Tak Selamanya Sama

Standar

 “Kenapa kamu gak kasih kabar sama aku?” Ucap Kia dengan emosi.

“Aku Cuma gak mau buat kamu khawatir sama aku.” Ucap Toma pelan.

“Apa kamu pikir dengan gak kasih kabar ke aku, aku gak khawatir sama kamu? Kamu salah Tom. Aku cari kamu kemana-mana, aku hubungi teman-teman kamu tapi gak ada yang tau kamu dimana sampai ibu kamu sendiri gak tau kamu dimana.” Ucap Kia sambil berusaha menahan diri.

“Maafin aku Kia, aku gak tau harus gimana lagi…gak ada yang bisa menolongku.” Toma tampak putus asa.

“Kamu anggap aku ini apa? Selama ini kamu selalu bilang sayang sama aku, tapi kenapa kamu gak bisa percaya sama aku?”

Toma teduduk dihadapan Kia, air mata yang selama ini ia tahan kini keluar begitu saja, ia kalah, ia terlihat begitu lemah di depan Kia, Kia yang seorang gadis biasa, yang tak ada hubungan darah apapun namun Toma menganggapnya sebagai seorang adik, Toma begitu lemah dihadapan Kia. Toma tak bisa berpua-pura kuat lagi. Hal ini sama seperti saat dulu.

“Tom…”Kia duduk dihadapan Toma, memeluk Toma dengan pelan.

“Aku gak kuat lagi, aku ingin pergi saja dari dunia ini.” Ucap Toma dalam keputus asaannya.

Kia memeluk Toma semakin erat, “Aku gak mau kamu kaya begini terus, Aku sayang sama kamu.”

Jauh sebelum itu terjadi. Toma dan Kia berkenalan sebagai seorang yunior dan senior di sebuah SMA. Awalnya mereka hanya saling tersenyum atau sekedar menyapa saja tapi karena sebuah peristiwa hubungan mereka berubah.

Sore itu Kia pulang paling akhir setelah rapat ekstrakulikuler. Gak sengaja Kia melihat kedalam sebuah kelas yang hanya ada Toma saja. Awalnya Kia tak mengerti apa yang dilakukan toma saat itu namun setelah memperhatikannya dengan seksama Kia tau bahwa Toma sedang mencoba melukai dirinya dengan meninjukan kepalan tangannya ke sebuah figura.

“Akh…”Kia terkejut ketika Toma benar-benar meninju berulang-ulang permukaan figura yang terbuat dari kaca hingga kaca itu hanya retak dan akhirnya hancur, begitu juga dengan tangan Toma yang akhirnya mengeluarkan banyak darah.

Kia segera menghampiri Toma yang sedang jatuh terduduk karena kelelahan. Kia memegang tangan Toma dengan lembut dan memeriksa apakah ada potongan kaca yang menancap, lalu Kia mengambil kaos miliknya didalam tasnya dan sebotol air minum. Kia juga mengeluarkan sebuah silet dari kotak pensilnya lalu dengan silet itu ia memotong kaos miliknya menjadi 2. Kia tanpa seizin toma terus membersihkan darah yang keluar dari tangan Toma yang terluka. Setelah darahnya terlihat mulai berhenti mengalir, Kia membalut tangan Toma dengan potongan kaosnya yang lain.

Setelah Kia membalut tangan Toma dengan potongan kaosnya. Toma mengangkat kepala, melihat siapa yang ada dihadapannya. Toma memandang Kia yang juga tengah memandang Toma saat itu.

“Kenapa kak Toma melakukan ini?” Tanya Kia pelan.

Pertanyaan Kia membuat kesadaran Toma kembali, Toma bangkit dan mengambil tasnya, “Terima kasih, lain kali jangan campuri urusanku.” Toma hendak beranjak dari ruangan itu.

“Oh jadi ini sosok seorang Toma yang diidolakan oleh teman-temanku, seorang juara umum, seorang yang katanya selalu maju di barisan paling depan bila ada yang menjelekkan nama sekolahnya. Jadi ini sosok Toma yang sebenarnya. Sosok yang hanya mampu menonjok kaca hingga hancur tapi tak dapat menyelesaikan masalahnya.” Kia memasukkan botol minumnya kedalam tas dan mengambil potongan kaosnya yang digunakan untuk membersihkan luka Toma.

Kia bangkit dan kini berdiri didepan Toma, “Menyesal aku morobek kaos kesayanganku dan membersihkan lukamu.” Kia melemparkan potongan kaos ditangannya ke wajah Toma. Kia lalu pergi meninggalkan Toma sendiri.

Sejak hari itu Toma selalu terlihat murung, hanya sesekali ia tersenyum ketika disapa teman-temannya. Sesekali Kia melihat Toma duduk di pojok kantin dekat pepohonan sambil mengisap rokoknya dalam-dalam. Kia gak mengerti dengan keadaan Toma saat itu yang ia mengerti adalah seseorang yang ia kenal sedang berada dikegelapan hati seorang manusia.

Siang itu Kia yang tengah asik makan siang di kantin bersama beberapa orang temannya terkejut ketika Toma menghampirinya.

“Ada apa?” Tanya Kia sedikit ketus.

Fira salah satu teman Kia menyenggol tangan Kia dengan sikutnya, Fira membisiki Kia, “Judes amet sih lo sama dia. Nanti kalau lo diapa-apain sama dia gimana?”

Kia melirik ke Fira sebentar lalu kembali berpaling kepada Toma, “Ada apa?”

“Ini ganti baju kamu yang rusak. Lain kali jangan susahkan aku untuk mencari ganti baju kesayanganmu itu.” Ucap Toma agak sedikit judes.

“Buat apa kamu ganti, akukan gak minta ganti.”

“Udah terima aja aku gak mau utang budi sama kamu.” Toma meletakkan sebuah kaos yang terbungkus rapi di atas meja di depan Kia.

Kia bangkit, “Masih bisa sombong kamu di depan aku?” Teriak Kia kepada Toma.

Toma berhenti lalu melihat sebentar kepada Kia, Toma berjalan kembali.

“Maunya apa sih tuh orang.” Kia dengan perasaan kesal duduk kembali.

“Emangnya ada apa sih sampai Toma nyamperin lo n ngasih lo nih kaos?” Tanya Salsa.

Kia terdiam memandang kaos terbungkus didepannya.

“Hei ditanya kok diam aja.” Fira menyentuk lengan Kia.

Kia bangkit dan mengambil kaos lau pergi.

“Kenapa sih Kia? Sebenarnya ada apa?” Salsa dan Fira bertanya-tanya sendiri.

***

Toma yang masih merasa kalau dunia ini begitu sempit terdiam diruang televisi di rumah Kia. Kia duduk disampingnya juga turut terdiam, sesekali Kia merapihkan rambut Toma dan memegang tangan Toma. Kia tak tahu harus berbuat apalagi dan berkata apalagi untuk menghilangkan perasaan kalut dari hati Toma.

“Aku buatkan es teh yah…” Kia berjalan ke dapur menuangkan setengah gelas air panas dan memasukkan sebungkus teh celup dan 3 sendok gula kedalam gelas itu. Mengaduknya hingga seluruh gulanya larut lalu menambahkan dengan air dingin dan beberapa potong batu es. Kia juga membawakan beberapa potong pudding dingin disebuah piring kecil.

Kia tersenyum ketika melihat Toma menyalakan televisi, “Ini aku buatkan es teh dan kubawakan pudding untuk kamu.” Kia duduk kembali disamping Toma.

Kia menatap sebentar wajah Toma, tak ada perubahan pada raut wajah Toma. Kia berusaha meminumkan Toma es teh yang ia buat namun Toma menolak. Lalu Kia menyuapi Toma dengan pudding, Toma pun menolak.

“Kamu ingin buat aku mati dihadapanmu?” Tanya Kia.

Toma melihat kearah Kia. Kia menyodorkan sesendok pudding ke mulut Toma, kali ini toma tak menolak. Hal itu membuat Kia tersenyum.

Kia terus memaksa toma untuk menghabiskan pudding dan es teh buatannya. Kia tau Toma begitu lelah bukan saja karena luapan emosinya tadi tapi juga karena sepanjang malam Toma menempuh perjalanan Palembang-jakarta.

Kia membawa Toma kekamar, memaksanya untuk berbaring. Kia melepaskan sepatu yang masih dipakai Toma dan melepaskan juga jaketnya. Toma karena kelelahan memejamkan matanya walau ia tak tidur. Kia duduk disamping Toma, memandang wajahnya lalu memeluk Toma.

“Aku akan tetap bersama kamu.” Bisik Kia di telinga Toma.

 Toma membelai rambut Kia yang dibiarkan tergerai, “Kamu terlihat cantik bila rambutmu tergerai.” Ucap Toma tiba-tiba.

Ucapan Toma membuat Kia mengeratkan pelukkannya.

***

“Hei cowok sombong…” Panggil Kia kepada Toma ketika Toma bersama teman-temannya.

“Wah kurang ajar loh manggil Toma kaya gitu.” Gerri salah satu teman Toma langsung berdiri dan menghadang Kia.

“Gw gak ada urusan sama lo, minggir dari hadapan gw.” Kia mendorong Gerri menjauh darinya. Kia segera mengahampiri Toma yang malah tak menghiraukan kedatangannya.

Kia menunggu reaksi Toma. Tapi Toma diam saja.

“Eh mau apa lo…” Ben berdiri dan menarik Kia menjauhi Toma, Ben berusaha memegang dada Kia.

“Lepaskan tangan gw, gw gak ada urusan sama lo.” Kia menampar Ben. Ben yang tak terima ditampar Kia ingin membalas namun Toma langsung berdiri.

“Mau apalagi? Kurang ganti kaos kesayangan lo?” Ucap Toma ketus.

Kia mendekati Toma, “Kau ini orang bodoh. Aku tak perlu pemberianmu ini.” Kia melemparkan kaos ditangannya ke tubuh Toma, “Harga kaos kesayanganku tak semurah harga kaos ini.” Kia lalu pergi meninggalkan Toma dan teman-temannya yang sedikit gusar dengan sikap Kia yang menurut mereka terlampau berani.

Sisa hari itu Kia terus cemberut dan merasa kesal dengan perbuatan Toma.

“Aku duluan yah. Gak enak badan nih.” Ucap Kia ketika bel tanda pulang berbunyi.

Salsa dan Fira mengangguk saja.

Kia berjalan pelan menuju gerbang depan tiba-tiba saja Gerri dan Ben menariknya.

“Lepaskan…”Kia berusaha melepaskan diri.

Kia oleh Ben dan Gerri dibawa ke sebuah kelas yang masih kosong, tangan Kia diikat dengan tali sepatu.

“Dasar cewe kurang ajar, beraninya lo nampar gw didepan anak-anak yang lain.” Ben tampak begitu ganas mencengkram lengan Kia.

“Oh…beraninya berdua yah? Sama cewe lagi? Dasar lo banci.” Ucap Kia cetus.

“Banci kata lo? Oke kita liat siapa yang banci.” Gerri mulai menarik baju Kia.

“Kuat juga nih cewe, gw mau liat sekuat apa sih lo kalo udah dipelukan gw.” Ben kini maju menggantikan posisi Gerri, Ben menarik lengan baju Kia hingga robek. Kia menjerik karena bukan saja bajunya yang robek tapi lengannya juga ikut berdarah.

Seorang cewe lewat didepan kelas yang hanya ada Kia, Ben dan Gerri. Cewe itu penasaran karena mendengar Kia berteriak, ia mengintip dari jendela paling pojok, “Kia?” Cewek itu langsung berlari kearah kelas Kia, ia kenal Kia karena dulu mereka satu ekskul.

Kebetulan Salsa dan Fira masih asik mengobrol dikelas.

“Salsa, Fira…” Panggil Nia, siswi yang melihat Kia sedang disekap oleh Ben dan Gerri.

“Nia? Kenapa lo lari-lari gitu?” Tanya Salsa.

“Kia…Kia disekap sama Ben dan Gerri dikelas pojok.” Ucap Nia terengah-engah.

“Hah…” Salsa dan Fira kaget.

“Salsa kamu cari anak-anak dan selamatkan Kia, aku akan cari Toma.” Fira langsung keluar kelas.

Salsa dan Nia saling pandang, mereka gak ngerti kenapa Fira malah mencari Toma. Mereka berdua kemudian keluar kelas dan meminta bantuan siswa dan siswi yang masih berkeliaran di jam pulang sekolah. Nia menunjukkan kelas mana yang menjadi tempat Kia disekap.

Anak-anak yang mendengar keterangan dari Nia langsung saja mendobrak pintu yang diganjal meja oleh Ben dan Gerri. Tanpa basa-basi lagi mereka langsung menarik tubuh Ben dan Gerri menjauhi Kia yang bajunya sudah robek-robek. Salsa dan beberpa siswa yang ikut dalam penggebrekan itu segera menghampiri Kia yang keadaannya sungguh merisaukan dan bajunya yang  sobek-sobek memperlihatkan bekas luka cakaran yang dilakukan Ban dan Gerri. Sedangkan siswa-siswa mengepung Ben dan Gerri yang sudah siap dalam posisi berantem. Kalau para siswa itu sendiria mereka pasti takut dengan Ben dan Gerri selain tubuh meeka kalah besar maereka juga tak punya pengalaman berantem seperti Ben dan Gerri yang udah jadi pentolan jika terjadi tawuran.

“Tunggu…” Teriak Toma tiba-tiba. Toma langsung menghampiri Kia yang setengah sadar. Toma melepaskan jaketnya dan menutupi tubuh Kia, “Kamu gak apa-apa?” Tanya Toma pelan.

Kia mengangguk.

Toma bangkit, mendekati Ben dan Gerri. Toma memandang kedua temannya itu, “Binatang kalian.” Toma langsung menghajar wajah Ben dan Gerri dengan sekali pukul lalu hidung mereka mengeluarkan darah dan mereka tersungkur tak berdaya. “Ikat mereka dan laporkan kepada pihak sekolah.” Perintah Toma kepas siwa-siswa yang mengepung Ben dan Gerri tadi.

Toma mendekati Kia yang kini benar-bener pingsan. Toma mengangkat tubuh Kia keluar dari kelas dan menuju keruang kesehatan.

Fira yang datang terakhir, datang bersama beberapa guru laki-laki. Guru-guru itu langsung membawa Ben dan Gerri ke kantor guru. Siswa dan siswi mengikuti guru-guru  yang membawa Ben dan Gerri.

Salsa yang mengikuti Toma dan Kia ke ruang kesehatan segera mencari perawat sekolah. Perawat itu terkejut dengan keadaan Kia ditambah setelah jaket yang menutupi tubuh Kia dibukanya. Beberapa luka cakaran mengeluarkan darah dan yang lainnya segera bengkak dan membiru. Toma yang tidak diizinkan untuk melihat perawatan Kia menunggu di depan ruang kesehatan.

“Kenapa jadi begini?” Keluhnya berkali-kali.

Fira datang dan melihat Toma yang tampak shok dengan kejadian itu, secara Ben dan Gerri itu temannya, “Mana Kia?”

“Didalam.”

“Bagaimana keadaannya?”

Toma menganggkat bahu.

“Kamu tau kalu hal ini akan terjadi?”

Sekali lagi Toma menganggkat bahunya, “Semua salahku.” Toma memandang langsung ke mata Fira.

Fira tersenyum, “Kia pasti membela kamu jika kamu memang tidak terlibat, apalagi banyak saksi yang mendukung kamu.” Fira masuk keruang kesehatan.

“Fira…” Ucap Salsa sambil menahan air matanya.

“Bagaimana Kia?” Tanya Fira sambil memeluk Salsa.

“Ia tidak apa-apa, hanya kelelahan dan lukanya sudah saya obati, untung tidak terjadi lebih dari ini. Kalian berdoa saja yah. Oh iya bisa carikan baju ganti untuk Kia?”

Fira mengangguk, “Kamu tunggu Kia saja.” Ucap Fira pada Salsa.

Fira keluar dri ruang kesehatan dengan terburu-buru.

“Fira tunggu…gimana keadaan Kia?” Toma mengejar Fira.

“Fira gak apa-apa hanya kelelahan dan tubuhnya penuh luka, tapi sudah diobati kok. Aku mau cari baju ganti untuk dia.” Fira berjalan cepat kekelasnya untuk mengambil tasnya dan tas Salsa terlebih dahulu sedangkan tasnya Kia tadi dibawa ke kantor guru.

“Aku ada kaos yang tadi dikembalikan oleh Kia.” Ucap Toma yang mengikuti Fira.

Fira tersenyum, “Syukurlah. Tolong ambilkan tas Kia di kantor yah dan belikan minum dan roti untuk Kia.”

Toma mengangguk dan langsung memberikan kaos ditasnya kepada Fira.

Pakaian Kia yang robek-robek segera diganti dengan kaos dari Toma oleh perawat dibantu oleh Salsa dan Fira.

***

Toma terbangun dari tidurnya dan ia mendapati Kia tertidur di samping tempat tidur sambil menggenggam tangan Toma. Toma melepaskan genggaman tangan Kia dan kemudian menganggkat Kia keatas tempat tidur. Toma membiarkan kia beristirahat.

Toma memutuskan untuk membersihkan badannya dan mengganti  pakaiannya dengan pakaian yang ia bawa dari Palembang. Toma membuatkan susu hangat untuk Kia. Ketika Toma masuk kekamar kembali ia lihat Kia sudah terbangun dan sedang menatap kearah awan yang terlihat dari jendela.

Toma duduk dan meletakkan susu hangat di meja lampu, “Aku berkali-kali membuat kamu susah dan menangis, maafkan aku.”

Kia menyentuh pelan bahu Toma lalu memeluknya dari belakang, “Kini harga hubungan kita jauh lebih mahal dari harga kenangan kaos kesayanganku.”

Toma tersenyum, “Sekarang giliranmu meminum susu buatanku.” Dari suara Toma, Kia tau Toma berusaha tegar.

“Apa saja yang terjadi padamu setelah aku pergi?” Tanya Toma sambil memperhatikan cara minum Kia.

Kia hanya tersenyum. Kia menghabiskan susu buatan Toma lalu Kia pergi mandi agar tubuhnya lebih segar.

“Kita cari makan diluar yah.” Ucap Toma sebelum  Kia masuk kamar mandi.

Kia tersenyum pada Toma, “Biar aku yang traktir kamu.”

Toma membalas senyuman Kia.

Toma yang kini sendirian, hanya menatap ke awan diluar jendela. Sesekali ia melihat burung-burung yang berterbangan dari dahan yang satu ke dahan yang lain pada pohon dihalaman samping rumah Kia.

Kia yangsudah keluar dari kamar mandi dan sudah berpakaian lengkap menyisir rambutnya yang basah didepan cermin, “Kau suka rumahku?”

“Ya aku suka.”

Toma dan Kia akhirnya memutuskan mencari makan siang itu kesalah satu mal terdekat dari rumah Kia. Kia memutuskan mengajak Toma makan di sebuah restoran.

“Kamu mau makan apa?”

“Kamu saja yang pilihkan, kamukan tau seleraku.”

Kia memesan beberapa menu makanan dan minuman.

“Nanti temani aku temui Ibu.” Pinta Toma.

Kia mengiyakan permintaan Toma.

***

Kia membuka matanya dan ia melihat Salsa dan Fira berada disampingnya. Terlihat senyuman lega pada kedua wajah temannya.

“Syukurlah kamu udah sadar.” Ucap Toma yang tiba-tiba muncul di belakang Salsa dan Fira.

“Kami tinggal kalian yah.” Salsa menggandeng tangan Fira untuk menjauh dari Kia dan Toma.

“Maafkan aku, gara-gara aku kamu jadi seperti ini. Kamu gak diapa-apainkan sama Ben dan Gerri, tenang sja mereka sudah diamankan, aku juga sudah menghajar mereka.” Ucap Toma sambil memegang tangan Kia.

“Aku tau kamu gak terlibat dengan mereka, aku tau walaupun kamu sering membuat ulah tapi kamu masih sangat menghargai perempuan.” Kia membesarkan hati Toma.

Toma tersenyum, “Kamu lapar atau haus?”

Kia mengangguk lalu Toma meminumkan air mineral padanya dan menyuapinya dengan roti.

“Duh romantis banget sih.” Goda perawat yang tiba-tiba datang, “Kia saya periksa dulu yah keadaan kamu.” Perawat kembali memriksa tensi darah dan detak nadi Kia.

“Istirahatlah sebentar lagi baru kamu boleh pulang.” Saran perawat itu.

“Kia bagaimana keadaan kamu?” Tanya pak Raden Pembina kesiswaan.

“Udah baikkan pak.” Jawab Kia pelan.

“Boleh saya bertanya tentang kejadian tadi?”

Kia tersenyum lalu Kia mulai menceritakan semua kejadian dari kejadian dikantin hingga akhir kejadian yang membuat Kia luka-luka dan pingsan.

Pak Raden manggut-manggut, “Baik mereka akan saya laporkan kepada polisi. Lagi pula mereka juga telah mengaku memang merencanakan pemerkosaan terhadap kamu.”

Kia melirik Toma yang menunduk.

“Pak, Toma gak terbawa kasus ini kan?”

Pak Raden tersenyum, wajah pak Raden memang cukup sangar tapi wajahnya bersih tanpa kumis dan jenggot.

“Kalian tenang saja Toma bukan sebagai tersangka hanya sebagai saksi karena ia telah menolong kamu. Sekarang kamu istirahat saja, nanti biar bapak yang anntar kamu pulang.”

“Jangan pak Biar saya saja yang mengantar Kia pulang.” Ucap Toma.

“Ya sudah nanti kita sama-sama antarkan Kia pulang. Bapak kembali kekantor yah.”

Kia dan Toma mengangguk.

“Kia terima kasih telah melindungiku.”

Kia tersenyum, “Aku juga pernah merasakan sepertimu, merasakan bahwa dunia ini tak adil dan akupun pernah mengakiti diriku sendiri. Tapi aku kini sadar dan tak mau ada orang lain yang merasakan hal itu. Jangan lukai dirimu lagi, bukan hanya dirimu saja yang terluka tapi orang-orang yang peduli padamu pun akan terluka.”

Toma tersenyum dan mengukir kata-kata Kia itu didalam hatinya.

Ketika Kia sampai dirumah bersama Pak Raden, Toma, Salsa dan Fira. Mamanya Kia langsung menangis meraung-raung untung. Namun orang tuanya kia bersikap bijaksana karena tau kedua pelaku telah ditahan polisi mereka tak membawa-bawa pihak sekolah.

Saat itu Salsa, Fira dan Toma mengantar Kia ke kamarnya. Tiba-tiba saja Toma mengecup kening Kia.

“Semenjak kejadian itu aku sadar, aku begitu lemah dibalik sikapku selama ini. Aku bersalah padamu dan semua orang, maafkan aku.” Ucap Toma tiba-tiba, Kia hanya tersenyum. “Aku akan selalu menjagamu.”

***

Toma menangis dipelukan ibunya hampir 2 tahun ia tak bertemu dengan ibu yang sangat ia sayangi apalagi semenjak Toma kehilangan sosok seorang ayah, hanya ibunya yang menjadikannya tetap semangat menjalani hari-harinya.

Ia hanya menangis dan tak berkata apa-apa walaupun ibunya berusaha mencari keterangan kemana ia selama ini. Setelah air matanya tampak enggan mengalir lagi ia pergi lagi, meninggalkan ibunya yang terus memanggil dan menangisi kepergiannya yang tanpa kata-kata.

“Kia kenapa kau diam saja?” Tanya Toma tiba-tiba saja.

“Aku yang seharusnya bertanya padamu, mengapa kau hanya menangis didepan ibumu, tak kasihan kau terhadapnya?” Ucap Kia ketus.

Toma memandang Kia, “Bukan aku tak mau bicara padanya namun aku tak kuat berbicara padanya.” Toma terdiam dan terus melajukan kendaraannya. “Aku sayang padanya dan juga sayang padamu.”

Kia terdiam memikirkan sesuatu, “Apa yang kau lakukan selama ini?”

Toma menengok ke arah Kia lalu dengan cepat ia kembali focus mengendarai mobilnya.

“Entahlah…awalnya aku hanya ingin liburan saja tapi seseorang menawarkanku pekerjaan yang gajinya lumayan. Disana pula aku menemukan seorang wanita.”

“Kau menyukai wanita itu? Atau bahkan kau sudah mencintainya?” Tanya Kia tanpa merubah raut wajahnya.

“Aku menyukainya tetap ia…”

“Apa? Tetapi ia apa? Memanfaatkanmu?” Kia semakin ketus dengan nada bicaranya.

Toma terdiam, lalu ia bicara tegas, “Ya ia memanfaatkanku, kau puas dengan keadaanku?”

Kia tak menjawab pertanyaan Toma.

“Kenapa sekarang kau diam? Jawab pertanyaanku,kau puas dengan keadaanku yang selalu dimanfaatkan oleh wanita?”

Kia tertawa sinis, “Kau mau tau jawabanku? Aku sungguh kasihan padamu.”

“Aku tak butuh belas kasihanmu.” Ucap Toma tegas.

Kia tertawa, “Tak butuh katamu? Kau tak ingat awal hubungan kita? Jangan membohongi dirimu sendiri, kau kesepian dan kau sangat ingin menerima perhatian dan belas kasihan dari orang lain.”

Toma terlihat sedikit marah, ia mempercepat laju kendaraannya.

“Tambah saja kecepatan mobilmu, aku tak peduli, bahkan jika aku mati karena kecelakaan semua itu karena kau, kau akan sangat merindukanku, ingat itu dalam benakmu.” Kia tak terlihat tegang sama sekali.

***

Seminggu Kia tak masuk sekolah, itu bukan keinginannya tapi keinginan orang tuanya. Orang tua Kia masih khawatir dengan keadaan Kia. Padahal Kia hanya merasa trauma sedikit namun karena Toma telah berjanji menjaganya Kia merasa lebih tenang.

Salsa dan Fira yang mendengar sendiri Toma berjanji akan menjaga Kia tak habis pikir dengan hal itu, bagaimana bisa Toma berjanji seperti itu pada Kia, apa karena Toma merasa turut bersalah pada Kia atas perbuatan Ben dan Gerri, atau ada hubungan khusus diantara mereka. Salsa dan Fira hanya tau beberapa kejadian mengenai mereka, kejadian dikantin pada saat Toma dengan paksa memberikan sebuah kaos dan ketika kejadian ketika Kia dengan paksa dan sedikit berani melemparkan kaos pemberian Toma. Lebih dari itu mereka tak tahu apa-apa.

Pagi itu Toma menjemput Kia dengan motor. Kia tak keberatan Toma menjemputnya namun mama Kia berkali-kali mengingatkan Toma untuk tidak memacu kendaraannya terlalu cepat.

Tak jauh dari rumah Kia, tepat disebuah lampu merah yang lampu merahnya menyala tiba-tiba Toma menarik tangan Kia agar Kia mengencangkan pegangannya pada Toma. Kia menurut saja.

Ditengah perjalanan Toma berbicara, “Bagaimana kabarmu?”

Kia tersenyum walau Toma tak melihat senyumannya, “Aku baik.”

“Kau tak takut bila Ben dan Gerri mencarimu?”

Kia menggelengkan kepalanya, “Tidak, kan ada kamu.”

Toma tersenyum saja, “Aku tak punya seorang adik, mau jadi adikku?”

Kia mengangguk, “Menyenangkan pasti bila kau menjadi kakakku.”

Disekolah.

“Kia…” Panggil Salsa dan Fira.

“Salsa, Fira…aku kangen banget sama kalian.” Kia memeluk keduanya.

“Ehm…”Toma berdehem dibelakang Kia.

Kia melepaskan pelukkannya pada kedua temannya lalu tersenyum pada Toma.

“Aku duluan yah.”

Kia mengangguk, “Nanti aku traktir kamu makan siang? Mau?”

Toma menengok pada Kia lalu tersenyum.

“Cie…cie…dapet gebetan baru nih…” Goda Fira.

“Ih Fira jangan suka ngeledek deh, nati malah jadi cemburu loh…” Elak Kia.

“Nanti kita juga ditraktirkan? Masak Toma doang sih yang ditraktir.” Salsa merajuk pada Kia.

“Iya dong nanti kalian juga aku traktir kok, udah yuk ke kelas, aku kangen sama yang lain.” Kia menggandeng tangan kedua sahabatnya.

Sejak saat itu Kia, Fira dan Salsa menjadi akrab dengan Toma tapi tetap saja Toma lebih akrab dengan Kia. Sejak berteman dan menganggap Kia sebagai adiknya tak pernah lagi Toma membuat ulah, yah hanya sesekali saja ia pernah berantem, Toma masih susah lepas dari sifat egoisnya ia masih begitu temperament.

***

Toma tak sadarkan diri sepenuhnya, ia hanya melihat bayangan orang berlalu lalang didepannya, disana ramai sekali, ia tak tahu ada apa.

Toma kehilangan kesadarannya.

“Tolong selamatkan ia.” Ucap seorang wanita yang menggandeng seorang anak laki-laki kira-kira berusia 6 tahun

Beberapa perawat segera membawa orang yang dimaksud wanita itu ke ruang ICU, seorang lagi menanyai wanita yang membawa orang tersebut bersama seorang polisi.

“Tenang bu…kami sedang berusaha menyelamatkan jiwanya. Apa ibu mngenal laki-laki itu?” Tanya perawat yang dari papan namanya dapat diketahui bahwa namanya adalah Nina.

“Ya, saya tau siapa dia…” belum selesai wanita itu menjawab, wanita itu menangis kembali.

Perawat lain datang sambil membawakan segelas teh hangat lalu perawat yang menemani wanita itu yang meminumkannnya.

“Siapa dia?” Tanya polisi yang dari tadi mendampingi wanita itu dari tempat kejadian.

“Dia suamiku. Sudah lebih dari setahun ia menghilang, sudah seluruh kota di sekitar Jakarta aku mencarinya, namun aku menemukannya dalam keadaan yang sangat mengenaskan.” Ucap wanita itu dengan lebih tenang.

“Ibu melihat kejadian itu?”

Wanita itu menggelengkan kepala, “Saat itu aku baru turun dari angkutan umum, karena penasaran dengan kerumunan orang maka aku melihat apa yang dilihat mereka, tak sangka suamiku sendiri yang menjadi korban.”

Polisi itu menganggukkan kepalanya, lalu Hp-nya berbunyi. Polisi itu mengangkatnya agak jauh dari wanita yang masih menangis dan terus menggenggam tangan anak laki-lakinya dan 2 orang perawat yang berusaha menenangkannya.

Semua terlihat putih, sesuatu sangat mengengat hidungnya, sesaat ia sulit bernapas lalu mulai terbiasa dengan bau itu maka napasnya kembali normal.

Semua terlihat semakin jelas. Ia sendirian berada disebuah ruangan berwarna putih. Ia merasakan rasa nyeri dibeberapa tempat. Ia juga sempat melihat infuse ditangannya. Ia memandang langit-langit ruangan itu.

Seseorang menyadarkannya dari lamunan, seorang wanita memegang tangannya, ia hanya memandang wanita itu namun ia tak berusaha berfikir siapa dia.

“Sayang…” Panggil wanita itu tiba-tiba.

Toma yang ternyata adalah laki-laki yang terbaring lemas didepan wanita itu dan yang dipanggilnya sayang mulai berusaha berfikir, siapa wanita itu.

“Kau baik-baik saja, kau ingat siapa aku?”

Toma tak menjawab dan hanya mengangguk saja.

Wanita itu tersenyum, “Aku Mila, istrimu, syukurlah kau selamat dari kecelakaan itu?”

Toma tersentak dan langsung terduduk, “Kia…mana Kia?”

Wanita itu lebih tersentak dengan kata-kata Toma.

“Mana Kia? Dimana dia? Aku harus menemuinya?” Toma berusaha turun dari tempat tidur.

Beberapa perawat masuk dan menghalangi Toma turun dari tempat tidurnya.

“Mana Kia? Mana Kia?” Toma terus berteriak-teriak menanyakan keberadaan Kia.

Wanita yang tadi bersamanya menangis kembali melihat keadaan suaminya.

“Mari bu kita keluar, biar pak Toma diperiksa terlebih dahulu.” Seorang wanita mengajak wanita bernama Mila yang ternyata istri Toma keluar dari ruangan itu. Seorang anak yang dijaga seorang perawat segera menyongsongnya.

Wanita itu terus menangis sambil memeluk anaknya.

“Bu…tenang bu.” Perawat itu berusaha menenangkan Mila.

Mila meredakan tangisnya, “Bagaimana saya bisa tenang jika suami saya yang baru saya temui, terus menerus memanggil nama wanita yang meninggal 2 tahun lalu” Ucap mila dengan emosi.

***

Aku adalah Rafael, anak dari seorang laki-laki yang hanya mengingat wanita lain bukan ibuku sendiri.

Aku kenal dengan wanita yang saat ini selalu dipanggil oleh ayahku, ia sudah aku anggap tanteku sendiri namanya Kia. Awalnya ayahku hanya mengatakan padaku dan pada ibuku ia hanya seorang adik baginya, namun makin lama perasaan itu berubah.

Setelah kecelakaan yang mengakibatkan tante Kia meninggal, ayahku merasa bersalah dan terus murung sampai ia akhirnya pergi dari rumah dan kami bertemu kembali 2 tahun setelah itu.

Setelah tante Kia meninggal ayah sering berbicara sendiri sambil menyebut-nyebut nama Kia. Aku memang saat itu belum mengerti tapi sekarang aku sudah 16 tahun dan aku baru sadar apa yang terjadi salama ini.

Entah wartawan siapa yang tega memasukkan cerita ayahku ke dalam media masa, membuka aib keluargaku. Namun dibalik semua itu aku bersyukur karena aku dapat tahu apa yang terjadi pada ayahku.

Seseorang dari Palembang menelepon ke wartawan itu tentang apa yang ayah lakukan selama 2 tahun disana.

Dari curi dengar percakapan ibu dan wartawan itu aku menceritakan kembali keadaan ayahku di Palembang.

Di Palembang, ayahku awalnya biasa saja, tak terlihat keanehan pada sikapnya. Ia sering menyapa dan tersenyum pada orang-orang tempatnya tinggal. Namun setelah beberapa bulan ia mulai berubah, itu kata orang yang menelepon sang wartawan. Ayah menjadi selalu diam bahkan ketika ada yang menyapanya. Jika ia sedang baik, ia seperti dulu, saling menyapa dan memberikan senyuman. Salah satu tetangganya disana pernah bertanya mengapa ayahku kini sering keluar rumah, ayahku hanya berkata ia mendapatkan pekerjaan dengan gaji yang bagus. Memang apa yang dikatakan ayah itu benar, tak lama setelah itu ia membeli sebuah mobil sedan.

Beberapa bulan kemudian ada seorang gadis main ke rumah ayah. Disana mereka bagaikan sepasang kekasih. Tetangganya tak ada yang protes pada ayah karena mengundang seorang wanita tanpa ada siapaun lagi selain mereka berdua, itu karena ayah selalu mengajaknya berbincang diteras rumah saja walau mereka begitu mesra. Para tetangga ayah tak ada yang tahu jika ayah sudah mempunyai aku dan ibu sehingga mereka membiarkannya saja. Tapi tak lama wanita itu tak terlihat lagi bersama ayahku dan sejak saat itu ayahku benar-benar tak peduli pada lingkungannya. Itu sudah lewat 1 tahun.

Hampir 6 bulan ayahku seperti orang gila saja, kadang dirumahnya sendiri ia menangis, marah dan tertawa sendiri. Tapi aku rasa ia tak sadar akan hal itu, mungkin ia merasa tante Kia ada bersamanya.

Entah mengapa tiba-tiba ayah menjual rumahnya lalu menghilang begitu saja. Hanya itu yang kudapat dari percakapan ibu dengan wartawan itu.

Tak  lama seseorang menelepon, kali ini seorang wanita. Ibu menangis-nangis kala itu. Aku mencuri dengar dari telepon yang lain.

Wanita itu ternyata kenalan ayahku ditempat kerjanya, ia menceritakan tentang hubungan ayahku dan gadis itu. Suatu kali gadis yang menjadi kekasih ayahku datang padanya dan bercerita tentang hubungan mereka. Gadis itu berkata ayahku gila karena setiap kali mereka bicara serius pastilah kata Kia yang keluar, hal itu yang membuat ibuku menangis. Tapi wanita itu, orang yang menjadi kenalan ayahku serta dekat dengan gadis itu tahu bahwa gadis itu hanya memanfaatkan ayahku saja, dari ayahku ia telah mendapatkan perhiasan, alat elektronik untuk kosannya dan sebuah motor. Ibuku menangis semakin menjadi-jadi meski suaranya berusaha ditahan, ia menangis karena suami yang telah disayanginya setulus hati ternyata dimanfaatkan oleh orang lain dan tak mengingat tentang keluarganya di tanah jawa.

Satu lagi keterangan yang tak diketahui oleh ibuku. Aku mengunjungi penjaga rumah ayahku yang masih 1 kota dengan rumahku kini. Darinya aku tahu bahwa sekembalinya ia ke pulau jawa ia tinggal dirumah itu lebih dari seminggu namun tiba-tiba ayahku ketika masuk ke rumah ia menangis dan meminta maaf kepada seseorang dan tentu saja ia meminta maaf kepada Kia.

Hingga sekarang aku rasa ayah tak ingat bahwa Kia, yang ia katakan pada dunia bahwa Kia adalah adiknya namun di dalam hatinya ayahku menganggap bahwa Kia-lah cinta sejatinya telah meninggal setelah kecelakaan 2 tahun sebelum kecelakaan ke 2 bagi ayahku. Pikiran ayahku tak urut, ia hanya menginat beberpa kejadian saja secara acak oleh karena itu ia tak ingat bahwa Kia telah meninggal dalam pelukkannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s