan napas Nika lalu berkomentar, ”Tadi dia sudah minum obat?”

“Minum aspirin.” Jawab Rudi singkat.

Dokter itu mengangguk lalu membuka tasnya, “Berikan dia obat ini, sekali minum satu butir, kalau besok masih berlanjut teruskan minum obatnya. Dia hanya mabok laut dan masuk angin saja.” Dokter yang sudah berumur itu tersenyum pada Fad yang serius mendengarkan.

“Uh…untunglah hanya mabok laut dok, saya kira di keracunan makanan atau apa gitu.” Ucap Andin lega.

Jack melirik Andin karena merasa kurang senang, “Enak aja bilang keracunan makanan, emangnya makanan di kapal ini kadaluarsa gitu.”Omel jack dalam hati.

* * *

Pagi di hari ke-2

“Pagi Nona Andin? Bagaimana keadaan anda?” tanya Jack ketika Andin membuka pintu kamarnya hendak keluar.

“Jack jangan ngagetin gitu dong.” Andin berjalan ke kamar Nika, “Fad…”Panggil Andin dan tak lama pintu terbuka, “Gimana Nika?”

“Masih tidur tapi kayanya panasnya udah turun.” Ucap Fad sambil merapihkan bajunya.

Andin menaruh tangannya di kening Nika dan memastikan apa yang dikatakan Fad itu benar. “Jack ngapain masih disini?”

“Aku cuma ingin tau keadaan Nika saja, boleh kan?”

“Oke, dia baik-baik saja, sekarang bisa kamu keluar.” Andin berbicara tanpa melihat wajah Jack. Andin memeriksa bagian perut Nika dengan tenaga dalamnya dengan perlahan ia menyalurkan tenaga dalamnya kedalam tubuh Nika guna mengurangi sakit yang diderita Nika.

“Sedang apa sih?” Tanya Jack mau tau.

“Belum keluar juga?” Andin berbicara agak kasar dengan Jack.

“Oke aku keluar tapi nanti beri tahu aku apa yang kau lakukan tadi.” Jack melenggang ke luar kamar.

Fad yang melihatnya terkekeh, “Jack lucu yah kak.”

“Menyebalkan…” Gumam Andin.

Ical masuk, “Gimana Nika?”

“Udah mendingan.” Jawab Andin.

“Oh…syukur deh…”

Nika terbangun, “Kak Andin…Kak Ical, kok pada disini?”

“Kita khawatir sama kamu tau. Kalo masih ngantuk tidur aja lagi.” Saran Ical.

Nika tersenyum, “Nika mau bangun aja, mungkin jalan-jalan bisa membuat Nika tambah baik.”

Andin pun tersenyum mendengar omongan Nika.

“Kamu mandi dulu, nanti kita sama-sama ke ruang makan.” Ical keluar bersama Andin.

Diruang makan.

“Silahkan…” Seorang pelayan mempersilahkan mereka duduk.

“Terima kasih.” Ucap Ical sopan.

“Kalian mau sarapan apa?” Lanjut pelayan itu sambil menyerahkan buku menu.

“Em aku mau nasi goreng sama susu aja.” Ucap Fad semangat.

“Kopi sama sandwich.” Ucap Koko.

“Teh sama pancake.” Ucap Andin.

“Pancakenya mau tambah rasa apa? Coklat, Vanila, strawberi, apel atau madu?” Tanya pelayan itu lagi.

“Stawberi dan madu bisa?” Tanya Andin.

Pelayan itu mengangguk dan tersenyum.

“Saya mau panceke vanila dan madu sama minumnya segelas susu plus madu.” Ical menutup buku menu.

“Em…Cal enaknya apa?” Tanya Rudi bingung.

“Mau pesan kaya aku?” Tanya Ical yang kemudian membuka buku menunya lagi.

Rudi menggeleng, “Aku biasa makan nasi atau roti selai.”

“Ada roti selai?” Tanya Ical pada pelayan itu.

“Nanti kami bawakan roti dan 7 macam selai.” Pelayan itu tersenyum lagi lalu memanggil seorang pelayan, setelah dibisikkan sesuatu pelayan yang baru datang pergi lagi. “Yang lain?” Tanya pelayan itu sambil menatap Han, Nika, Jihad dan Bayu secara bergantian.

Nika dan Jihad menatap Andin bingung.

“Teh saja.” Ucap Bayu.

“Susu coklat.”

“Ada lagi?” Tanya Andin menatap Bayu dan Han. Keduanya menggeleng.

“Bawakan saja 2 gelas teh lagi.” Ucap Andin.

“Baik akan segera kami antarkan pesanan kalian, mohon ditunggu.” Pelayan itu memberikan senyumannya lalu pergi menjauh.

Pelayan yang tadi dateng kini kembali lagi sambil membawa sekotak roti dan 7 buah kaleng selai dengan aneka rasa, “Silahkan dinikmati.” Ucap pelayan itu sopan sembari memberi senyuman.

Rudi dan Han langsung mengambil roti itu dan mulai memilih selai yang akan mereka nikmati bersama roti.

“Nika kamu jangan sampai gak makan loh, nanti malah masuk angin.” Ical mengingatkan Nika.

“Iya kak.” Nika turut mengambil 2 lembar roti dan meruhnya di piring dihadapannya lalu mengambil selai rasa kacang dan apel.

“Sini aku bantu.” Ical mengambil pisau selai dari tangan Rudi begitu juga dengan lembaran rotinya.

“Dari tadi dong, kan jadinya tanganku gak belepotan gini.” Ucap Rudi sambil tersenyum menggoda Ical. Ical memberikan roti yang telah rata di oles selai kepada Rudi. “Ini yang namanya roti cinta rasa strawberi,hehehe…”

Ical hanya tersenyum saja mendengar ocehan Rudi.

Pelayan datang lagi membawa semua pesanan mereka, tanpa menunggu lama mereka langsung makan sambil bercengkrama ala orang Indonesia, mereka tak malu, walaupun banyak pengunjung asing yang memperhatikan mereka.

Siang itu mereka jalan-jalan mengelilingi kapal bersama Jack. Oleh Jack, mereka dikenalkan dengan beberapa orang penting yang turut dalam pelayaran perdana itu.

***

Ical langsung tidur setelah berjalan-jalan mengitari semua ruangan dikapal mewah milik ayah Andin sedang Andin menyempatkan mandi.

Han, Koko, Bayu, Rudi dan Jihad berkumpul dikamar Koko, mereka asik bermain PS dengan game-game yang hanya keluar diluar negeri dan mungkin baru beberapa bulan lagi akan ada di Indonesia.

Han dan Koko yang memang mania PS begitu senang dan tertawa-tawa saat tangannya terus memencet tombol-tombol di stik PS.

“Rud…kok lo bisa suka sama Ical sih?” Tanya Bayu tiba-tiba.

“Kenapa yah? Bingung. Kalo lo sendiri kenapa bisa suka sama Andin?” Rudi balik bertanya.

“Simple aja sih, karena dia salah satu cewe yang bisa ngalahin gw dalam banyak hal.”

“Maksudnya?” Jihad tertarik dengan pembicaraan mereka.

“Lo inget gak siapa saingan terberat gw dalam perebutan ketua OSIS dulu?” Rudi dan Jihad mengangguk, “Nah semenjak itu kita malah jadi sering ketemu dan diskusi bareng, tapi yang anehnya Andin gak mau sama sekali ngenalin gw sama Ical sampai akhirnya ketemu pas lagi mereka kenaikan tingkat.”

“Kenaikan tingkat kapan?” Tanya Jihad sambil berusaha mengingat-ingat kapan Bayu pernah hadir dalam kenaikan tingkat.

“Em…kalo gak salah akhir semester satu kelas satu dulu deh.” Jawab bayu agak ragu.

“Oh…pas itu sih gw belum deket sama Ical.” Komentar Rudi.

“Oh…jadi lo yang ketangkep gara-gara nyelinap ke sekolah waktu itu?” Tebak Jihad.

Bayu mengangguk sambil tertawa, “Gara-gara Ical gw sama Fahmi jadi ketangkep deh waktu cari hantu,hahaha…”

“Bay gw boleh tanya gak?” Tanya Rudi serius.

“Soal apa?”

“Lo kan deket banget sama Fahmi sama Andin, lo tau gak Ical sama Fahmi ada hubungan apa?” Tanya Rudi dengan hati-hati.

Bayu menggeleng, “Fahmi gak pernah mau cerita soal itu, sampai akhirnya dia pergi ke Australia. Sedang Andin selalu menjawab gak tahu kalau ditanya tentang hal itu. Tadinya gw yang mau tanya sama lo, eh malah lo duluan yang tanya.” Jawab Bayu.

Rudi hanya tersenyum mendengar jawaban Bayu, dia tak puas dengan jawaban Bayu padahal Rudi pikir hanya Bayu yang dapat memberi penjelasan tentang hal itu.

“Nanti lo tanya aja sendiri sama Fahmi kalo kita udah sampai.” Usul Jihad ke Rudi.

Tiba-tiba Nika dan Fad masuk ke ruangan dimana cowok-cowok sedang berkumpul.

“Aku punya tiket nih nonton film dokumenter atau film bioskop lainnya, pada mau gak?” Tanya Fad sambil menunjukkan beberapa lembar tiket.

“Mau…”Serbu Jihad yang rada bosen diruangan terus.

“Nih…nanti tinggal tunjukin aja ke petugasnya, ini bisa dipakai berkali-kali loh.” Jelas Nika ketika memberikan tiket yang ada padanya.

“Sekarang aja yuk nontonnya.” Ajak Jihad pada yang lain.

Semuanya menggeleng.

“Sama kita aja.” Ajak Fad dan Nika.

“Oke.” Jihad merangkul Fad dan Nika keluar kamar.

“Woi ade gw jangan lo apa-apain loh…” teriak Han ke Jihad.

***

Siang itu dihari ketiga, “Lo kenapa Cal? Muka lo cemberut gitu.”

Ical hanya menggeleng.

“Berantem sama Rudi?”

Ical menggeleng lagi, “Gw mau jalan-jalan sendiri yah.” Ical keluar kamar.

“Ih Ical kenapa sih?” Keluh Andin.

Iseng-iseng Ical kerestoran yang tersedia, menikmati semangkuk es krim di hari yang cerah itu.

“Ical…”Sapa Jack tiba-tiba, “Sedang apa? Yang lain mana?”

Ical hanya tersenyum.

“Lagi bosen yah? Baru juga 2 hari masa udah bosen?”

Ical tersenyum sebentar, “Kok gak pake seragam?” tanya Ical bingung melihat penampilan Jack yang lebih santai, ia hnya menggunakan celana sport pendek dan kaos tanpa lengan.

“Lagi libur.” Jawab jack santai.

“Libur?”

“Iya, setiap pegawai dapat beberapa hari libur selama pelayaran dan bisa pakai fasilitas yang ada. Mau ke gym nih, mau ikut?” tawar Jack.

“Boleh.” Ical bersemangat kembali.

Jack dengan semangat memakai fasilitas olahraga yang tersedia, penampilan Jack dengan badan tegap dan tinggi serta cara bicaranya yang sopan membuat beberapa wanita yang sedang berolahraga mendekatinya. Ical hanya tertawa melihat Jack meladeni kemauan para wanita itu. Akhirnya Ical pergi keruangan senam, disana tak terlalu banyak alat olahraga dan saat itu Ical sedang sendirian.

Ical membuka sepatunya dan melakukan peregangan sedikit, mulailah ia melakukan kebiasaannya yaitu latihan silat. Ical mulai dengan mencoba beberapa jenis tendangan dan melanjutkan dengan latihan yang lebih beragam. Ia sungguh menikati latihan itu dan melupakan rasa bosan yang tadi dialaminya.

“Buk…” Ical terdorong dengan keras.

“Latihan kok gak ngajak-ngajak sih?” Protes Andin, “Sebagai gantinya ayo kita tarung?”

“Oke…” Ical mulai memasang sikap pasang dan melayani setiap serangan Andin. Mereka berdua bertarung sambil tertawa dan mereka tak sadar bahwa disekeliling mereka sudah berkumpul orang-orang yang takjub melihat cara mereka bertarung.

Ical dan Andin baru sadar mereka menjadi pusat perhatian ketika suara tepuk tangan bergema diruangan itu. Seketika muka Andin dan Ical memerah dan mereka berdua tampak malu.

“Hebat…” Puji Jack.

“Sejak kapan mereka disini?”

“Lumayan lama.” Jawab Jack tekekeh melihat muka Andin dan Ical yang memerah.

“Bagus…bagus…” Puji beberapa orang yang hadir di ruangan itu.

“Gimana kalau kalian mengajarkan mereka sedikit teknik bertarung kalian?” Jack memeragakan gerakan meninju.

“Terima kasih tawarannya.” Jawab Ical lalu memakai sepatunya.

“Ayolah sedikit aja.” Rayu Jack.

“Aku bersedia.” Jawab Andin tiba-tiba.

“Bagus…” Jack langsung mengajak orang-orang yang berada disana, mereka langsung berbaris menunggu aba-aba Andin.

Ical yang sedikit kelelahan duduk dipinggir sambil melihat Andin memberi pengarahan dan latihan silat.

Sementara itu di ruang kamar, “Cuy…”Sapa Nika yang hanya melongokkan kepalanya dipintu, “Kak Ical dan kak Andin mana?”

Han dan Koko yang sedang main PS menggelengkan kepala, “Gak tau.”

Nika menutup pintu lalu menuju kamar Rudi, tapi disana juga gak ada orang akhirnya Nika kembali kekamar.

“Ketemu gak?” Tanya Fad begitu Nika masuk kamar.

“Gak…Kak Rudi, Jihad sama Bayu juga gak ada, cuma Koko sama Han yang lagi main PS.”

“Ya udah kita jalan-jalan sendiri aja.”

Nika dan Fad mendapati Jihad sedang asik nonton film di bioskop sambil ngobrol sama seorang gadis yang wajahnya rada belesteran eropa.

“Em…gak taunya disini dia? Yang lain mana?” Tanya Fad ke Jihad, Jihad sedikit terkejut dengan kedatangan keduanya.

Jihad mengangkat bahu, “Oh iya kenalin ini Davian, dari inggris.”

Fad dan Nika mengulurkan tangan dan Davian menyambutnya dangan ramah.

“Dia ini udah lumayan lama loh di Indonesia.” Ucap Jihad.

“Oh…salam kenal, kita gak ganggu deh.”Nika menarik Fad untuk duduk dibarisan depan.

***

Australia.

Kebetulan Fahmi bertemu dengan seorang mahasiswa asal Indonesia dan mereka berteman cukup baik, bahkan akhirnya mereka memutuskan menyewa apartemen di gedung yang sama.

“Kenapa lo bingung?” Sapa Ron.

“Kangen nih sama temen-temen gw.”

“Telponlah.”

Fahmi hanya diam.

“Lo beruntung punya temen yang bisa dikangenin, gak kaya gw, gara-gara banyak belajar gak sempet punya teman deh.” Keluh Ron.

“Kan sekarang ada gw, nanti gw kenalin deh sama temen-temen gw kalo mereka udah sampai sini.” Hibur Fahmi, “Sekarang mereka lagi berlayar ke sini.”

“Wah asik gw bakal punya teman lagi.” Seru Ron, “Eh Mi ngomong-ngomong siapa sih cewe yang pake baju biru di foto itu?” Tunjuk Ron ke foto yang tergantung di dinding.

“Ical, adik sepupu gw, kenapa lo suka dia? Dia udah punya pacar loh.”

“Tapi belom nikah kan, jadi gw masih bisa kenalan sama dia.”

“Jangan nekat cowonya itu badannya lebih gagah dari lo, apalagi dia juga pesilat, macam-macam sama Ical, habis deh lo.”

“Apa semua teman lo pesilat?”

“Gak juga,” Fahmi menyalakan rokok lalu menghisapnya pelan, “Kebetulan gw sama mereka satu sekolah jadi deket deh, tapi gak semuanya pesilat.”

“Wah kayanya asik yah jadi pesilat, bisa punya banyak teman.”

“Sebenernya bukan karena jadi pesilatnya tapi karena nilai yang ada di silat itu sendiri yang mengharuskan kita bergaul sama siapa aja, dari asal katanya aja silaturahmi.” Jelas Fahmi.

“Oh gitu toh, emangnya nilai apa aja?” Tanya Ron mulai tertarik.

“Yah nilai moral yang selama ini berlaku di masyarakatlah, kalo lo pernah belajar soal pancasila atau tentang adat masyarakat pasti lo tau nilai apa aja yang berlaku dimasyarakat.”

“Seperti saling menghormati, saling toleransi dan rendah hati, gitu?”

“Yap betul. Jadi kalo pesilat itu bukan cuma gerakan-gerakannya aja yang diresapi tapi makna dan nilai yang terkandung dibalik gerakan silat itu sendiri.”

“Emangnya ada artinya setiap gerakan silat?”

“Ada, contohnya cara salam silat, biarpun di setiap perguruan itu berbeda-beda tapi maknanya gak jauh beda, biasanya mengagungkan Allah dan menghormati sesama.”

Ron mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.

 

**********************************************************************************************

part 2

Liburan kali ini akan terasa lama karena mereka semua sibuk mengurusi kuliah mereka. Bahkan Han dan Jihad sudah jarang mengikuti latihan rutin. Yah hari-hari mereka jadi begitu sepi. Tapi tidak dengan Andin yang setiap malam mendapat telpon rutin dari Bayu. Mungkin karma, karena dulu Andin yang selalu ngejodohin Bayu dengan cewe-cewe eh sekarang malah mereka jadi sepasang kekasih.

“Ical, ada Rudi tuh…” Mas Winta tau-tau udah ada dibelakang Ical yang lagi asik baca buku.

“Siapa?” “Rudi…” “Oh…”Ical kembali membaca bukunya.

“Lah malah baca lagi.” Winta geleng-geleng kepala.”Ayo temuin dulu.”

“Iya mas Winta.” Ical menutup bukunya dan langsung berjalan ke tempat Rudi berada.

“Hei…”Sapa Rudi. Ical memperhatikan wajah Rudi. “Ada apa? Kok ngeliatin gw kaya gitu?”

Ical tersenyum, “Gak ada apa-apa, tumben, eh ke taman aja yuk, tapi tunggu dulu deh gw buat minum dulu.” Setelah Ical mengambilkan minum, mereka berdua ngobrol di taman belakang. “Ada apa sih? Kok tumben kesini sendirian?” Tanya Ical.

“Em…iseng aja, liburan bosen kalo dirumah terus.” Jawab Rudi asal.

“Em…gitu?” Ucap Ical sambil sedikit cengengesan.

“Sebenernya…gimana yah ngomongnya. Bingung nih?” Rudi terlihat malu-malu sambil garuk-garuk kepala.

“Gak usah malu-malu gitu sih…” Ical menggoda Rudi.

“Oh iya lo mau kuliah dimana?” Tanya Rudi basa-basi.

“Em…ada deh…ayo dong bilang ada apa?” Ical memaksa Rudi untuk bicara. Sekali lagi Rudi terlihat malu-malu, “Cal gw suka sama lo.” Ucap Rudi tanpa basa-basi.

Ical terkejut dengan perkataan Rudi, “Gak salah?”

“Gw udah lama suka sama lo tapi kayanya lo udah punya gebetan sendiri.”

“Gebetan? Siapa?” Ical malah bingung dan bertanya pada Rudi.

* * *

Di rumah Fahmi yang cukup mewah dengan halaman yang luas dari samping sampai belakang rumah. “Fahmi….makan dulu.” Teriak Ibunya.

“Fahmi nanti aja makannya.” Fahmi masih asik bongkar-bongkar kardus digudang. Dia asik ngeliat album-album foto dan buku-buku bekas. ”Buku apaan niih? Baca ah.” Fahmi mulai membuka halaman pertama.

Kehidupanku adalah keputusan sulit, aku mengambil jalan berbeda dari orang lain, apakah itu salah?? Pengorbanan yang tak terbayar oleh apapun, demi kebahagian seseorang aku harus pergi meninggalkan gemerlap pujian dan status, demi Dewo. Inilah kisah singkatku, semoga selalu berada dihatiku dan punya akhir yang bahagia.

Fahmi cukup terhenyak dengan tulisan itu, ia membuka halaman selanjutnya.

Maret 1983.

Entah salah atau benar keputusan ku ini, pergi dari semuanya. Bapak, Ibu dan Dewo, aku meninggalkan mereka, entah apa yang terjadi padaku, kuharap mereka juga tau apa yang ada dihatiku. Aku tak sempat berpikir lagi setelah peristiwa itu, aku tak mau Dewo selalu berada di bawahku. Aku juga ingin ia merasakan pujian dari orang lain dan tak selalu disbanding-bandingkan dengan orang lain. Ah begitu menyesakkan melihat tatapan Dewo saat itu, kenapa mereka tega melakukan itu padanya. Aku memutuskan pergi ke Kalimantan.

Aku bekerja diperkebunan. Melelahkan memang tapi inilah jalan yang kupilih, semoga saja Dewo bisa merasa lebih bahagia disana. Kang Harjo yang membantu kehidupanku, ia sangat baik begitu juga dengan istrinya. Bahkan berkat mereka aku mengerti banyak tentang tanaman.

Melihat anak mereka yang begitu bahagia aku teringat masa kecilku dengan Dewo saat bermain disawah hingga tubuh kami penuh lumpur, aku masih ingat ketika di sungai Dewo mengancamku akan menenggelamkan dirinya jika tak diajarkan silat. Aku rindu padanya. Entah sudah berapa bulan aku disini, aku begitu merindukan tanah kelahiranku, aku ingin pulang.

Aku mulai mengumpulkan uang untuk kembali ke pulau jawa, aku ingin tinggal di Jakarta mencari jalanku sendiri. Aku tak kuat untuk kembali ke rumah dan mungkin aku akan mencuri kembali kebahagian yang dirasakan Dewo.

Desember 1983.

Aku pergi ke Jakarta, hanya dengan uang tabunganku yang tak seberapa, Aku belum punya tempat tinggal dan terpaksa harus luntang lantung dulu tapi aku memilih tidur di sebuah musolah. Ternyata penjaganya memperhatikanku tiap malam, untung ia punya pikiran baik tentangku, aku dizinkannya tinggal bersamanya di kamar belakang musolah. Darinya aku lebih mengerti agama, wawasan hidupku rasanya semakin luas. Aku berdoa agar Dewo dapat dijadikan panutan disana.

Penjaga yang kupanggil kakek itu tak taunya juga punya ilmu kebatinan yang cukup kuat, semula aku tak megharap ia mengajarkan itu padaku tapi malah dia sendiri yang menawarkannya kepadaku. Setiap aku belajar silat aku selalu ingat Bapak dan Dewo, kadang aku menangis dalam kemarahan hatiku sendiri.

Aku menjadi sorotan ketika aku berhasil menggagalkan pencurian dirumah warga saat itu aku entah kenapa ingin jalan pada malam hari, melepaskan kerinduanku kepada keluargaku, biar angin malam membawanya pegi jauh dariku.  Sedang sial pencuri itu bertemu denganku. Akhirnya aku sering diminta warga untuk membantu, membetulkan genting atau membersihkan pekarangan yah memang bayarannya tak seberapa tapi aku berhasil membayar kontrakan tak jauh dari masjid, aku mengajak kakek tinggal bersama tapi ia menolaknya.

Agustus 1984.

Keluarganya Kakek datang dari kampung. Aku bersedia membiarkan istri dan anak perempuannya tinggal di kontrakanku sedangkan aku tinggal lagi bersama kakek.

Pak Rt menawariku menjadi satpam gajinya lumayan untuk uang sehari-hari. Tiap malam aku dengan bangga menyusuri setiap jalan menjaga keamanan, entah Dewa akan berkata apa kalau tau aku menjadi satpam padahal disana aku tak perlu kerja sedikitpun aku sudah berkecukupan. Kadang dalam ronda malamku, dalam kesendirianku aku tertawa menertawakan diriku sendiri.

Setelah 2 minggu keluarga kakek tinggal dikontakanku, kakek mengutarakan niatnya menjodohkanku dengan anaknya. Aku menolaknya dengan halus karena aku tak ingin anak kakek malah sengsara hidup denganku.

May 1985.

Aku dapat pekerjaan baru yaitu menjadi pegawai di toko bunga. Setelah setahun pendekatan dengan Maryam yang pada awalnya dipaksa oleh kakek akhirnya aku menikah dengannya secara sederhana. Pernikahan itu dilangsungkan di kampungnya kakek. Aku jadi teringat Dewa seharusnya ia disana waktu itu menjadi saksi pernikahanku. Dan seharusnya Bapak dan Ibu duduk disampingku dan memberi restu pada menantunya.

Aku kembali ke Jakarta bersama istriku sedangkan kakek memilih tinggal dikampung bersama istrinya. Semoga gusti Allah melindungi aku dan istriku dari kelaparan dan kehilangan iman.

Fahmi menutup buku itu, ”Kayanya punya ayah, bacanya terusin nanti aja ah.” Fahmi kembali kekamarnya, membersihkan diri lalu makan.

“Fahmi makan dulu.” Tawar ibunya ketika melihat Fahmi melewati ruang makan.

“Iya, Fahmi mau bersihin diri dulu.” Fahmi langsung menuju kamarnya.

“Tumben ditawari makan nolak.” Goda Anya adiknya Fahmi katika Fahmi turut duduk menikmati makanan. Fahmi hanya meliriknya lalu mulai menyuap nasi kemulutnya.

“Bu tau gak dia sekarang udah punya pacar loh.” Ucap Anya lagi. “Pacar? Kamu bener udah punya pacar,Mi?” Ibunya menunggu jawaban dari Fahmi.

“Jangan-jangan bukan Fahmi lagi yang punya pacar tapi Anya, dari mana dia tau kalau Fahmi punya pacar sedangkan dia sendiri baru pulang dari asrama.” Fahmi meneruskan makannya.

“Benar kata Fahmi jangan-jangan kamu lagi yang punya pacar.” Goda Ibunya.

“Ih Ibu jangan dengerin omongannya Kak Fahmi dong. Emang sih Anya lagi ngefans sama senior Anya di asrama, dia itu ganteng banget, manis, pokonya baek banget deh, gak kaya dia.” Anya melewe ke Fahmi.

“Wah gawat nih bu, bisa-bisa yang nikah dia dulu lagi.” Fahmi tertawa dan menyudahi makannya lalu kembali kekamar.

Ia mulai membaca buku yang tadi lagi.

Agustus 1985.

Sepertinya pernikahanku membawa berkah, aku sekarang diberi tanggung jawab mengurus toko baru. Sesekali aku melihat anak-anak muda melintas didepan toko. Tertawa-tawa, bercanda. Aku jadi ingat dengan Dewa. Entah bagaimana ia sekarang. Aku harap jika nanti aku punya anak laki-laki akan bisa menjadi seperti dia, anak yang penuh tawa dan imajinasi. Yah semoga saja aku cepat mendapat seorang anak.

Hari-hariku hanya diisi dengan melayani pelanggan yang membeli bunga-bungaku, bosku cukup puas dengan hasil kerjaku. Terimakasih Kang Harjo. Aku jadi ingin bertemu denganmu.

Desember 1986.

Aku mendapat kabar gembira, Maryam hamil, akhirnya. Semoga saja ia seorang laki-laki dan semoga ia membawa jalan kebaikan untuk kami.

“ Pasti gw yang dimaksud.” Fahmi tertawa sendiri, lalu tak sengaja ia menemukan sebuah foto didalam lembaran buku itu,” Siapa nih?? Ini pasti ayah, ganteng juga. Tapi yang ini siapa yah?? Kayanya gw pernah ngeliat deh.”

Dirumah Ical. “Cal…..Ical ada telepon.” Teriak mamanya.

“Dari siapa ma?”

“Dari Fahmi.”

“Fahmi?” Ical mengambil telpon dari genggaman tangannya, ”ada apa Mi?” “Cal Nama lo siapa?”

“Ya Ical. ada apa sih?”

“Nama lengkap lo?”

“Icalia Putri Madewa. Kenapa emangnya?”

“Besok jam 7 pagi temuin gw disekolah.”

“Ada apa?”

“Pokoknya besok gw tunggu jam 7 disekolah.” Fahmi memutuskan telponnya.

Kenapa sih Fahmi?? Gak biasanya dia kaya begitu. Hati Ical bertanya-tanya. Keesokannya.

Jam tujuh tepat Ical udah ada disekolah. Keadaan tidak terlalu ramai, hanya anak kelas 1 dan 2 yang baru datang dengan terburu-buru karena saat itu sedang ujian akhir semester. Dengan sabar Ical menunggu Fahmi. Ical memandang langit, langit pagi yang begitu ia kagumi selama 3 tahun sekolah disana, namun tampaknya matahari masih menutupi dirinya dengan selimut awan untuk menghindari dinginnya malam.

Suara klakson berbunyi tiga kali dari arah belakang Ical, Ical membalikkan badanya dan melihat Fahmi membuka helmnya. Ical menghampiri Fahmi. “Ada apa sih sebenarnya?” Ical memandang mata Fahmi tanpa rasa cemas.

Fahmi hanya diam lalu menyulut sebatang rokok. “Lo kenapa sih?” Ical menarik rokok dari mulut Fahmi lalu membuangnya keselokan.

“Kita jangan bicara disini.“ Fahmi memakai helmnya lagi dan memberi tanda kepada Ical untuk naik ke motornya lalu memberikan Ical helm yang lainnya.

Tanpa banya bicara Fahmi melajukan motornya dengan cepat. Entah apa yang dirasakan Fahmi, Ical tak tahu tentang itu, ia hanya mengira-ngira saja apa yang terjadi pada Fahmi. Fahmi menghentikan motornya lalu membuka helmnya. Ical pun turun dan memberikan helm yang tadi ia pakai kepada Fahmi.

“Masih tutup.” Gumamnya sambil menark napas panjang lalu menatap Fahmi lagi, entah mengapa ia selalu berani menatap Fahmi dengan begitu dalam berbeda dengan apa yang ia lakukan kepada para sahabatnya yang lain.

Fahmi turun dari motor lalu duduk di trotoar. Menundukan kepalanya, matanya memandangi jalan beraspal dibawah kakinya, ia hanya menghela napas beberapa kali dan mengembangkan sedikit senyumannya. Sambil berdiri Ical memandangi Fahmi, ingin rasanya ia memeluk dan menghapuskan apa yang menggangu hati Fahmi.

Ical duduk disamping Fahmi sambil terus menatap Fahmi. “Ada apa? Ada masalah dirumah?” Ical menunggu jawaban Fahmi.

Fahmi hanya menggelang.

“Kalian? Ngapain disini pagi-pagi?” Tanya Bang Anton juru masak direstoran itu.

Fahmi berdiri dan mendekati Bang Anton, ”Kita mau ngomong serius, boleh minjem tempat gak?”

“Boleh.” Bang Anton membuka pintu Restoran dan tersunyum pada Fahmi dan Ical. Bang Anton mempersilahkan Fahmi dan Ical masuk, Fahmi menggandeng tangan Ical, Ical hanya diam dan bertanya pada dirinya sendiri tentang apa yang dilakukan oleh Fahmi.

”Kalian mau minum?? Tanya Bang Anton sebelum meninggalkan mereka.

“Boleh, jus saja.” Ucap Fahmi lalu menarik Ical ke kursi yang agak pojok.

“Ada apa sih?” Ical melepaskan tangannya dari genggaman Fahmi dan menurut ajakan Fahmi duduk disampingnya.

Fahmi menahan perasannya, perasaan takut dan sedikit harapan, “Cal, maaf.”

“Untuk apa?” “Untuk setiap pertanyaanku nanti.” Ical memandang Fahmi dengan wajah bingung.

“Kamu punya Om?” Ical menggeleng dan memandang mata Fahmi lekat-lekat lalu menundukkan kepalanya, “Andai ia masih bersama keluarga papa, pasti aku akan merasakan kasih sayang seorang paman. Kata kakek, paman minggat, dan kakek gak tau kabarnya sampai kakek meniggal.” Fahmi menundukkan kepalanya dan menahan kepalanya mendengar apa yang dikatakan Ical.

“Nama ayah kamu siapa?” Fahmi memaksa Ical untuk memandang wajahnya.

“Madewa Satyo.” Ical memandang wajah Fahmi dengan perasaan bingung karena ia tak tahu arah pembicaraannya dengan Fahmi, “Ada apa sih? Tadi nanya Om trus nanyain Papa.” Ical mulai agak kesal.

Fahmi memberikan foto yang dia temukan kemarin di buku saku ayahnya, ”Kenal?” Fahmi tersyum dan memandangi keseriusan Ical dalam mengenali foto itu. Ical menggeleng, ”Ini foto siapa? Tua banget, kayanya ini…” Ical memperhatikan noda-noda yang ada difoto itu.

“Ada yang lo kenal?” Melemaskan rasa tegangnya dan mengeluarkan dompetnya.

“Inikan foto papa, lo dapet dari mana?” Fahmi malah tertawa ketika ditanya.

“ Lo kenapa sih ketawa sendiri? Ini lo dapet dari mana?” Ical mendesak Fahmi untuk menjawab dengan terus mengguncang tangan Fahmi.

Fahmi mengeluarkan sebuah foto lagi dari dompetnya. “Ini foto ayah sama Ibu gw.“

“Maksud lo?” Ical menyamakan kedua foto tersebut.

“Ayah gw, yah paman lo, kakak papa lo. Diandra.” Ical hanya memandang Fahmi dengan wajah bingung.

“Ayah memang pergi merantau sendiri dan akhirnya memutuskan menetap di sini, pokoknya ceritanya panjang deh, gw juga gak tau dengan jelas. Gw temuin foto itu di buku ini.” Fahmi mengeluarkan buku saku ayahnya dari kantong jaketnya. Fahmi terlihat begitu bahagia sampai matanya berair.

“Serius lo?” Ical begitu terkejut namun ia juga senang, langsung saja ia memeluk Fahmi.

“Ehm…Ada apa nih pagi-pagi gini dah ketawa-ketawa pake pelukan lagi.” Bang Anton datang membawakan Jus.

“Ih Bang Anton mau tau aja deh.” Ucap Ical sambil terus mengembangkan senyuman.

“Rahasia ya? Oke deh…Abang ke belakang dulu yah.” Bang Anton meninggalkan mereka sambil menggelangkan kepala.

“Ini serius? Berarti lo itu sepupu gw?” Tanya Ical masih dengan perasaan gak percaya.

Fahmi mengangguk dan merangkul Ical,“Sekarang gak ada lagi yang menghalangi gw untuk ngelindungin lo.” Bisik Fahmi.

Ical memandang Fahmi sambil menahan air mata bahagianya, “Jaga aku seperti kau menjaga adikmu.” Mereka berdua sungguh merasakan sebuah keajaiban yang dulu rasanya tak mungkin mereka rasakan. Kini mereka berdua bisa saling menjaga dan saling membimbing.

Namun mereka berdua sepakat untuk merahasiakan hal itu dari siapapun untuk sementara waktu sampai mereka menemukan waktu yang tepat. Hari itu mereka berdua menghabiskan waktu bersama, jalan-jalan, menceritakan kejadian-kejadian dimasa kecil mereka.

“Sayang lo gak akan bertemu kakek.” Ical menengadahkan kepalanya menahan air matanya turun.

“Aku sudah bertemu dengannya, andai aku tetap disisinya waktu itu.” Fahmi menghapus air mata Ical.

“Kapan??”

“Ini hanya rahasia aku dan kakek, ingat waktu kau menemani Andin yang sakit, waktu itu kita kelas 2? Aku ke rumahmu dan bertemu dengan kakekmu, mulanya aku hanya menunggumu, tapi kakek menanyai aku banyak hal, Ayah, ibu semua tentang keluargaku, hubungan aku sama kamu, bahkan ia tau semua tentang ilmuku. Andai aku menunggumu lebih lama kita tak akan menunggu lama untuk hal ini.” Fahmi tersenyum.

”Yang terpenting kita sudah tau semuanya.” Ical membalas senyuman Fahmi,

“Aku sudah menuruti saranmu.”

“Apa?”

“Aku dan Rudi.”

“Kalian…” Wajah Fahmi menunjukkan keterkejutannya namun juga tampak begitu bahagia.

“Belum sih, tunggu izin dari Kak Ji dulu.” Ical memeluk Fahmi.

* * *

Pukul 9 Fahmi baru kembali.

“Kamu dari mana?” Tanya Ayahnya dengan nada sedikit marah.

“Ada janji sama teman.” Jawab Fahmi santai.

“Sini dulu Ayah ingin bicara.” Ayahnya Fahmi menegak tehnya yang tinggal setengah cangkir.

“Tentang apa Yah??” Fahmi duduk disamping ayahnya.

“Besok kamu ikut ayah ke kedutaan.”

Fahmi bingung, “Ngapain?”

“Sudah Ayah putuskan kamu harus pergi ke Australia untuk kuliah.” Ucap Ayahnya santai. Fahmi terpaku menatap Ayahnya, diam dan tak bicara.

“Ayah sudah melakukan yang terbaik untuk kamu, kamu harus kuliah di Australia.”

Fahmi merasakan sesak didadanya tiba-tiba dan kepalanya dengan sendirinya menggeleng, “Fahmi gak mau kuliah disana. Fahmi mau kuliah disini.” Fahmi langsung pergi ke kamarnya.

Ia begitu kesal dengan dirinya, dengan ayahnya dengan semuanya, “Kenapa jadi begini?” Tanyanya berulang-ulang. Ia Menangis, sudah lama ia tak menyalurkan emosinya melalui tangisan. Ia bingung, tak tahu apa yang akan ia lakukan. Dari kecil ia selalu bertanya-tanya tentang ayahnya. Siapa orang tua ayahnya? Apakah yang terjadi sama mereka? Apakah ayah punya saudara? Selama bertahun-tahun ia selalu membayangkan punya seorang om atau tante atau seorang sepupu. Membayangkan pergi liburan bersama mereka atau melakukan hal-hal lainnya pada saat lebaran.

Tapi pada saat ia mengetahui bahwa ia benar-benar memiliki om, tante bahkan sepupu kini ia harus meninggalkan mereka tanpa ada kenangan sedikitpun tentang mereka. “Ya Allah apa yang harus aku lakukan??” Fahmi duduk didepan pintu kamarnya, hanya terdiam memandang foto ia dan ayahnya ketika pertama kali ia di kenalkan kepada silat. Ia baru saja berjanji pada Ical untuk selalu menemaninya tapi ia juga tak kuasa menentang Ayahnya.

***

“Halo…” Sapa Ical dari telepon pada hari berikutnya.

“Hai…” Jawab Fahmi seadanya.

“Kok pagi-pagi dah gak semangat gitu sih?”

“Gak apa-apa kok. Hari ini rencana lo mau ngapain?”

“Ikut gw yuk.”

“Kemana?”

“Gw tunggu dirumah, 1 jam lagi bisa sampai sini?”

“Bisa.”

“Oke gw tunggu yah.”

“Duh kok pagi-pagi dah senyum-senyum sendiri, dah telpon-telponan lagi, sama siapa tuh?” Goda mas Winta.

“Ih mas Winta, pagi-pagi dah godain aku. Lebih baik temenin aku pergi mau gak?”

“Boleh, kemana?”

“Nanti aku kasih tau, sekarang mandi dulu, bau nih…” Ical menutup hidungnya dan menjauhi Winta.

“Masak sih aku bau?” Winta mencium kaos yang dikenakannya, hidungnya mencium bau yang tidak sedap, “pantes aja aku bau, akukan habis kasih pupuk kandang ke tanaman, hehehe…” Winta terkekeh sendiri.

***

“Pagi Mas Winta.” Sapa Fahmi yang baru datang kepada Winta yang sedang mengelap mobil.

“Iya, janjian sama Ical.”

“Oh…sangka mas dia mau pergi sama Andin.”

Fahmi cuma tersenyum.

“Eh kamu tau gak Rudi itu orangnya gimana? Sikapnya?” Tanya Winta sambil terus mengelap mobil.

“Dia sih baik, sopan, tegas. Yah pokoknya gitulah. Emangnya ada apa mas?”

“Gak ada apa-apa kok.”

“Eh Fahmi udah disini.”Ical langsung menghampiri Fahmi dan menyalaminya. “Mau langsung pergi?” Tanya Ical.

“Boleh.”

“Oke…kamu masukin aja motornya ke garasi, kuncinya kasih pak Hasan aja.” Ucap Ical ke Fahmi, “Mas Winta kita pergi ke…”Ical membisikkan sesuatu ke Winta dan Winta mengangguk tanda mengerti. Ical, Fahmi dan Winta hanya terdiam selama perjalanan. Fahmi sebenarnya penasaran kemana mereka akan pergi tapi entah kenapa pertanyaan itu tak mau keluar dari tenggorokannya.

“Mas…” Ical menunggu Winta menjawab panggilannya.

“Ya…”Jawab Winta singkat.

“Janji jangan beritahu siapapun, jangan beritahu papa, Mama, paun bahkan orang tua mas Winta sendiri.”

“Tentang apa?”

“Nanti aku beritahu.”

“Cal kok kita kesini?” Tanya Fahmi tiba-tiba.

“Kakek harus bertemu sama kamu, kakek harus tau kalau kita sudah bertemu.” Jawab Ical setengah berbisik. Ical, Fahmi dan Winta turun dari mobil, jalan diantara tempat peristirahatan terakhir bagi jasad-jasad yang telah terpisah dari rohnya. Mereka berhenti disebuah makam, makam yang selama ini selalu di sering didatangi oleh Ical.

“Kek, ini aku sudah bertemu dengan cucumu yang lain, cucu yang tak pernah kau habiskan waktu bersamanya, kini dia datang mengucapkan salam untukmu.” Ucap Ical lirih sambil menahan air matanya.

Fahmi jongkok disamping makam, “Assalammualaika kakek, aku menemuimu sekarang, aku cucu yang hanya sekali kau temui, aku Fahmiandra, anak dari Diandra.” Fahmi berucap seperti menggumam.

“Kita kirim doa dulu buat almarhum kakek?” Ajak Mas Winta. Ical dan Fahmi mengangguk, mengiyakan ajakan Winta untuk mengirim doa.

Di mobil. “Oke, ada yang kalian bicarakan denganku?” tanya Winta penasaran.

Ical tersenyum, “Mas Winta, kenalkan ini sepupuku, Fahmiandra.” Ical memperkenalkan Fahmi dengan bangga dan penuh senyuman diwajahnya.

“SEPUPU?” Tanya Winta kaget. Ical mengangguk pasti.

Fahmi menghela napas untuk buka suara, “Ayahku dan papanya Ical bersaudara, hanya karena ada sesuatu hal mereka akhirnya berpisah dan belum ketemu lagi sampai saat ini.” Jelas Fahmi.

“Serius kalian sepupuan?” Winta masih belum percaya sepenuhnya.

“Dua rius mas…Kakek dulu pernah cerita tentang hal itu sama Ical tapi Ical belum ngerti waktu itu sampai kemarin Fahmi datang dan menunjukkan buktinya.” Ical memperhatikan wajah Winta, “Mas janji yah gak cerita sama siapa-siapa?”

“Janji yah mas.” Fahmi turut merajuk.

Winta tersenyum, “Oke, tapi kapan kalian kasih tau orang tua kalian?”

“Secepatnya.” Jawab Fahmi pasti.

“Oke.”

“Kita makan?” Tanya Ical semangat.

“MAKAN!!”

***

Ical yang siang itu tertidur tiba-tiba terbangun ketika pintunya diketuk dengan keras. “Siapa?” Tanya Ical setangah kaget.

“Andina malaya yang sweet dan cute.” Andin terkekeh, “Buka pintunya dong.”

Ical membukakan pintu yang terkunci, “Ada apa sih?”

“Lo tau kabar terkini gak?”

“Kabar apaan?” Ical membaringkan tubuhnya kembali.

“Fahmi mau kuliah di Australia.” Ucap Andin dengan jelas.

Ical kaget dengan berita yang disampaikan oleh Andin. Fahmi akan ke Australia, meninggalkannya yang baru beberapa hari tahu kalau mereka masih ada hubungan darah. Ical langsung kekamar mandi, mencuci mukanya dan mengganti pakaiannya.

“Lo kenapa sih Cal?” Ical tak menjawab apa-apa, setelah berganti pakaian ia mengambil dompet dan Hp-nya.

“Mas..Mas Winta…antar aku temui Fahmi.” Teriak Ical sambil berjalan keteras.

Mamanya Ical mengejar Ical yang terburu-buru begitu juga dengan Andin,

“Kamu kenapa sih Cal? Kok tumben teriak-teriak gitu? Gak sopan.”

“Duh Mama gak ada waktu untuk ngejelasinnya, mas Winta mana?” Sebelum mamanya menjawab Winta sudah muncul di teras.

“Ada apa Cal?”

“Anterin aku ke tempat Fahmi.”

“Aku ikut.” Ucap Andin. Winta langsung berjalan ke mobil dan menyalakan mesinnya.

“Ical sebenarnya ada apa?”

“Nanti aja ma aku jelasinnya.” Ical pergi setelah bersalaman dengan mamanya.

“Cal ada apa sih?” Tanya Andin turut bingung.

“Aduh udah deh kalo lo mau ikut gak usah banyak tanya.” Jawab Ical sedikit kesel. Winta langsung menjalankkan mobilnya begitu Ical dan Andin naik ke mobil.

“Halo…”

“Ada apa Cal?”

“Kamu dimana?”

“Lagi di toko buku temenin Bayu.”

“Di toko buku mana?”

“Tempat biasa.”

“Tunggu, aku kesana.” Ical menutup telponnya, “Mas kita ke mal yang biasa.” Pinta Ical. Ical tak bicara lagi setelah itu, ia menahan tangisnya, ia tak mau Winta tahu kegelisahan hatinya apalagi Andin.

Satu setengah jam kemudian. “Eh itu Ical sama Andin.” Tunujk Bayu kearah pintu masuk toko buku. Fahmi menelan ludahnya, hatinya gelisah dengan keadaan ini. Ia menebak bahwa Ical telah tahu tentang kuliahnya di Australia. Fahmi menatap mata Ical yang sedang berjalan kearahnya, mata itu begitu sulit diterangkan artinya, kemarahan, kesedihan bersatu.

“Hai sayang…”Sapa Andin kepada Bayu dengan sedikit mesra.

Berbeda dengan Andin dan Bayu. “Plak…”Ical menampar pipi kanan Fahmi dengan tangan kirinya. Ical masih menahan air matanya yang rasanya sudah hampir keluar dari matanya.

Andin terkejut dengan sambutan Ical ke Fahmi, Andin tak bisa berkata apapun karena ia tak pernah melihat Ical menampar seseorang seperti itu apalagi tanpa mendengarkan pembelaan dari orang itu.

“I…Ical…”Napas Fahmi sedikit memburu,entah kaget atau marah. Ical menjauhi Fahmi dengan menahan tangis sekuat tenaga. Fahmi menarik napas panjang lalu menghembuskannya dengan cepat, “Aku temui Ical dulu.” Fahmi menyusul Ical yang berjalan keluar toko.

“Bayu sebenernya ada apa sih antara Ical dan Fahmi? Apa ada hubungan khusus atau ada kesalahan yang dibuat sama Fahmi sampai Ical nampar dia? Seumur hidupku aku belum pernah melihat Ical menampar seseorang, apalagi orang yang dekat dengannya.” Andin terlihat gelisah.

Bayu tersenyum pada Andin, “Gak ada apa-apa kok, aku kira ini Cuma salah paham aja.” Bayu memeluk Andin sebentar, “Kamu kejar mereka tapi jangan ikut campur dulu urusan mereka, aku bayar buku dulu, nanti aku menyusul.” Andin langsung mengejar Fahmi dan Ical yang sudah diluar toko buku.

“Ical tunggu…”Fahmi menarik tangan Ical dengan sedikit kasar karena Ical tak mau berhenti juga dari larinya.

Ical menatap Fahmi dengan matanya yang merah dan linangan airmata dipipinya.

“Ada apa?” Tanya Fahmi pelan.

Ical menyempatkan menghapus air matanya dulu, “Kamu tanya ada apa? Justru aku yang harus bertanya sama kamu.”

“Aku gak ngerti yang kamu maksud.”

“Kamu mau ke Australia kan? Kamu mau ninggalin aku kan?” Ical menghapus airmatanya lagi, “Jawab Mi, jawab pertanyaanku.”

“Memangnya kamu mengharapkan jawaban apa dariku?” Fahmi tak berani menatap Ical. “Percuma kita tahu siapa kita kalau akhirnya seperti ini, setidaknya jika aku tak tahu, aku bisa membiarkanmu pergi kemana pun yang kau suka.” Ical berjalan meninggalkan Fahmi.

Fahmi mengajar Ical, “Aku gak mau ini semua ada didepanku, aku mau aku hilang dan gak ngalamin kejadian ini. Aku gak mau ninggalin kamu Cal.” Fahmi memeluk Ical dari belakang.

“Lepas.” Ronta Ical.

Bayu menghampiri Andin yang tak jauh dari Fahmi dan Ical begitu juga dengan Winta.

“Aku gak bisa menolak hal itu, ayah sudah menentukannya.” Bisik Fahmi.

“Biar aku yang bongkar semuanya dan kasih tau ke ayah kamu.”

“Jangan…belum saatnya.”

“Belum saatnya katamu? Apa kau mau kejadian antar orang tua kita terjadi lagi?” tanya Ical marah.

Winta mendekati mereka, “Tak baik kalian bertengkar disini, lihat sekeliling kalian, orang-orang sedang melihat pertengkaran kalian.” “Aku gak peduli dengan mereka.” Ical menjauh dari Fahmi.

“Ical…” Fahmi berusaha mengejar tapi Winta menghalangi.

“Biar Aku yang bicara pada Ical, tunggu kami disuatu tempat yang enak untuk bicara.” Saran Winta lalu mengejar Ical.

Ketika Winta sudah bertemu dengan Ical, “Hei…adik mas yang satu ini kok jadi cengeng gini sih?” Winta membuka ucapan. Winta menunggu Ical bicara tapi Ical tak bicara. “Adikku sayang, Ical anggap mas ini kakakmu kan? Ical bisa bicara apa yang Ical rasain ke mas sekarang.” Ucapan Winta membuat Ical menghentikan tangisnya dan memandang Winta. “Ada apa sebenarnya?” Tanya Winta lanjut.

“Fahmi.”

Hanya kata itu yang menjawab pertanyaan Winta. “Fahmi berbuat salah sama kamu?” Tanya Winta lagi, Ical hanya diam, karena ia bingung mesti menjawab apa. “Ada apa? Mas tanya sekali lagi.

“Fahmi mau kuliah di Australia.” Jawab Ical yang sudah sedikit tenang, “Mas taukan baru beberapa hari aku tahu kalau dia sepupuku, sepupu yang selama ini aku gak punya. Tapi sekarang dia udah mau pergi lagi dan itu artinya aku kehilangan dia.” Jelas Ical.

Winta tersenyum, “Adikku sayang, mas Winta ngerti apa yang Ical rasa sekarang ini, rasa ini juga sama seperti apa yang mas rasain, mas begitu sedih, marah atau entahlah namanya, karena mas melihat kamu nangis. Mas juga gak punya adik, sekarang mas punya kamu, mas gak mau kamu kaya gini, menyelesaikan masalah tanpa pikir panjang dulu. Kamu tahu apa yang Fahmi rasain? Mungkin aja dia sembunyiin hal itu karena dia gak mau nangis kaya gini.”

“Ical bingung harus gimana?” Winta tersenyum, “Kita bicara baik-baik sama Fahmi, kamu mau?”

Ical mengangguk.

***

Ketika sampai dirumah. “Ical kamu sebenarnya kenapa sih?” Tanya papa ketika Ical baru memasuki rumah, “Tadi papa dengar mangil Winta dengan teriak-teriak, gak sopan Ical.”

Ical melihat wajah papanya, “Maaf.”

“Bukan sama papa tapi sama Winta minta maafnya.”

“Gak usah om.” Ucap Winta yang berdiri dibelakang Ical. Ical berjalan begitu saja.

“Ical papa belum selesai bicara.” Ucap papanya dengan tegas.

“Pa, apa papa gak pernah kesepian gak punya saudara?” Pertanyaan Ical mengejutkan Madewa, papanya Ical.

“Kamu ngomong apa tadi?”

“Apa papa gak pernah merasa kesepian gak punya saudara?” Ucap Ical lagi lalu ia segera pergi menuju kekamarnya.

“Maaf om, Ical sedang punya sedikit masalah, tapi besok juga Ical sudah baik lagi kok, saya jamin.” Ucap Winta sebelum Madewa marah kepada Ical. Madewa menghembuskan napas, “Om minta tolong sama kamu, jaga Ical, karena dari kecil Ical suka kesepian.”

Winta mengangguk.

*********************************************************************************************

 

 

 

 part 1.Lulus SMA  

“Icalllll….., Andin dah nunggu tuh.” Panggil mamanya dari lantai bawah.

“Iya, ma…” Jawab Ical sambil merapihkan pakaiannya. Hari ini Ical tampak terburu-buru, setelah berpakaian ia langsung menyambar sepatunya dan memakainya sambil berlari keluar rumah.

Di depan rumah Ical, Andin, temannya sudah menunggu dari tadi, sembari asik menyisir rambutnya yang panjang sambil bercermin di kaca mobil, sudah berkali-kali ia merapihkan tatanan rambutnya.

“Lama amet sih Cal?” Andin berkacak pinggang.

“Yuk tar telat lagi.” Ical buru-buru masuk mobil sisi kiri.

Andin masuk ke mobil dan menatap Ical dengan aneh, “Lo gak salah?”

“Apaan sih? Ayo jalan.” Ical memakai sabuk pangaman.

“Sepatu lo gak sama?” Andin hampir tertawa.

“Emang, sepatu gw gak sama kaya sepatu lo.” Ical mulai terlihat kesal.

Andin menundukan kepala Ical secara paksa, “Tuh liat, sepatu lo beda!! BE – DA!!”

Ical mengangkat kepalanya lalu tertawa, ”Tunggu yah gw ganti sepatu dulu.” Ical keluar lagi dari mobil dan berlari kedalam rumah untuk mengganti sepatunya.

 

* * *

 

Di sebuah rumah dengan kebun mewah.

“Bayu!! Masuk aja. Fahmi masih tidur.” Sapa mbok Rum, pembantunya Fahmi.

Bayu tersenyum manis di depan mbok Rum, tapi perlahan senyumnya berubah menjadi senyum jail. Ia langsung masuk ke dalam kamar Fahmi sambil bersenandung. Tanpa mengetuk pintu ia segera saja masuk dan berdiri didepan kaca, berputar dan merapihkan kemejanya dan rambutnya, “Keren juga…” lalu ia mendekati Fahmi, berkacak pinggang dan memicingkan matanya, Bayu mengambil ancang-ancang “Bukk…”,

“Aouw…”

 Kaki Bayu sukses hantam pantat  Fahmi.

Fahmi langsung berdiri, marah, ”Sakit tau!!” Lalu ia mengelus-elus pantatnya.

“Udah jam setengah sembilan tuh.” Bayu kembali berkaca merapihkan rambutnya.

Fahmi berjalan ke kamar mandi sambil mengelus pantatnya, “Gila…” Umpatnya pada Bayu. Bayu tak pedulikan umpatan Fahmi, dia justu tertawa dan kemudian menuju ruang tengah, Bayu sudah sangat akrab dengan rumah itu termasuk dengan penghuninya. Bayu menyalakan televisi dan matanya langsung tertuju pada acara di salah satu stasiun Tv swasta.

“Mau minum mas Bayu?” Tanya mbok Rum sembari lewat di ruang tengah.

“Nanti saya ambil sendiri saja mbok.” Ucap Bayu sambil terus menatap televisi itu.

 

* * *

 

Disekolah.

“Woi Had…” Rudi melambaikan tangan lalu mengejar  langkah  Jihad.

Jihad menghentikan langkahnya dan melihat ke langit sebentar.

“Gak nyangka yah udah tiga tahun aja, kira-kira kita lulus gak yah?” Rudi menghela napas guna menghilangkan rasa cemas di hatinya sendiri.

Jihad menggeleng, “Mudah-mudahan aja kita lulus. Uh…jantung gw kaya mau keluar nih, dag dig dug terus.” Jihad menatap Rudi dengan serius lalu mengalihkan pandangannnya kepada beberapa orang yang lewat didepan mereka, bukannya Jihad tak mengenal mereka hanya saja entah mengapa ia begitu enggan menyapa.

Rudi merubah mimik wajahnya jadi ceria, Jihad tak tahu apa yang dipikirkannya.

 “Mana yang lain?” Tanya Jihad sambil celingukan.

“Kayanya belum dateng.” Jawab Rudi sambil ikutan tengok kanan kiri depan belakang.

“Kita ke kelas?” Jihad bertanya.

Rudi mengangguki ajakan Jihad.

Akhirnya mereka berjalan ke ruang kelas mereka, menyapa teman-teman sekelas yang sudah datang terlebih dulu.

Rudi duduk di kursinya lalu menghela napas, “Lulus?? Apa artinya kalo gw lulus tapi kehilangan mereka semua.” Ucapnya pada dirinya sendiri sambil melihat keadaan kelasnya, sudah kesekian kali pertanyaan itu datang dalam pikirannya.

 

Di parkiran sekolah yang saat itu rasanya begitu sesak karena padatnya motor dan mobil yang turut meramaikan tempat itu.

Han tiba-tiba saja merentangkan tangannya menghadang sebuah mobil berwarna merah. Itu adalah mobil Andin yang didapatnya pada awal kelas 2. Andin mengerem sampai bannya mengeluarkan dencitan. Andin kesal lalu melongokan kepalanya ke luar jendela, “Eh…Mau mati lo?!”

Ical turun dari mobil dan menarik Han, “Stres lo… mikirin kelulusan sampe mau bunuh diri segala. Untung aja gak ketabrak beneran.” Ical geleng-geleng sambil memperhatikan wajah sahabatnya itu. “Ada yang beda?”

“Rambut gw keren kan?” Han merapihkan rambutnya sambil menaik turunkan sebelah alis matanya.

Ical tertawa melihat tingkah Han, “Buang sial?”

“Yap.” Jawab Han pasti.

Han melihat Andin telah mendekati mereka, “Lama amet sih, Andin dicari pak Yusman tuh.” Ucap Han sambil pura-pura ngunyah permen karet, maksudnya biar keren gitu.

“Pak Yusman?” Ical menunjukan ekspresi bingung.

Andin yang semakin mendekati Han dan Ical, memasang tampang kesal, ”Lo kalo mau mati jangan pake mobil gw sebagai alat bunuh diri dong!” Andin menunjuk-nunjuk muka Han.

“Eh dicari pak Yusman tuh.” Sekali lagi Han berucap dan membuat Andin diam.

“Ngapain?” Mata andin langsung melotot.

“Mau ngasih kado perpisahan kali. Hehehe…”  Ledek Han.

“Ih apaan sih lo? Kalo ngomong jangan sembarangan. Dah mau lulus masih hobi buat gosip aja.” Andin bersiap menendang Han.

“Andin, bapak cariin dari tadi.” Pak Yusman tiba-tiba datang.

“Ada apa yah pak? Saya baru datang” Ucap Andin malu-malu.

“Bapak mau kasih kamu ini.” Pak Yusman menyerahkan sebuah amplop.

“Apa ini pak?” Andin melirik ke Ical dan Han lalu memperhatikan amplop itu dengan seksama.

“Surat.” Ucap Ical dan Han pelan.

“Nanti kamu baca aja, bapak pergi dulu yah. Bapak yakin kalian lulus, tenang aja.” Pak Yusman pergi setelah Ical, Andin dan Han salim kepadanya.

“Cie…cie…dapet surat nih, jangan-jangan surat cinta.” Goda Han dan Ical sambil berlari menjauhi Andin.

Suasana sekolah tampak ramai, anak-anak kelas tiga yang sedang menanti pengumuman kelulusan sedang menyiapkan diri untuk mengetahui hasil belajar mereka selama 3 tahun.

Sedatangnya Bayu ia langsung menuju ruang OSIS, menyapa beberapa anak kelas 3 dan kelas 2 yang menjadi panitia kelulusan dan panitia buku tahunan.

“Kok baru dateng sih kak Bayu?” Tanya seorang cewek dengan manja.

Bayu tak menjawab, ia malah membuang pandangannya ke arah lain.

“Eh ditanya kok malah buang muka.” Ucap cowok yang bertampang paling sangar.

Bayu melirik wajah cowok itu sebentar, “Kapan dipasang hasil kelulusannya?”

“Tinggal dipindahin doang kok kak Bayu, nanti Kak Bayu yang ngomong di radio skul yah.” Ucap cewek tadi masih dengan sikap manjanya.

Bayu kini tidak membuang mukanya kearah lain ketika gadis kelas 2 itu berbicara, “Sini.” Panggil Bayu pada cewek itu.

“Ada apa kak?” Cewek itu malah tambah bersikap manja.

“Kasih perhatian lo dan sikap manja lo itu sama cowok lain aja, gw udah punya pacar.” Ucap Bayu tegas lalu Bayu bangkit dan berjalan kearah lapangan.

Cewek itu menahan tangisnya, ia tak menyangka bahwa omongan yang tadi Bayu sampaikan begitu menyakiti hatinya padahal ia sudah biasa kena marah sama Bayu, tapi kali ini tampaknya Bayu bersungguh-sungguh dengan perkataannya.

“Lo juga sih yang salah, dia itu dah punya pacar dan lo tau siapa pacarnya itu? Namanya Andina Malaya, saingan terberat waktu Bayu jadi calon ketua OSIS, dan Andin itu salah satu pemegang pengurus inti di ekskul silat, kalo lo macem-macem dia bisa dengan mudah ngerahin anak buahnya untuk ngebantai lo. Gw juga denger dari anak kelas 3 kalo dia itu anaknya pengusaha kapal pesiar terbesar di Indonesia, lo gak da apa-apanya kalo dibandingin sama dia. Udah jangan nangis lagi.” Ucap cewek lain yang ternyata temannya cewek yang selalu berusaha merebut hati Bayu.

Cewek itu terus melihat Bayu yang berjalan ditengah lapangan, bahkan ia juga melihat seorang cewek menghampirinya dan mencium pipi kanan Bayu dengan mesra lalu menggandenganya.

“Apa dia Andin?” Tanyanya pada dirinya sendiri, “Pantas Bayu tak melirikku sama sekali.”

Setengah jam kemudian Bayu menarik napas dan bersiap untuk menyampaikan pengumuman, “Pengumuman, pengumuman.” Suara Bayu yang sedikit nge bass membuat semua anak mendengarkan suaranya dengan seksama. Suasana menjadi hening, semua mata saling pandang dan semua kuping konsentrasi mendengarkan kalimat selanjutnya yang keluar dari mulut Bayu dan menggema melalui speaker.

“Woi… hasil kelulusannya udah ada tuh, buruan kelapangan!!!” Teriak Bayu semangat, sontak saja semua anak berteriak dan berlari berebutan ke lapangan. Disana sudah terjejer papan-papan yang tertempel daftar kelulusan. Teriakan bahagia dan tangis haru membaur. Mereka semua saling memberi selamat satu sama lain.

Bayu naik keatas podium dengan gagah berani (kaya mau perang aja), “Alhamdulillah kita semua telah dinyatakan lulus pada hari ini.  Allahu akbar…” Bayu bertakbir dengan semangat, anak-anak pun  turut terbakar semangatnya.

“Biarpun Bayu udah nyakitin gw tapi dia masih keren banget yah.” Ucap cewek yang tadi hampir menangis gara-gara omongannya Bayu.

Fahmi n Gank mendekati Ical dan Andin yang berdiri di barisan paling belakang, memperhatikan hysteria cewe-cewe yang udah kepikat hatinya sama Bayu. Fahmi menaikan sikutnya ke atas pundak Ical. Ical menatap Fahmi.

“Hehehe….sorry.” Ucap Fahmi sambil cengengesan dan nurunin tangannya dari pundak Ical karena Fahmi tahu bahwa Ical menganggap hal seperti itu adalah suatu tanda penindasan.

“Tumben tuh si SiGa ngomong tanpa perwakilan, biasanya nyuruh jubir.” Ical terus memperhtikan reaksi cewe-cewe ketika Bayu sedang berbicara di podium. Si Singa Gagah (siga) adalah julukan buat Bayu sebagai siswa terganteng, terapih dan terwibawa sekaligus tergalak, kaya si raja hutan gitu.

“Kesambet setan pejuang kali. Eh sorakin yuk…” Fahmi memberi aba-aba pada ganknya.

 “Uuuuhhhh…turun…!!turun…!! turun…!!”

Swing…Pletak…buk…

”ARHK…” Fahmi jatuh karena terkena lemparan sepatu Bayu, semua berhenti bersorak. Dengan tampang sangar, Bayu turun dari podium, ia mulai berlari, semua cewe histeris, meneriakkan nama Bayu dan kata “keren”.

Bayu berhenti didepan Fahmi yang masih tersungkur dengan tampang sedikit marah, “Rasain lo!!!” Bayu mengambil sepatunya dan memakainya lagi lalu membantu Fahmi berdiri.

“Din, keren yah?” Bisik Ical.

“Keren?” Andin menatap Ical dengan aneh.

“Iya keren, sepatunya.” Ical dan Andin langsung ngakak.

Melihat mereka berdua tertawa Fahmi dan Bayu turut tertawa begitu  juga yang lainnya walau tak tau apa yang ditertawakan.

Kepala sekolah menaiki podium dan tanpa aba-aba semua langsung bubar, gak sopan banget.

Diparkiran.

“SORAK TIME…!!!” Ucap Fahmi dan Ganknya. Mereka saling memberi selamat sambil bersorak-sorak norak ala orang gila.

“STOP…” Teriak Fahmi membuat semua orang berhenti. Fahmi dengan sok gagah berjalan ke arah cewe-cewe yang kebetulan berhenti jalan karena teriakan Fahmi tadi, “Kenapa pada ngeliatin? Naksir yah?”

Sontak saja cewe-cewe itu ngelemparin Fahmi dengan kertas brosur yang tadi dibagikan. Ical, Andin, Bayu, Rudi, Koko, Jihad dan Han saling pandang.

“JITAK TIME…”  Teriak mereka dan langsung menyerbu Fahmi dan menjitakinya.

Semua yang sudah kelelahan, duduk dibawah pohon dekat parkiran, berkelut dengan pikirannya masing-masing. Mereka saling pandang , ”We are a winner!!!!” Seru mereka semangat.

Semua angkatan mereka sudah tak heran melihat kelakuan mereka yang kalo dibilang mendekati rusuh karena kalau gak ada mereka selama 3 tahun yang lalu maka gak akan ada kegiatan-kegiatan seru.

 

* * *

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s